Jakarta, Lendoot.com – Awal tahun 2023 masyarakat Indonesia digegerkan dengan maraknya kabar penculikan anak. Apakah fakta atau hanya isu saja?
Ternyata kasus penculikan anak itu memang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia dan ini sempat membuat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KPPA) ikut turun tangan.
Dalam sebuah konferensi pers di Jakarta pada 3 Januari 2023 lalu, KPPA bahkan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terlibat dalam melakukan pengawasan dan perlindungan terhadap anak.
“Seluruh pihak, baik orang tua, masyarakat, dan Pemerintah, termasuk Aparat Penegak Hukum harus bersama-sama memastikan upaya perlindungan anak bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, sehingga ancaman yang berdampak lebih buruk bisa kita hindari,” kata Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak KPPA, Nahar seperti dikutip dari tirto.id, Senin (6/2/2023).
KPPA bahkan mencatat, sepanjang 2022, ada 28 kasus penculikan anak di Indonesia. Angka tersebut mengalami kenaikan jika dibanding, pada 2021.
Sementara kasus serupa pada 2023 juga mulai mengalami tren kenaikan, jika dilihat dari terjadi per bulan Januari 2023.
Kasus Penculikan di Indonesia pada 2023 Sepanjang Januari 2023, ada beberapa kasus. Berikut merupakan daftar kasus penculikan anak di Indonesia:
- Penculikan Malika di Jakarta Pusat
Malika merupakan korban penculikan yang dilakukan oleh Iwan Sumarno pada 7 Desember 2022.
Mulanya, Sumarno mengajak Malika membeli ayam goreng di dekat kios orang tuanya pada pukul 10.00 WIB. Sumarno sudah kenal dekat dengan keluarga Malika.
Oleh sebab itu, ajakan Sumarno langsung disetujui oleh Malika. Namun, Malika tak kunjung kembali ke kios sampai siang hari, tepatnya pukul 14.00 WIB.
Berdasarkan hasil penelusuran polisi melalui rekaman kamera pengawas, Sumarno naik Bajaj bersama Malika. Keduanya turun di daerah Stasiun Kota. Malika menghilang selama 26 hari.
Tepat pada 2 Januari 2023 malam hari, polisi berhasil menemukan Malika di kawasan Pasar Cipadu, Tangerang Kota.
Malika berada di dalam gerobak, yang biasa digunakan Sumarno untuk bekerja sebagai pemulung.
- Penculikan Fitria di Cilegon
Kasus penculikan anak juga terjadi di Cilegon pada 2 Januari 2023. Dia adalah Fitria, perempuan berumur 4 tahun diculik oleh HH.
Setelah menculik Fitria, pelaku menyuruhnya menjadi pengemis. Pada 25 Januari 2023 dini hari, pelaku dan Fitria ditemukan di jalanan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Polisi langsung meringkus pelaku untuk dimintai keterangan di Polsek Pasar Minggu. Sedangkan Fitria, langsung mendapatkan trauma healing beserta keluarganya.
- Penculikan dan Pembunuhan Anak di Makassar
MFS yang berumur 11 tahun meninggal dunia setelah dibunuh oleh MF (18) dan AD (17). Penculikan serta pembunuhan ini, dilakukan karena MF dan AD ingin menjual organ tubuh, yang terbuai oleh situs jual beli organ
tubuh manusia di luar negeri dalam website Yandex.
Pada awal Desember, AD berselancar di internet dan menemukan situs Yandex yang menerima transaksi organ tubuh. Kemudian AD mengajak MF untuk mencari korban. AD dan MF akhirnya membunuh dan menculik MFS, pada 8 Januari 2023.
MF dan AD kemudian diringkus oleh pihak kepolisian, pada 9 Januari 2023. Keduanya dibawa ke Polsek Panakkukang, Makassar, untuk dimintai keterangan.
- Penculikan Anak di Semarang
WD anak laki-laki yang berusia 8 tahun diculik oleh S (64). Mulanya, cara pelaku menculik WD dengan mengajak ngobrol bapaknya WD, Setiawan. Basa-basi yang dilakukan oleh S adalah menawarkan membawa rongsokan.
Setelah memperoleh izin, S langsung membawa kabur motor Setiawan sekaligus menculik anaknya. Pada 11 Januari 2023, WD ditemukan dengan keadaan lemas. Polisi langsung meringkus pelaku penculikan.
Faktor Penyebab Marak Kasus Penculikan Anak di Indonesia
Sekretaris Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UNESA, Putri Aisyiyah Rachma Dewi mengungkapkan beberapa faktor maraknya penculikan anak.
- Pengawasan Orang tua
Orangtua harus mengawasi anaknya, terlebih ketika sedang main di luar rumah. Sebab, maraknya kasus penculikan ini dikarenakan abainya orang tua dalam mengawasi anak-anaknya. Pengawasan yang dilakukan oleh orang tua juga tidak boleh berlebihan. Pasalnya, bisa membuat anak merasa tidak aman dengan orang terdekatnya, yakni orang tuanya sendiri. Hal itu disebut sebagai mean world syndrome, dunia yang kejam.
- Lingkungan Selain orang tua.
Masyarakat juga perlu ikut dalam mengantisipasi kasus penculikan anak. Pasalnya, dengan peran masyarakat yang sama-sama peduli, maka anak-anak tidak akan mudah dibawa oleh orang ‘asing’. Kerja sama antara orang tua, masyarakat dan pihak sekolah adalah pencegahan efektif dalam menghindari penculikan anak.
- Peran pemerintah
Abainya pemerintah juga menjadi faktor maraknya penculikan anak, terlebih dalam mengantisipasi penculikan anak. Kurangnya fasilitas publik membuat anak-anak sulit mencari taman bermain. Untuk itu, pemerintah perlu memperhatikan ruang publik yang aman dan ramah anak.
- Kondisi Ekonomi
Faktor terakhir adalah kondisi ekonomi keluarganya yang lemah. Kerentanan ini yang dimanfaatkan oleh pelaku untuk menculik anak dengan berbagai iming-iming yang ditawarkan oleh pelaku kepada korban penculikan.




