Sebagai salah satu kota besar di Indonesia, Kota Batam juga mengalami permasalahan sosial yang terbilang beragam. Semakin pesat pertumbuhan ekonomi yang diiringi pertambahan penduduk, permasalahan sosialnya juga semakin besar.
Banyak kota besar di Indonesia yang belum mampu menyelesaikan masalah social ini, seperti kemisikinan, ketimpangan sosial, dan juga keberadaan Gepeng (gelandangan dan pengemis)
Mengenai permasalahan Gepeng di Kota Batam saat ini seperti potret buram dari megahnya di segala bidang pembangunan. Gepeng, termasuk anak jalanan masih dapat ditemui di tengah kota dan di pinggir jalan yang tentunya perlu penanganan di dalamnya.
BACA JUGA!
Kota besar seperti Batam menjadi magnet yang kuat untuk menarik penduduk berpindah dari desa ke kota (urbanisasi). Banyak alasan yang muncul melatarbelakangi adanya urbanisasi tersebut misalnya untuk mencari pekerjaan, mengembangkan usaha, melanjutkan pendidikan dan lain sebagainya.
Hal ini dapat terjadi di kota yang perkembangan perekonomian yang sangat pesat seperti halnya yang terjadi di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Daya tarik
Penduduk Kota Batam lebih dominan pendatang dari luar daerah yang mencoba mencari peruntungan. Sayangnya, kehadiran pendatang ini tanpa dibekali dengan pendidikan, kecakapan serta pengalaman yang cukup untuk menghadapi persaingan.
Kurangnya pendidikan, kecakapan, dan pengalaman untuk menjalani kehidupan di Kota Batam inilah yang menjadi peluang meningkatnya Gepeng.
Permasalahan sosial ini tentunya tidak sejalan dengan Pasal 5 Perda Kota Batam Nomor 6/2002 Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 6 Tahun 2002 tentang Ketertiban Sosial dalam Menangani Jumlah Gelandangan dan Pengemis di Kota Batam yang melarang perbuatan sebagai gelandangan atau pengemis.
Kebijakan kawasan bebas gelandangan dan pengemis di Kota Batam perspektif Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau disebut Sustainable Development Goals (SDGs).
Bagaimana kelanjutan dari permasalahan sosial ini? Sudahkah pihak terkait, Pemko Batam sudah menyiapkan atau masih mencari formula menuntaskannya? Kita nantikan selanjutnya. (*)

