Site icon Lendoot.com | Trend Berita Karimun Kepri

Silat Pengantin dan Berbalas Pantun, Menjaga Marwah Adat Pernikahan Melayu di Kepulauan Riau

Tradisi silat di acara pernikahan ini menjadi tradisi adat Melayu yang perlu dilestarikan. (ft paino)

Tradisi silat di acara pernikahan ini menjadi tradisi adat Melayu yang perlu dilestarikan. (ft paino)

Lingga – Dalam balutan adat istiadat yang kental, prosesi pernikahan Melayu di Kepulauan Riau (Kepri) bukan sekadar pengikatan janji suci, melainkan panggung pelestarian budaya. Silat Pengantin dan Berbalas Pantun hingga kini tetap menjadi ruh yang menghidupkan setiap perhelatan nikah-kawin di tanah Bunda Tanah Melayu.

Dua tradisi ini menjadi pemandangan wajib, terutama saat menyambut kedatangan rombongan pengantin pria sebelum melangkah menuju pelaminan singgahsana yang megah.

Atraksi silat yang diperagakan di hadapan mempelai laki-laki bukan hanya sekadar tontonan visual. Secara filosofis, gerakan silat tersebut merupakan bentuk penghormatan sekaligus simbol bahwa pengantin pria telah diterima dengan tangan terbuka ke dalam lingkungan adat keluarga perempuan.

“Silat pengantin adalah simbol perlindungan dan kehormatan. Setiap wilayah di Kepri memiliki keunikan jurus dan aliran tersendiri, yang menjadi kekayaan intelektual lokal yang diwariskan turun-temurun,” tulis catatan adat setempat.

Selain untuk pernikahan, atraksi ini juga menjadi standar protokol dalam menyambut tamu-tamu kehormatan dan pejabat negara sebagai bentuk pemuliaan tamu.

Melengkapi ketangkasan gerak silat, tradisi Berbalas Pantun hadir sebagai seni tutur yang sarat makna. Pantun digunakan sebagai sarana komunikasi diplomatis untuk membuka pintu acara secara adat.

Penanda Adat: Pantun menjadi isyarat resmi dimulainya rangkaian prosesi.

Nilai Pendidikan: Di dalam bait-bait pantun terselip doa, nasihat pernikahan, dan petuah kehidupan.

Adaptasi Modern: Kini, pantun tidak hanya eksklusif di acara pernikahan, tetapi juga menjadi identitas wajib dalam kegiatan resmi pemerintahan di Kepri.

Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu

Meskipun zaman terus berkembang, masyarakat di Kepulauan Riau, khususnya di Kabupaten Lingga, tetap konsisten menjaga marwah budaya ini. Silat dan pantun tetap eksis dalam berbagai perhelatan besar, memastikan identitas Melayu tetap tegak dan dikenal oleh generasi muda.

Melalui gerak silat yang lincah dan untaian pantun yang puitis, nilai-nilai luhur budaya Melayu terus dijaga agar tetap menjadi warisan yang hidup dan membanggakan bagi masa depan Kepulauan Riau. (wan)

Exit mobile version