Karimun, Lendoot.com – Kabar tentang remaja yang terlibat seks bebas sepatutnya menjadi perhatian banyak pihak, terutama orangtua.
Pendidikan seks bagi remaja dinilai sebagian pihak sesuatu yang perlu diberikan, di lain pihak masih ada yang menolak terkait masih tabunya, dan malah membuat keingintahuan remaja semakin besar.
“Saya mendukung. Asal diberikan dengan wawasan kedewasaan sehingga dapat mencegah remaja terlibat seks bebas,” ujar Aan seorang warga Karimun, siang tadi.
Sebagian yang menolak, alasannya karena terlalu tabu dan malah membuat keingintahuan remaja terhadap seks semakin besar. “Sebaiknya tidak. Perkuat saja agamanya,” ujar Candra, warga Karimun lainnya.
Ada isu akan ada peraturan yang memungkinkan penyediaan alat kontrasepsi bagi pelajar dan remaja tersebar pusat. Ini terkait kesehatan reproduksi yang merupakan hal yang penting.
Candra berpandangan bahwa penyediaan alat kontrasepsi bagi pelajar dan remaja, khususnya di usia sekolah, bukanlah solusi yang tepat dan justru dapat menimbulkan berbagai permasalahan sosial.
Belum matangnya psikologis pelajar dan remaja menjadi alasannya. “Masih dalam tahap perkembangan psikologis yang belum matang. Pemberian akses mudah terhadap alat kontrasepsi dapat memicu perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab dan mengabaikan nilai-nilai moral,” ujar Candra.
Ini juga meningkatkan risiko perilaku remaja. Alih-alih mencegah kehamilan dini, penyediaan alat kontrasepsi justru dapat memicu peningkatan perilaku berisiko lainnya, seperti hubungan seks bebas, penyalahgunaan narkoba, dan kekerasan seksual.
“Pendidikan seks dan pencegahan kehamilan dini merupakan tanggung jawab utama orang tua. Peran sekolah adalah memberikan pendidikan yang komprehensif, termasuk pendidikan karakter dan nilai-nilai agama,” katanya.
Sementara itu, sebelum pemerintah mengambil kebijakan ini, kata Aan, perlu dilakukan sosialisasi yang intensif kepada masyarakat, tokoh agama, dan para ahli terkait dampak positif dan negatif dari penyediaan alat kontrasepsi bagi pelajar dan remaja.
Meningkatkan upaya sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesucian remaja dan mencegah perilaku seks pra-nikah.
Aan mendorong pemerintah daerah untuk lebih aktif dalam memberikan layanan konseling dan pendidikan kesehatan reproduksi yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya.
“Kami berharap pemerintah dapat mengambil langkah-langkah yang lebih bijaksana dalam mengatasi permasalahan kesehatan reproduksi remaja, dengan tetap mengedepankan nilai-nilai moral dan perlindungan terhadap anak,” kata Aan. (msa)




