NATUNA – Semangat nasionalisme dikobarkan Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Natuna dalam menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sebanyak 20 personel SAR mengarungi perairan Natuna sejauh 112 mil laut menggunakan perahu karet sambil membagikan bendera Merah Putih kepada masyarakat pesisir dan nelayan, Rabu (12/8/2026).
Kegiatan bertajuk estafet sailing Merah Putih tersebut menjadi bagian dari rangkaian pengabdian SAR Natuna dalam menyemarakkan HUT ke-81 RI sekaligus memperkuat semangat kebangsaan di wilayah perbatasan dan kepulauan.
Kepala Kantor SAR Natuna, Abdul Rahman, mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi simbol perayaan kemerdekaan, tetapi juga menjadi momentum untuk mendekatkan insan SAR dengan masyarakat, khususnya para nelayan yang sehari-hari beraktivitas di laut.
“Tidak sekadar berlayar. Kami ingin hadir bersama masyarakat, khususnya para nelayan. Dengan membagikan bendera Merah Putih di tengah laut, kami ingin terus membangun semangat rasa cinta tanah air. Di saat yang sama, kami juga memberikan edukasi tentang pentingnya alat keselamatan saat berlayar,” ujar Abdul Rahman.
Tempuh 112 Mil Laut, Singgahi Sejumlah Pelabuhan
Dalam kegiatan tersebut, rombongan menempuh rute sepanjang 112 mil laut dengan titik keberangkatan dari Pelabuhan Penagi.
Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menyinggahi sejumlah pelabuhan, yakni Pelabuhan Teluk Buton, Pelabuhan Klarik, dan Pelabuhan Selat Lampa, sebelum kembali ke Pelabuhan Penagi.
Sebanyak 20 personel SAR terlibat langsung dalam pelayaran, sementara 10 personel lainnya mendukung kegiatan dari darat.
Dukungan personel tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan lancar, sekaligus menunjukkan bahwa pengabdian SAR tidak hanya berkaitan dengan operasi pencarian dan pertolongan, tetapi juga dengan edukasi serta pelayanan kepada masyarakat.
Dalam pelayaran itu, SAR Natuna mengerahkan dua alat utama, yakni rubber boat jenis Avon bermesin 40 PK dan Slingger bermesin 30 PK. Seluruh personel yang berada di laut dibekali perlengkapan keselamatan berupa life jacket serta radio komunikasi.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk komitmen terhadap keselamatan personel dan penerapan prinsip zero accident selama kegiatan berlangsung.
Bagikan Bendera Sekaligus Edukasi Keselamatan Laut
Di setiap titik persinggahan, personel SAR tidak hanya membagikan bendera Merah Putih kepada masyarakat dan nelayan.
Mereka juga memberikan edukasi mengenai keselamatan pelayaran. Materi yang disampaikan antara lain pentingnya memperhatikan prakiraan cuaca sebelum melaut, penggunaan alat keselamatan secara benar, serta langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi kondisi darurat di laut.
Masyarakat juga diingatkan mengenai nomor darurat SAR nasional 115 yang dapat dihubungi ketika membutuhkan pertolongan dalam kondisi kedaruratan.
Menurut Abdul Rahman, pendekatan tersebut menjadi bagian penting dari tugas SAR untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap keselamatan sekaligus memperkuat hubungan antara petugas SAR dan masyarakat pesisir.
“Menjadi wujud nyata semangat nasionalisme insan SAR untuk negeri di tengah-tengah masyarakat pada peringatan HUT RI ke-81,” tegasnya.
Nasionalisme dari Ujung Negeri
Natuna sebagai wilayah kepulauan dan perbatasan memiliki karakter geografis yang membuat laut menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, kehadiran SAR di tengah masyarakat pesisir dinilai memiliki makna lebih dari sekadar kegiatan seremonial.
Melalui pelayaran Merah Putih sejauh 112 mil laut tersebut, SAR Natuna ingin menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan dapat diwujudkan melalui pengabdian, kepedulian, keselamatan, serta kehadiran negara di tengah masyarakat.
Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun 2026 mengusung semangat “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.” Semangat tersebut diterjemahkan SAR Natuna melalui kegiatan yang memadukan nasionalisme dengan edukasi keselamatan dan pelayanan kemanusiaan.
Dari laut Natuna, kibaran Merah Putih menjadi simbol bahwa semangat menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak berhenti di pusat pemerintahan, tetapi juga hadir hingga wilayah terluar dan perbatasan negeri. (Rap)



