Lingga – Puskesmas Dabo Lama resmi memperkuat program pencegahan penyakit menular dengan memfokuskan pemeriksaan atau skrining HIV/AIDS bagi calon pengantin (Catin) mulai tahun 2026. Langkah ini diambil sebagai strategi preventif untuk memutus mata rantai penularan HIV dari orang tua ke anak.
Kepala Puskesmas Dabo Lama, dr. Hesti Ningrum, menjelaskan bahwa skrining pra-nikah merupakan fase krusial dalam perlindungan kesehatan keluarga di masa depan.
Deteksi Dini dan Perlindungan Ibu-Anak
Menurut dr. Hesti, deteksi yang dilakukan sebelum kehamilan memberikan kesempatan bagi petugas medis untuk melakukan intervensi pengobatan secara lebih cepat dan terukur.
“Deteksi dini membuka peluang pengobatan lebih cepat. Jika HIV ditemukan sejak awal, pasien dapat langsung menjalani terapi Antiretroviral (ARV) secara rutin untuk menekan perkembangan virus di dalam tubuh,” jelas dr. Hesti, Selasa (27/1/2026).
Ia menambahkan bahwa pengobatan yang teratur bagi ibu hamil yang terdeteksi HIV secara signifikan dapat menekan risiko penularan kepada bayi, sehingga bayi memiliki peluang besar untuk lahir dalam keadaan sehat dan negatif HIV.
Data Kasus dan Pelayanan Aktif
Berdasarkan data terkini, Puskesmas Dabo Lama sedang menangani 24 pasien HIV aktif yang secara rutin menjalani terapi. Secara akumulatif, Puskesmas ini telah menangani total 43 kasus HIV, di mana sebagian di antaranya telah dilaporkan meninggal dunia.
Hal ini menunjukkan bahwa sistem pengendalian dan pendampingan pasien HIV di wilayah Dabo Lama terus berjalan secara konsisten.
Layanan Sukarela dan Jaminan Kerahasiaan
Puskesmas Dabo Lama juga membuka layanan skrining HIV secara sukarela bagi seluruh masyarakat Kabupaten Lingga yang ingin mengetahui status kesehatannya. Dokter Hesti menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap stigma negatif.
Beberapa komitmen layanan di Puskesmas Dabo Lama meliputi:
Klinik Khusus: Pemeriksaan dilakukan di poli khusus untuk kenyamanan pasien.
Kerahasiaan Terjamin: Seluruh data dan identitas pasien dijaga ketat sesuai kode etik medis.
Tanpa Stigma: Pelayanan diberikan secara profesional dan humanis tanpa diskriminasi.
“Kami mengajak masyarakat untuk berani memeriksakan diri secara sadar. Ini adalah bagian dari gaya hidup sehat dan bentuk tanggung jawab terhadap pasangan serta calon buah hati,” tutupnya. (wan)



