Geosite Geopark Senubing yang terlihat di hadapannya Geosite geopark Pulau Senua dari ketinggian. (ist)

Ketika menyebut nama Natuna, sebagian besar orang mengetahuinya sebagai sebuah pulau di Provinsi Kepri yang menghasilkan minyak dan gas alam melimpah yang tiada tandingnya dari belahan bumi Indonesia lainnya.

Selain minyak  dan gas, Tuhan juga menganugerahkan Natuna sebagai pagar Bumi Nusantara,  yang terletak paling utara di Selat Karimata, berbatasan langsung dengan beberapa negara di Asia Tenggara lainnya.

Titik dalam globe dunia, Natuna dikaruniai geografis dan sumber daya alam yang istimewa. Berkat posisinya itulah, daerah berjuluk ‘Laut Sakti Rantau Bertuah’ ini, di masa lampau menjadi tempat berlabuh para penjelajah dunia, dari berbagai generasi dan dinasti.

Sayangnya, di masa kini jejak sejarah itu kalah gaung, oleh potensi Minyak dan Gas di Laut Natuna Utara. Tak ayal banyak orang mengenal Natuna sebagai daerah penghasil Migas, nyatanya ada secuil ‘surga’ di teras Indonesia ini.

Surga Natuna masih ‘perawan’, karena memang belum sepenuhnya terjamah pembangunan. Apalagi, setelah menyandang status Geopark Nasional Indonesia, Natuna wajib berpilar pada aspek konservasi, edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan penumbuhan nilai ekonomi lokal melalui geowisata. Jadi, 20 tahun mendatangpun kita akan melihat wajah Natuna yang tetap asri dan alami.

Pose eksotis Natuna, sebenarnya sering wara-wiri di media sosial. Namun, ‘berdosa’ rasanya, jika kita tidak menikmati langsung nikmat Tuhan di negeri sendiri.

Geosite Geopark Batu Kasah di Desa Cemaga Utara. Lokasi perdana yang jadi ‘korban’ saat penjelajahan ini, menyajikan spot indah dan menggoda di setiap sisi. Berjarak antara 25 – 30 km, butuh sekitar 45 menit berkendara dari kota Ranai untuk mencapainya.

Tiba di sana, suguhan pemandangan bebatuan granit raksasa, tampak serasi dengan laut biru dan hijaunya pepohonan kelapa. Di atas bebatuan terlihat gadis-gadis remaja tengah beswafoto. Berbedak tebal dan bibir bergincu, mereka berpose tanpa malu, meski sesekali warga sekitar mencuri pandang ke arahnya, sambil tersenyum.

Hari libur, Batu kasah memang tak pernah sepi oleh penggemarnya. Bersyukur, Natuna masih berstatus zona hijau covid-19. Meski demikian, protokol kesehatan tetap diutamakan di destinasi yang dibuka pada tahun 2003 ini.

Menguti dari tulisan Alfiana, Batu Kasah digambarkannya sebagai objek wisata membuat penasaran asal penyematan nama tersebut. Beruntung, bisa bertemu langsung dengan warga yang merupakan perintisnya.

“Konon, dulu disini kawasan Ksatria atau orang sakti mengasah pedang. Jadi kami gabung antara kawasan dan asah menjadi “kasah”. Batu asahnya ada diarah selatan kawasan ini,” terang Abdilah, si perintis batu kasah.

Sempat tergelitik, ketika pria paruh baya itu bercerita pernah dibilang “gila”. Lantaran membuka wisata di areal angker menurut warga. Namun lambat laun, pemikiran itu berubah seiring ramainya pengunjung Batu Kasah.

Belum puas hanya mengunjungi Batu Kasah, ada sebuah magnet untuk kembali menyusuri bagian lain geosite Geopark Natuna. Kini, tak perlu berkendara jauh, karena letaknya hanya 3 kilometer dari Kota Ranai, Bukit Senubing namanya.

Bak di film action, susah payah memanjat bebatuan granit dari periode zaman kapur akhir berusia 125-65 Juta Tahun lalu. Namun terbayar, seketika melihat pemandangan lekuk eksotis semenanjung Senubing, yang dipagari bebatuan bermacam ukuran. Dihadapan Senubing pula, terlihat geosite Pulau Senua menyapa dari kejauhan, dipisahkan lautan biru tenang.

Suparman  seorang warga Natuna mengatakan konon jika berada di Bukit Senubing pantang mengucapkan Tanjung Datuk, atau sebaliknya jika berada di Tanjung Datuk dilarang menyebut Bukit Senubing, alasannya karena akan menimpakan bala alias kesialan bagi yang mengucapkannya.

“Petuah orang tua kita begitu, terutama sepasang kekasih pantang menyebut larangan itu, nanti hubungannya akan berantakan. Kalau jomblo ga masalah,” imbuh Suparman sembari tertawa.

Begitulah Natuna, tak pernah lepas dari deretan cerita legenda. Uniknya, legenda itu menjadi akar budaya setempat. Bahkan, petuah dalam setiap legenda juga dihormati dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pribumi.

Geopark Natuna terbentang dari bagian selatan hingga ke utara, hampir menutupi separuh sisi timur Pulau Bunguran. Batu Kasah dan Senubing, barulah sebagian dari total 8 geosite yang ada. (*/dan)