Penulis: Adiya Bapriyanto, Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan STISIPOL Raja Haji, Tanjungpinang
Setahun terakhir, Karimun diguncang gelombang kasus bunuh diri yang mengejutkan. Bukan satu atau dua, melainkan sudah berkali-kali terjadi, hingga meninggalkan luka mendalam di tengah masyarakat.
Fenomena ini jelas bukan sekadar tragedi personal, melainkan potret telanjang dari tekanan sosial, ekonomi, dan psikologis yang gagal ditangani oleh pemerintah. Ironisnya, setiap kali ada nyawa melayang, respons pemerintah tak pernah lebih dari sekadar kalimat belasungkawa—seolah simpati bisa menggantikan nyawa yang hilang.
Pertanyaannya, sampai kapan kita terus membiarkan rakyat mati dalam keputusasaan, sementara pemerintah hanya berdiri sebagai penonton? Belasungkawa tidak akan menghentikan korban berikutnya.
Yang dibutuhkan rakyat Karimun adalah keberanian politik dan keberpihakan nyata: kebijakan terukur, sistem perlindungan yang bisa dirasakan, serta langkah konkret untuk mencegah krisis yang kian nyata. Fakta bahwa begitu banyak warga memilih mengakhiri hidup adalah tamparan keras bahwa pemerintah selama ini gagal hadir di tengah rakyatnya.
Lebih menyakitkan lagi, di tengah situasi darurat kemanusiaan ini, pemerintah justru sibuk dengan panggung seremonial sementara pembangunan mental masyarakatnya terbaikan. Padahal, satu nyawa yang hilang bukan sekadar angka statistik, melainkan alarm keras yang seharusnya mengguncang hati nurani.
Bukankah Bupati dan Wakil Bupati Karimun pernah mengumbar janji dengan program Kartu Satu melalui jargon “Karimun Sehat”? Pertanyaannya sederhana: sehat untuk siapa? Sehat bukan hanya urusan jasmani, tetapi juga rohani. Sayangnya, roh masyarakat yang kian terhimpit justru dibiarkan merana.
Sudah saatnya pemerintah berhenti bersembunyi di balik kata-kata manis. Karimun membutuhkan layanan konseling gratis, hotline krisis 24 jam, program kesehatan jiwa di sekolah dan desa, hingga kebijakan ekonomi yang benar-benar menyentuh lapisan bawah. Jangan tunggu tragedi berikutnya baru pura-pura peduli.
Setiap bunuh diri adalah tragedi kemanusiaan sekaligus bukti nyata kegagalan negara hadir. Jika pemerintah tetap memilih jalan aman dengan sekadar mengucap belasungkawa, maka sejarah akan mencatat bahwa di Karimun, rakyat mati dalam keputusasaan sementara pemimpinnya sibuk menjaga citra. (***)




