Plt Direktur RSUD M Sani Buka Suara terkait Dugaan Dokter IGD Tolak Rawat Inap Pasiennya

Karimun – Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muhammad Sani yang menjadi sorotan gara-gara ada seorang pasien ditolak mendapatkan layanan rawat inap oleh dokter jaga di ruang IGD (Instalasi Gawat Darurat), mendapat tanggapan Plt Direktur, Dedi.

Dedi mengklarifikasi, bahwa situasi yang terjadi tidak seperti yang disampaikan keluarga korban kepada media massa. Setelah menggelar pertemuan dengan tim medis termasuk dokter bersangkutan, situasi yang digambarkan pasien dan keluarganya, tidak sepenuhnya benar.

“Sebenarnya kami sudah memanggil pasien dan keluarganya untuk dimediasi dan mencari titik permasalahannya, namun tidak mendapat respon. Menurut dokter dan tim medis yang berjaga saat kejadian tidak sepenuhnya benar,” jelasnya.

Dedi mengatakan, tim medis mengatakan sudah bekerja sesuai prosedur yang diterapkan RSUD M Sani.

“Dari informasi yang kami dapat dari dokter dan tim medis lainnya, keluarga korban memaksa dokter untuk memberikan rekomendasi rawat inap, sementara saat ini belum diperiksa secara intensif, tapi si keluarga korban sudah meradang, marah-marah. Bahkan, ada nada ancaman ke dokter,” ungkap Dedi yang didapatnya dari pihak medis.

Sebelumnya dikabarkan, pada Jumat (28/3/2025) pukul 18.00 WIB, seorang pasien bernama Arbaiyah dirujuk ke IGD RSIUD M Sani. Kedatangan pasien bersama anaknya ini untuk mendapatkan pemeriksaan terhadap si pasien.

“Di sana kami jumpa sama dokter. Dokter menanyakan apa yang dirasa dan apa kondisi ibu saya. Setelah itu dia bilang kalau ini hanya demam tidak ada indikasi gawat darurat,” ujar Mariana selaku anak pasien kepada media ini sebelunnya.

Mengingat kondisi si ibu tak memungkinkan untuk dibawa ke rumah, kemudian Marian berujar ke dokter jaga tersebut,” kalau bisa tolong dirawat dok, sebab di rumah menggigil hebat karena sering dirawat di sini dan dokter Ardy spesialis penyakit dalam yang sering merawat ibu pernah bilang, kalau demam dan menggigil harus segera ke RSUD sebab berarti ada infeksi,” ujar Mariana.

Yang membuat Mariana dan Arbaiyah kecewa adalah tanggapan dan jawaban si dokter yang langsung menyulut emosi si pasien dan keluarganya.

“Dokter itu bilang, Anda dengar gak maksud saya. Disini saya yang dokternya, saya yang g bisa memberikan (keputusan, red), bisa di rawat atau gaknya,” ujar Marinan menirukan ucapan si dokter.

Yang membuat kecewa, dokter hanya memeriksa tanpa melakukan cek darah atau tindakan apapun untuk dilakukan. “Hanya pemeriksaan tensi dan lain-lain saja. Lalu disuruh pulang, padahal ibu saya sangat menderita sakitnya,” kata Mariana lagi.

Kemudian, Mariana dan Arbaiyah menanyakan ke dokter tersebut,“saya bilang ini rumah sakit, ibu saya sakit tapi kenapa gak bisa diobati?” ujarnya kepada dokter.

Yang membuat kecewa pasien dan keluarganya, si dokter dengan nada emosi dan berkata-kata dengna nada kasar kepada si pasien berujar,”kalau demam bukan ke sini harusnya,” ujar Mariana menirukan ucapan si dokter.

Kemudian Arbaiyah bertanya lagi ke dokter, “jadi saya harus kemana, dok? Terus dia jawab gak bisa dirawat, di sini bukan hotel yang bisa seenaknya kalian nginap,” ujar Mariana menirukan ucapan si dokter yang membuatnya sangat kecewa.

Atas kejadian ini, Mariana mengatakan menyampaikan keterangan ini kepada khalayak melalui media ini, agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.

Atas kejadian tersebut, Dedi mengatakan agar menjadi perhatian bersama, khususnya masyarakat yang menggunakan jasa RS pelat merah tersebut. “Kita harapkan masyarakat juga bijak menyikapi kerja tenaga medis. Jika memang tak perlu dirawat jangan memaksakan, dokter pasti punya pertimbangan,” jelasnya. (msa)