Bupati Karimun Terbitkan SE Antisipasi Kekeringan dan Karhutla

Menurut sumber Lendoot.com, kebakaran terjadi sekitar pukul 16.00 WIB hingga saat ini masih belum dapat dipadamkan. Kebakaran semakin meluas karena belum ada upaya pemadaman dari pihak terkait. “Saat ini api belum padam bang. Kita di Kundur keterbatasan mobil Damkar (pemadam kebakaran, red),” ujar seorang warga memberikan laporannya. Dikabarkan mobil Damkar milik yang terparkir di Kecamatan Tangbatu Kundur hanya ada satu unit. Sementara itu mobil Damkar yang ada SPN (Sekolah Kepolisian Negara) dan milik PT Timah sudah coba dihubungi warga, hanya saja saat ini kondisinya sedang rusak. “Yang punya PT Timah sudah kita hubungi, alasan mereka sedang rusak,” ujar warga tersebut. Sampai berita ini diturunkan, kebakaran semakin meluas. Asap mengepul dari kebakaran yang terjadi di gambut yang ada di dalam lahan.

Karimun– Bupati Karimun, Iskandarsyah, menerbitkan Surat Edaran (SE) sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan ekstrem dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Kabupaten Karimun.

Penerbitan SE tersebut menyusul adanya surat peringatan dini serta arahan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan ekstrem dan Karhutla dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Dalam SE tersebut, terdapat sejumlah langkah yang perlu dipersiapkan, di antaranya memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan lintas sektor, meningkatkan kesiapan sektor pangan dan pertanian, serta memperkuat pengelolaan sumber daya air.

Selain itu, kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem juga perlu ditingkatkan, termasuk memastikan adanya mekanisme pelaporan kejadian melalui saluran komunikasi darurat.

Bupati Karimun Iskandarsyah memberikan perhatian khusus terhadap kondisi Pulau Kundur yang saat ini mulai mengalami penyusutan debit air akibat musim kemarau.

“Kami sudah meminta perangkat daerah di sana untuk bergerak cepat ke masyarakat dan melihat kondisi air. Jadi, apabila masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan kebutuhan air, segera laporkan,” ungkap Iskandarsyah, Selasa (25/8/2026).

Menurutnya, data terkait kondisi ketersediaan air bersih yang dihimpun dari lapangan nantinya akan menjadi salah satu bahan dalam penyusunan peta prioritas pembangunan sumur bor oleh BNPB.

“Berdasarkan prediksi, musim kemarau akan berlangsung hingga November 2026, sehingga kondisi air bersih perlu menjadi bahan pertimbangan. Untuk itu, kami juga meminta masyarakat agar menggunakan air sebaik-baiknya,” terangnya.

Selain persoalan ketersediaan air, Iskandarsyah juga mengingatkan para petani agar lebih selektif dalam menentukan jenis tanaman yang akan dibudidayakan. Pemilihan tanaman perlu disesuaikan dengan kondisi cuaca dan ketersediaan air agar risiko gagal panen dapat diminimalkan.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah munculnya titik api yang berpotensi berkembang menjadi Karhutla.

“Tak tertinggal, kami meminta masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Selain itu, tetap jaga kesehatan, terutama selama beraktivitas di luar rumah,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Karimun mengimbau seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Kesiapsiagaan bersama dinilai penting agar dampak kekeringan maupun potensi Karhutla dapat ditekan. (msa)