Karimun, Lendoot.com – Masa pandemi Covid-19 telah membuat orang banyak kehilangan pekerjaan. Beberapa ide usaha mulai terbuka ketika daya kreativitas seseorang muncul.
Seperti Aswin yang memiliki lahan berupa kebun kosong yang berada di kawasan Kecamatan Tebing, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau memanfaatkannya sebagai usaha tani sayur hidroponik.
Pekarangan kurang luas kini bukan lagi menjadi alasan tidak bisa menanam sayur. Perkebunan sayur dengan luas 700 meter persegi itu dikembangkan Aswin dengan memanfaatkan daya air, tanpa tanah sebagai media tanam pada umumnya.
Dalam penanaman sistem hidroponik tersebut, air berfungsi sebagai penyalur berbagai nutrisi ke akar.
Air yang digunakan juga tentu bukan air biasa, melainkan air yang telah dicampur dengan pupuk.
Berbagai jenis sayur yang biasa di konsumsi masyarakat sehari-hari di tanam di kebun ini, mulai dari sawi, selada, kailan hingga kale.
Sayur mayur itu dikembangkan mulai dari pembibitan. Penanamannya dilakukan menggunakan sistem Nutrient Film Technique (NFT), dimana air yang telah bercampur pupuk di aliri ke dalam pipa.
Sistem itu pun menjadi keunggulan karena mampu menghasilkan sayur yang segar.
Hamparan kebun luas ini merupakan milik Aswin saat memulai karirnya sebagai petani karena awalnya Aswin memang gemar bercocok tanam.
“Luas keselurahan kebun saya ini 700 meter persegi. Dalam penanaman saya menggunakan 3 tahap, yang pertama di semai selama 7 hari, kemudian tahap kedua peremajaan selama 7 sampai 10 hari, lalu tahap ketiganya dipindahkan ke meja produksi hingga 15 hari. Jadi jangka waktu penanaman hingga panen sekitar 30 sampai 35 hari,” jelas Pemilik Kebun Hidroponik, Aswin.
“Saya mulai bertani sayur ini awalnya hanya coba-coba saja pada tahun 2016 lalu. Setelah 3 bulan berjalan sayur mayur ini tidak berkembang alias gagal, memasuki 6 bulan masa percobaan barulah ada hasil. Sejak saat itu saya lebih fokus dan terus mengembangkan lahan,” tambah Aswin.
Sebelum menjadi petani sukses, Aswin hanyalah pekerja di salah satu perusahaan kapal, namun ia memilih berhenti dan melanjutkan hobi bertaninya.
“Mulanya saya bekerja di salah satu perusahaan kapal, tapi karena hobi saya bercocok tanam jadi saya memilih untuk berhenti bekerja dan mulai menanam sayur. Sejak berkebun saya juga jadi banyak waktu luang untuk keluarga,” ucap Aswin.
Saat ini, Aswin mampu menghasilkan keuntungan hingga Rp15 Juta perbulan dari hasil panen kebunnya.
“Saya melakukan panen setiap hari dengan bobot rata-rata 30 hingga 35 kilogram, hasil panen tersebut langsung di beli oleh para pedagang pasar. Kebutuhan sayur di Karimun ini banyak sekali, jadi sebenarnya pedagang-pedagang itu masih kekurangan stok sayur,” katanya.
“Dari hasil penjualan sayur ini saya mendapatkan cuan Rp12 hingga Rp15 juta perbulannya. Ya potong biaya produksi sebanyak 30 persen, jadi keuntungan bersih Rp8 juta sampai Rp10 juta,” tutup Aswin.
Kebun hidroponik milik Aswin ini tentunya menjadi motivasi bagi banyak orang yang tidak memiliki cukup lahan untuk berkebun.
Tidak sedikit warga yang datang demi belajar membuat dan merawat tanaman hidroponik.
“Saya sangat tertarik sekali untuk membuat kebun hidroponik seperti ini, menurut saya perkebunan adalah suatu usaha yang mudah di kontrol, ringan biaya dan tidak memakan waktu banyak,” ujar Ahmad Sobri, salah seorang warga yang mengunjungi kebun Aswin.
“Perkebunan ini menjadi suatu pilihan yang tepat, apalagi di masa pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini. Saya kesini untuk belajar dan akan segera membuka lahan perkebunan hidroponik seperti yang di lakukan saudara Aswin,” tambah Ahmad.
Kini perkebunan hidroponik yang di rintis Aswin sejak tahun 2016 telah menjadi pemasok sayuran sehat di berbagai daerah Provinsi Kepulauan Riau khususnya Kabupaten Karimun. (msa)




