NATUNA – Kondisi ketersediaan air baku di sejumlah sumber air Kabupaten Natuna dilaporkan semakin kritis. Di tengah menurunnya debit air tersebut, sejumlah warga meminta Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Nusa kembali menyalurkan air dari Embung Sebayar.
Direktur PDAM Tirta Nusa, Zaharuddin, mengatakan debit air di sejumlah sumber yang menjadi andalan PDAM, termasuk kawasan Gunung Ranai dan Gunung Sebayar, terus mengalami penurunan.
“Kondisi debit air yang berada di sumber kami di Gunung Ranai dan Gunung Sebayar sampai hari ini terpantau betul-betul semakin kritis sekarang hanya 20 persen lagi,” ujar Zaharuddin, Kamis.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat kebutuhan untuk mengoperasikan kembali Embung Sebayar semakin mendesak. Hal itu juga menjadi salah satu aspirasi masyarakat yang disampaikan dalam pertemuan di Kecamatan Bunguran Timur.
“Masyarakat mengharapkan Embung Sebayar itu segera dapat dioperasikan kembali. Kemarin dalam rapat kami di Kantor Camat Bunguran Timur, masyarakat sepakat embung itu dialirkan kembali karena kondisi air kita betul-betul semakin kritis,” katanya.
Zaharuddin menjelaskan, apabila distribusi air Embung Sebayar kembali dilakukan, pemanfaatannya terutama diarahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti mandi dan mencuci.
Sementara untuk kebutuhan konsumsi, masyarakat diminta memperhatikan kondisi air yang mengalir dan menampung air ketika kondisinya lebih jernih.
“Minimal cukup hanya digunakan untuk mandi dan cuci. Selanjutnya pelanggan bisa melihat langsung apabila air itu terjernih, gunakan untuk ditampung untuk dikonsumsi,” jelasnya.
PDAM, lanjut Zaharuddin, juga tengah menyiapkan pola distribusi secara bergilir untuk menyesuaikan kondisi sumber air yang tersedia.
“Nanti kami akan rekayasa gilir, seminggu air embung dan kami tampung dulu air gunung itu, nanti baru kami alir,” ujarnya.
Ia mengatakan kondisi air yang dialirkan nantinya dapat menjadi perhatian langsung pelanggan. Menurutnya, masyarakat tidak harus menunggu pengumuman apabila terjadi perubahan kondisi air.
“Tidak perlu kami umumkan lagi melalui media atau alat komunikasi lainnya, tapi cukup lihat saja kondisi air yang mengalir itu. Karena kondisi kita ini betul-betul lagi kritis,” katanya.
Warga Datangi Kantor PDAM
Permintaan agar air Embung Sebayar kembali dialirkan juga disampaikan langsung oleh sejumlah warga.
Zaharuddin menyebut, saat kegiatan sosialisasi tarif yang dilaksanakan PDAM di Kantor Camat Bunguran Timur, sejumlah warga setuju air dari embung sebayar tetap dialirkan, bahkan sejumlah warga kembali mendatangi kantor PDAM untuk meminta distribusi air embung tetap dilakukan.
“tadi lagi beberapa warga kembali datang ke kantor meminta agar air embung tetap dialirkan,” ungkapnya.
Sebelumnya, distribusi air dari Embung Sebayar sempat mendapat penolakan dari sebagian warga karena adanya kekhawatiran terhadap kualitas dan higienitas air.
Zaharuddin menegaskan, PDAM telah menyampaikan kepada masyarakat bahwa air embung tersebut tidak diperuntukkan sebagai air konsumsi tanpa memperhatikan kondisi dan kelayakannya.
“Air embung ini sebenarnya kita sudah sampaikan kalau air ini hanya diperuntukkan untuk cuci bilas saja dan tidak untuk dikonsumsi,” tegasnya.
Menurut Zaharuddin, hingga saat ini kondisi air Embung Sebayar memang belum dinyatakan layak untuk dikonsumsi. Namun, keterbatasan air baku dari sumber lainnya membuat kebutuhan distribusi air untuk keperluan sehari-hari menjadi semakin mendesak.
Ia menambahkan, hujan yang terjadi beberapa waktu terakhir juga belum memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan debit sumber air.
Warga: Kami Hanya Perlu Air
Warga kawasan Pramuka Atas, Pujiyanto, mengatakan masyarakat berharap Embung Sebayar kembali dioperasikan untuk membantu memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
“Kami masyarakat di Pramuka Atas berharap Embung Sebayar segera kembali dioperasikan. Kami hanya perlu air, apa pun kondisinya kami terima,” ujar Pujiyanto pada Kamis (24/09/2026).
Menurutnya, kebutuhan air untuk makan dan minum dapat dipenuhi dengan menggunakan air galon, sementara air dari PDAM lebih dibutuhkan untuk keperluan sehari-hari lainnya.
“Kalau untuk kebutuhan sehari-hari seperti makan, minum, dan masak, itu bisa menggunakan galon. Keperluannya tidak terlalu banyak, mungkin hanya dengan Rp5.000-Rp6.000 sudah bisa untuk beberapa hari,” katanya.
Permintaan tersebut muncul seiring semakin terbatasnya ketersediaan air di sejumlah sumber. Warga berharap distribusi air Embung Sebayar dapat menjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, khususnya untuk keperluan mandi dan mencuci, selama kondisi sumber air utama belum kembali normal.



