Karimun – Suara raungan mesin motor berkapasitas kecil memecah keheningan kawasan Coastal Area Kabupaten Karimun setiap akhir pekan. Di atas lintasan aspal Sirkuit Non-Permanent (NP) Family 757 sepanjang 850 meter, belasan pebalap cilik tampak melesat lincah menaklukkan setiap tikungan dengan penuh percaya diri.
Pemandangan itu bukan sekadar permainan anak-anak. Di balik helmet dan wearpack yang mereka kenakan, tersimpan mimpi besar untuk menjadi pebalap profesional yang kelak mampu mengharumkan nama daerah dan Indonesia di ajang balap nasional maupun internasional.
Latihan rutin MiniMoto yang digelar di Sirkuit NP Family 757 telah berlangsung secara konsisten selama tiga tahun terakhir. Program pembinaan ini menjadi wadah pencarian sekaligus pembentukan bibit-bibit pebalap muda asal Kabupaten Karimun sejak usia dini.
Sebanyak 15 pebalap berusia 6 hingga 14 tahun mengikuti latihan secara rutin setiap pekan. Meski masih anak-anak, mereka dibiasakan menjalani latihan dengan standar keselamatan layaknya pebalap profesional.

Atlet muda NB757 di salah satu event Kejurda Kepri, beberapa waktu lalu. (ft mori)
Sebelum mengaspal menggunakan motor MiniMoto berkapasitas 50 cc hingga 110 cc, seluruh peserta diwajibkan mengenakan perlengkapan keselamatan lengkap atau full gear, mulai dari wearpack balap, helm standar kompetisi, sepatu balap, hingga pelindung siku dan lutut. Penerapan disiplin tersebut bertujuan menanamkan budaya safety riding sejak usia dini.
Saat ini pembinaan difokuskan pada dua kelas utama, yakni MiniMoto Matic 50 cc dan MiniMoto 110 cc–130 cc. Kedua kelas tersebut menjadi tahapan dasar sebelum para pebalap melangkah ke jenjang balap yang lebih tinggi.
Di balik mungilnya motor MiniMoto, tersimpan tantangan teknis yang tidak sederhana. Menurut Alun, salah seorang mekanik di Sirkuit NP Family 757, proses penyetelan motor MiniMoto justru lebih rumit dibandingkan motor bebek konvensional.
“Permasalahannya ada pada sistem matic tanpa suspensi. Karena tidak memiliki peredam kejut, motor menjadi lebih mudah kehilangan keseimbangan. Kalau motor standar jalan raya, penyetelannya justru lebih mudah,” jelas Alun.
Tak hanya persoalan mesin, para pelatih juga menghadapi tantangan dalam membina karakter para pebalap yang masih berada pada usia bermain. Pendekatan yang dilakukan bukan sekadar melatih kemampuan mengendarai motor, tetapi juga membangun mental, disiplin, dan rasa percaya diri.
Mereka diajarkan berbagai teknik dasar balap, mulai dari menentukan racing line, mengatur bukaan gas, mengombinasikan penggunaan rem depan dan belakang saat memasuki tikungan, hingga memahami kontrol motor dalam berbagai kondisi lintasan.
Kerja keras para pelatih pun mulai menunjukkan hasil. Semangat dan determinasi tinggi terlihat dari para pebalap muda yang terus berkembang setiap sesi latihan.
Salah satunya adalah Zacky, siswa kelas V SDIT Cendekia asal Bukit Senang, Kabupaten Karimun. Meski usianya masih belia, ia telah memiliki tekad kuat untuk menjadi juara.
“Kalau takut sih tidak. Malah senang kalau bisa jadi juara,” ucap Zacky dengan penuh semangat, Kamis (9/7/2026).
Konsistensi pembinaan yang dilakukan keluarga besar Sirkuit NP Family 757 menjadi angin segar bagi perkembangan olahraga otomotif di Kabupaten Karimun dan Kepulauan Riau. Dengan latihan yang berkesinambungan, pembinaan yang terarah, serta dukungan berbagai pihak, bukan tidak mungkin lintasan sederhana di kawasan Coastal Area Karimun ini akan melahirkan pebalap-pebalap muda berbakat yang mampu bersaing di tingkat nasional, bahkan mengibarkan Merah Putih di arena balap internasional pada masa mendatang. (msa)