BMKG Prediksi El Nino Berlanjut hingga Awal 2027, Natuna Waspadai Kekeringan dan Karhutla

NATUNA – Kabupaten Natuna menghadapi ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diperkirakan masih perlu diwaspadai dalam beberapa bulan ke depan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan pengaruh El Nino masih menjadi faktor penting terhadap rendahnya curah hujan, dengan prospek fenomena tersebut diperkirakan berlangsung hingga awal 2027.

Peringatan itu mengemuka dalam rapat koordinasi kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan dan karhutla yang digelar Pemerintah Kabupaten Natuna, Senin (24/8/2026).

Rapat dipimpin Bupati Natuna Cen Sui Lan dan dihadiri Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Maritim Kabupaten Natuna Rafael Alisandro Marbun, Komandan Lanud Raden Sadjad Marsekal Pertama TNI Onesmus Gede Rai Aryadi, S.E., M.M., M.Han., Sekretaris Daerah Natuna Boy Wijanarko Varianto, Wakil Ketua I DPRD Natuna Daeng Ganda, jajaran Forkopimda, kepala OPD, anggota DPRD, para camat serta instansi terkait.

Dalam pemaparannya, Rafael Alisandro Marbun menjelaskan kondisi dinamika atmosfer yang saat ini perlu menjadi perhatian bersama, terutama pengaruh fenomena El Nino terhadap pola hujan di wilayah Natuna.Berdasarkan kondisi per 16 Agustus 2026, indikator ENSO menunjukkan El Nino berada pada kondisi yang sangat kuat.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap berkurangnya curah hujan di wilayah Indonesia.

“Yang perlu menjadi perhatian bukan hanya ENSO, tetapi juga prospek El Nino ke depan yang diperkirakan hingga awal tahun 2027,” jelas Rafael dalam pemaparannya.

Kondisi tersebut, kata dia, menjadi salah satu alasan mengapa kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan karhutla di Natuna harus ditingkatkan.

Sebelumnya, Rafael juga menjelaskan Natuna sedang memasuki periode penurunan curah hujan yang berlangsung pada Juli hingga November.

Kondisi tersebut semakin diperkuat oleh fenomena El Nino sehingga intensitas penurunan curah hujan di Natuna meningkat.

Dalam rapat tersebut, BMKG memaparkan sejumlah faktor atmosfer yang memengaruhi pembentukan cuaca di Natuna. Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) masih berada pada kondisi netral, meskipun diperkirakan mulai menuju fase positif pada September.

Sementara suhu muka laut di sekitar Natuna berada pada kondisi normal. Namun, kondisi atmosfer yang relatif kering menyebabkan proses pembentukan awan dan potensi hujan di wilayah Natuna mengalami penurunan.

Madden-Julian Oscillation (MJO) yang berada pada fase 6 di kawasan Pasifik juga dinilai belum memberikan pengaruh signifikan terhadap pembentukan cuaca di Natuna.

Meski demikian, masih terdapat dinamika gelombang atmosfer yang perlu dipantau karena berpotensi meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah Natuna.

Dari sisi kondisi atmosfer, BMKG juga memantau adanya pembelokan angin pada lapisan 300 feet yang dapat menyebabkan proses pembentukan awan mengalami keterlambatan.

Kondisi kelembapan relatif pada lapisan 850 hPa dan 500 hPa juga menunjukkan udara yang relatif kering.Akibat kombinasi kondisi tersebut, intensitas curah hujan di Natuna saat ini berada di bawah normal.

Hari tanpa hujan juga tercatat semakin panjang. BMKG menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena semakin lama periode tanpa hujan berlangsung, semakin besar pula potensi kekeringan dan kebakaran.

Untuk Agustus 2026, curah hujan Natuna diperkirakan masih berada di bawah normal. Kondisi tersebut diproyeksikan berlanjut hingga September.

Curah hujan baru diperkirakan mulai meningkat pada Oktober dan masuk kategori menengah. Peningkatan lebih lanjut diperkirakan terjadi pada November dengan curah hujan yang masuk kategori tinggi.

Tak hanya curah hujan, BMKG juga mengingatkan potensi titik panas di wilayah Natuna. Berdasarkan pemantauan hotspot, terdapat tiga titik yang perlu mendapat perhatian dan dilakukan monitoring langsung di lapangan oleh instansi terkait.

Kondisi kekeringan dan hotspot di Natuna saat ini berada dalam kategori waspada. Potensi asap kiriman dari wilayah lain juga perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi kualitas udara di Natuna.

Ancaman tersebut menjadi semakin serius jika melihat data kejadian karhutla di Natuna sepanjang 2026.Polres Natuna mencatat sebanyak 94 kejadian karhutla terjadi sejak Januari hingga Agustus 2026.

Rinciannya, Januari sebanyak 14 kejadian, Februari 12 kejadian, Maret 30 kejadian, April 13 kejadian, Mei 17 kejadian, Juni satu kejadian, Juli dua kejadian dan Agustus lima kejadian.

Maret menjadi bulan dengan kejadian karhutla tertinggi, yakni mencapai 30 kasus.Kepala daerah pun meminta kondisi tersebut tidak dipandang sebelah mata.

Bupati Natuna Cen Sui Lan mengatakan bulan ini merupakan periode yang rawan terjadinya kebakaran. Sejumlah wilayah juga sudah mulai mengalami kebakaran.

“Bulan ini bulan riskan yang akan terjadinya kebakaran dan beberapa daerah sudah mulai mengalami kebakaran,” kata Cen.

Menurut Cen, prediksi BMKG mengenai musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya harus menjadi alarm bagi seluruh pihak untuk memperkuat langkah pencegahan.

Ia meminta seluruh pihak tidak menunggu kebakaran terjadi baru melakukan penanganan.

“Hari ini mari kita diskusikan bagaimana langkah menanggulangi dan pencegahan serta mencari solusi,” ujarnya.

Cen juga memberikan perhatian khusus terhadap aktivitas masyarakat yang membuka lahan dengan cara membakar. Praktik tersebut, menurutnya, harus menjadi perhatian bersama karena berpotensi memperbesar risiko kebakaran di tengah kondisi cuaca yang kering.

“Kegiatan pembukaan lahan dan pembakaran hutan seakan menjadi tradisi di Natuna dan ini harus kita carikan solusi agar tidak menjadi keterusan,” tegasnya.

Pemerintah Kabupaten Natuna bersama TNI, Polri, pemerintah kecamatan, pemerintah desa dan seluruh instansi terkait didorong memperkuat pemantauan wilayah rawan serta meningkatkan edukasi kepada masyarakat.

Polres Natuna juga telah membagi wilayah penanganan karhutla menjadi tiga zona untuk memperkuat kesiapsiagaan dan mempercepat respons apabila terjadi kebakaran.

Dengan curah hujan yang masih rendah hingga September, hari tanpa hujan yang semakin panjang serta pengaruh El Nino yang diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027, pemerintah menilai pencegahan harus dilakukan secara bersama-sama.

Karhutla tidak lagi hanya menjadi persoalan saat api muncul, tetapi menjadi ancaman yang harus diantisipasi sejak dini melalui pemantauan cuaca, deteksi titik panas, pengawasan wilayah rawan serta perubahan perilaku masyarakat dalam membuka lahan. (Rap)