Site icon Lendoot.com | Trend Berita Karimun Kepri

Melongok Geliat Ramadan di Wilayah 3T di Pulau Kojong Lingga

Mushola Al-Ikhlas yang berdiri di Pulau Kojong Desa Penaah Senayang Lingga yang dijadikan pusat keagamanan di wilayah 3T tersebut, kemarin. (ft wandy)

Mushola Al-Ikhlas yang berdiri di Pulau Kojong Desa Penaah Senayang Lingga yang dijadikan pusat keagamanan di wilayah 3T tersebut, kemarin. (ft wandy)

Lingga– Angin laut berembus pelan menyapu pesisir Pulau Kojong, Desa Penaah, Kabupaten Lingga. Di wilayah terluar ini, Ramadan 1447 H hadir membawa cahaya kedamaian yang tak hanya menyentuh cakrawala, tetapi juga meresap jauh ke dalam hati sanubarinya.

Jauh dari hiruk-pikuk kota, pembinaan keagamaan justru semakin digencarkan. Adalah Ustadz Imaduddin, sosok yang mendedikasikan diri membawa rangkaian kegiatan Ramadan demi menguatkan pemahaman ibadah masyarakat pesisir dan Suku Laut di pulau tersebut.

Di Mushola Al-Ikhlas yang sederhana, suara lantunan ayat suci Al-Qur’an kini berpadu harmonis dengan desir ombak. Dukungan penuh dari masyarakat Suku Laut menjadi energi yang membuat langkah pembinaan ini terasa hangat dan penuh harapan.

Setiap sore menjelang berbuka puasa, pengajian rutin digelar secara khidmat. Di atas lantai mushola, anak-anak, remaja, hingga orang tua duduk bersisian mempelajari dasar-dasar ibadah dan pembinaan akhlak.

“Pengajian rutin kami gelar setiap menjelang berbuka. Pesertanya beragam, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Fokus kami adalah materi dasar ibadah dan penguatan akhlak,” ujar Ustadz Imaduddin, Senin (23/2/2026).

Bagi generasi muda Pulau Kojong, Ramadan kali ini menjadi ajang menempa diri. Anak-anak diberi tugas khusus untuk menghafal Surah Al-Fatihah dan bacaan tahiyat akhir secara benar. Hafalan ini bukan sekadar tugas rutin, melainkan upaya menanamkan “cahaya” pondasi salat bagi masa depan mereka.

Guna memastikan progres pembinaan, evaluasi dijadwalkan akan dilaksanakan pada Jumat, 27 Februari 2026 mendatang. Keseriusan ini menunjukkan bahwa meski berada di pulau terluar, standar pembinaan dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

 Sesaat sebelum azan Magrib berkumandang, suasana gotong royong kental terasa. Sajian berbuka yang sederhana namun nikmat—mulai dari kurma kiriman panitia hingga kelapa muda, nasi, dan ikan hasil tangkapan warga—dinikmati bersama dalam lingkaran persaudaraan.

Malam harinya, sunyi pesisir pecah oleh suara jemaah yang melaksanakan salat Tarawih dan mendengarkan kultum. Usai salat, para remaja melanjutkan agenda dengan tadarus Al-Qur’an, membiarkan ayat-ayat suci mengalun syahdu di bawah langit malam Lingga yang luas.

Ustadz Imaduddin menegaskan bahwa pembinaan di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) ini bukan sekadar agenda musiman Ramadan. Kebersamaan yang terbangun diharapkan menjadi fondasi kokoh agar api iman tetap menyala terang, bahkan ketika bulan suci telah berlalu. (*/wan)  

Exit mobile version