Tanjungpinang – Terminal Sri Bintan Pura, sebagai gerbang utama masuknya wisatawan ke Tanjungpinang, kini menerapkan kebijakan baru yang menarik. Seluruh pegawai dan petugas di terminal ini diwajibkan mengenakan Tanjak, penutup kepala khas Melayu, sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya lokal dan memperkuat identitas daerah.
General Manager Terminal Sri Bintan Pura, Tonny Hendra Cahyadi, mengatakan bahwa penggunaan Tanjak bukan sekadar simbol seremonial, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap warisan budaya yang telah turun-temurun di masyarakat Melayu.
“Tanjak bukan hanya sekadar penutup kepala, tetapi juga simbol harga diri dan kebijaksanaan,” ujarnya. “Dengan mengenakannya, kami ingin menciptakan suasana yang lebih berbudaya, sekaligus memperkenalkan identitas Melayu kepada setiap orang yang datang.”
Selain itu, Terminal Sri Bintan Pura juga mengadakan program edukasi bagi pegawai mengenai sejarah dan filosofi Tanjak.
“Harapan kami, setiap petugas yang mengenakan Tanjak memahami makna di baliknya dan bisa menyampaikannya kepada pengguna jasa terminal,” tambah Tonny.
Kebijakan ini mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, Muhammad Nazri. Ia menilai kebijakan ini sebagai inovasi positif dalam meningkatkan kualitas layanan terminal serta melestarikan budaya lokal.
“Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pelindo yang terus melakukan pembenahan dan inovasi demi memberikan layanan terbaik bagi para penumpang di Pelabuhan SBP,” ujarnya.
Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, diharapkan akan memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal, termasuk sektor pariwisata, UMKM, dan transportasi.
“Dengan bertambahnya jumlah wisatawan, roda perekonomian masyarakat akan semakin bergerak,” pungkas Nazri. (fji)

