UNFORGETTABLE! Kumpulan Kisah-kisah Karimun Tempo Dulu: Siang Cari Barang Sitaan BC, Malamnya Tercekam Dentuman Meriam (3/Bersambung)

Armada Bea Cukai yang tertambat di perairan Karimun tempo dulu (ft dok pribadi)

Penulis: Raja Ilyas, Tokoh Masyarakat Melayu Karimun

Kembali saya menceritakan masa-masa konfrontasi Malaysia-Indonesia yang tak jarang dentuman senjata atau meriam kami dengar. Namun ternyata hanya karena satelit saja yang lewat, bukan pesawat yang kami sangkakan.

Sementara itu, alat tukar kami bertransaksi bermata uang Dollar Singapura, berubah menjadi mata uang KR, khusus untuk Kepulauan Riau.

Penggunaan mata uang KR tidak berlangsung lama, karena kemudian berubah menjadi mata uang Rp atau rupiah yang berlaku seluruh bagi seluruh wilayah di Indonesia.

Ekonomi Indonesia umumnya saat itu masih belum stabil. Bahan pokok yang dikirim dari pusat lamban datang atau sampai di daerah seperti Karimun.  Indonesia saat itu ekonominya sangat merosot.

Sementara kami, di sini (Karimun, red) masih mengharapkan sandang dan pangan yang dibawa secara illegal masyarakat sendiri dengan membawa komoditi berupa hasil perkebunan seperti karet dan lainnya serta hasil perikanan yang dibarter atau ditukarkan dengan kebutuhan sandang pangan langsung di Toko Terapung istilah zaman itu.

Barisan tentara yang dipersiapkan untuk konfrontasi Malaysia-Indonesia kala itu. (ft dok pribadi)

Transaksi atau jual beli dengan menggunakan kapal yang berlabuh di perbatasan Singapura, yang layaknya seperti toko yang menyiapkan segala macam barang, terutama barang sandang seperti Baju Rider, Celana LEE, rok lipat dan barang pangan lainnya.

Kegiatan illegal yang dikerjakan sebagian warga Karimun kala itu memiliki resiko yang besar, yakni ditangkap oleh Bea dan Cukai. Hal itu dikategorikan sebagai kegiatan penyeludupan, namun sepertinya jika yang kecil-kecil yang hanya sekedar memenuhi kebutuhan harian, masih diberikan kelonggaran.

Tidak kurang pedagang besar memanfaatkan keadaan saat itu dengan menyeludupkan secara besar-besaran hasil perkebunan dan perikanan ke negeri seberang.

Ini juga yang membuat Kantor Bea dan Cukai yang kala itu terletak Tanjungbalai bertumpuk barang tangkapan hingga kehalaman luar. Mulai Jalan Kartini sampai ke Panggung Rakyat zaman itu (saat ini di depan kediaman dinas bupati Karimun).

Barang yang ditumpuk di antaranya karet dan kopra. Hampir setiap hari kegiatan bongkar muat barang  tangkapan, hal ini dimanfaatkan anak-anak untuk sedikit mendapatkan barang tangkapan tersebut untuk dijual buat jajan harian.

Bermacam cara dilakukan untuk mendapatkannya. Ada yang menggunakan sampan (jongkong) dan ada yang hanya dengan manual saja. Anak-anak yang paling handal saat itu berasal dari Belakang Tangsi (BBC), Baran dan Kampung Tanjung.

Bagi petugas Customs atau Bea Cukai saat ini membiarkan saja anak mengambil karena tidak seberapa dengan hasil tangkapan yang begitu banyak. Lagi pula mereka mengambil tidak terlalu banyak hanya sekedar dijual di warung penampung hanya untuk jajan harian dan untuk membeli bola plastik guna bermain dengan teman-temannya.

Biasanya juga hasil jualan barang hasil tegahan tersebut digunakan anak-anak untuk membeli alat perang-perangan guna main perang antar kampung, salah satu kegiatan rutin anak-anak zaman itu yang dilakukan pada siang hari setelah pulang sekolah.

Suasana lain lagi terjadi bagi anak-anak saat malam hari. Malam adalah saat yang paling mencekam, di samping jika bunyi meriam berdentum diikuti dengan matinya lampu ditambah lagi harus masuk ke lubang persembunyian yang harus dibuat untuk persembunyian yang katanya untuk menghindari dari bahaya penyerangan lewat udara.

Satu hal lagi yang aneh rumah harus di cat loreng alasannya supaya tidak kelihatan rumah. Tidak beda di sekolahpun dibuatkan lobang untuk persembunyian murid jika suatu saat keadaan darurat perang.

Melihat tentara sukarelawan dan sukarelawati berbaris dengan membawa senjata merupakan hal yang biasa dilihat setiap hari saat itu. Mereka menempati Base Camp di Sungai Lakam dan sejumlah tempat lainnya. Dan ada juga satuan lainnya yaitu Kwarsa, Basis, Kopaska dan lain-lain. (**/Bersambung)