Bupati Aunur Rafiq menaiki salah satu wahana yang ada di Wisata Pulau Jang Moro. (msa)

Pontesi wisata alam di Kabupaten Karimun masih banyak yang belum digarap maksimal. Padahal, jika dilengkapi dengan fasilitas memadai, bidang pariwisata daerah ini bisa jadi primadona.

Seperti di Pulau Manda Desa Jang Kecamatan Moro, misalnya. Bupati Karimun Aunur Rafiq sendiri memuji potensi Wisata  Pulau Manda tersebut.

Rafiq menyebut, objek wisata seperti Pulau Manda yang sebelumnya bukan apa-apa kini disulap menjadi destinasi favorit bagi wisatawan.

Keindahan pantai dan pasirnya yang putih, ditambah dengan melihat langsung konservasi penyu yang ada di Pulau Manda tersebut, tentu menjadi daya tarik wisatawan ke kawasan itu.

“Pulau Manda sudah mulai dikenal banyak wisatawan. Dari keterangan pengelola, sudah ribuan orang datang ke sini untuk menghabiskan waktu luang di pantai sembari melihat konservasi penyu,” ujar Rafiq.

Satu lagi contoh objek wisata yang menarik yang dimiliki Kabupaten Karimun, khususnya di Desa Jang Moro, yakni Kampung Bahari Nusantara.

Kampung yang awalnya tidak dikenal, kini sudah bisa menjadi salah satu destinasi wisata bahari unggulan yang ada di Kabupaten Karimun.

Peran serta TNI AL yang membantu masyarakat setempat mengelola Kampung Bahari juga sangat baik, sehingga mampu mengangkat potensi daerah, yang awalnya biasa-biasa saja, menjadi luar biasa.

“Kampung Bahari Nusantara juga sudah banyak dikenal wisatawan. Wisatawan bisa menikmati panorama bawah laut dengan snorkling serta menikmati wahana seperti banana boat, sepeda air, menaiki kano dan wahana lainnya,” terang Bupati.

Ada tujuh cara agar objek wisata bisa mendatangkan banyak wisatawan yang harus digerakkan pemerintah daerah. Pertama, daya tarik pengunjung, yaitu melihat apakah desa wisata memiliki keunikan dan keotentikan produk wisata yang bervariatif dan kreatif.

Homestay, yaitu melihat pada peningkatan standar kualitas pelayanan serta melestarikan desain arsitektur budaya lokal. Digital dan kreatif, yaitu akselerasi percepatan transformasi digital serta menciptakan konten-konten kreatif.  

Suvenir, yaitu dengan menggali potensi kreativitas dan hasil karya masyarakat berbasis kearifan lokal. Toilet umum, yaitu upaya pemenuhan sarana dan prasarana demi kenyamanan.

CHSE, yaitu penerapan fasilitas CHSE mengikuti standar nasional. Terakhir, ketujuh, kelembagaan desa, yaitu terbentuknya legalitas berbadan hukum dan pengelolaan yang berkelanjutan. (msa)