Site icon Lendoot.com | Trend Berita Karimun Kepri

Keluarga Pasien Kecewa Dokter IGD di RSUD Muhammad Sani Tolak Rawat Inap dan Usir Pasien

Hal senada diungkapkan warga lainnya, Ari. Dia mengatakan percuma gedung rumah sakitnya besar, gagah dan megah, jika pelayanannya tidak optimal. “Niat pak Sani dulu membangun rumah sakit itu untuk membantu masyarakat, menolong masyarakat yang membutuhkan bantuan layanan kesehatan, tapi pelayanan sepertinya tidak ada perbaikan dari tahun ke tahun,” ujar Ari. Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Karimun Rachmadi yang dikonfirmasi langkah-langkah perbaikan yang telah dan akan dilakukan untuk perbaikan pelayanan RSUD M Sani itu, tidak memberikan balasannya. Pesan singkat konfirmasi yang dikirim melalui WhatsApp terkait keluhan masyarakat seolah tidak mendapat balasannya.

Gambar RSUD Muhammad Sani. (dok lendoot)

Karimun – Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muhammad Sani kembali menjadi sorotan. Ini setelah ada laporan seorang pasien ditolak mendapatkan layanan rawat inap oleh dokter jaga di ruang IGD (Instalasi Gawat Darurat) di RS Pelat Merah tersebut.

Kabar ini berawal, pada Jumat (28/3/2025) pukul 18.00 WIB, seorang pasien bernama Arbaiyah dirujuk ke IGD RSIUD M Sani. Kedatangan pasien bersama anaknya ini untuk mendapatkan pemeriksaan terhadap si pasien.

“Di sana kami jumpa sama dokter. Dokter menanyakan apa yang dirasa dan apa kondisi ibu saya. Setelah itu dia bilang kalau ini hanya demam tidak ada indikasi gawat darurat,” ujar Mariana selaku anak pasien kepada media ini.

Karena kondisi si ibu tak memungkinkan untuk dibawa ke rumah, kemudian Marian berujar ke dokter jaga tersebut,” kalau bisa tolong dirawat dok, sebab di rumah menggigil hebat karena sering dirawat di sini dan dokter Ardy spesialis penyakit dalam yang sering merawat ibu pernah bilang, kalau demam dan menggigil harus segera ke RSUD sebab berarti ada infeksi,” ujar Mariana.

Yang membuat Marian dan Arbaiyah kecewa adalah tanggapan dan jawaban si dokter yang langsung menyulut emosi si pasien dan keluarganya.

“Dokter itu bilang, Anda dengar gak maksud saya. Disini saya yang dokternya, saya yang g bisa memberikan (keputusan, red), bisa di rawat atau gaknya,” ujar Marinan menirukan ucapan si dokter.

Yang membuat kecewa, dokter hanya memeriksa tanpa melakukan cek darah atau tindakan apapun untuk dilakukan. “Hanya pemeriksaan tensi dan lain-lain saja. Lalu disuruh pulang, padahal ibu saya sangat menderita sakitnya,” kata Mariana lagi.

Kemudian, Mariana dan Arbaiyah menanyakan ke dokter tersebut,“saya bilang ini rumah sakit, ibu saya sakit tapi kenapa gak bisa diobati?” ujarnya kepada dokter.

Yang membuat kecewa pasien dan keluarganya, si dokter dengan nada emosi dan berkata-kata dengna nada kasar kepada si pasien berujar,”kalau demam bukan ke sini harusnya,” ujar Mariana menirukan ucapan si dokter.

Kemudian Arbaiyah bertanya lagi ke dokter, “jadi saya saya harus kemana, dok? Terus dia jawabm gak bisa dirawat, di sini bukan hotel yang bisa seenaknya kalian nginap,” ujar Mariana menirukan ucapan si dokter yang membuatnya sangat kecewa.

Atas kejadian ini, Mariana mengatakan menyampaikan keterangan ini kepada khalayar melalui media ini, agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.

Sementara itu, Bidang Pelayanan RSUD Muhammad Sani Dedi mengatakan, belum mendapatkan kabar perihal kejadian tersebut. Setelah mengkonfirmasi ke IGD, bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan kepada pasien, tidak perlu dirawat inap.

“Mungkin cara komunikasi atau edukasi dokter kepada pasien dan keluarga yang kurang pas, sehingga pasien dan keluarga merasa tidak nyaman. Kami mohon maaf atas hal ini. Akan kami evaluasi dan perbaiki agar ke depan tidak terjadi hal serupa, baik oleh dokter maupun petugas lain di rumah sakit,” jelas Dedi kepada Lendoot.com.

Selanjutnya, Mariana membawa ibunya ke RS Bakti Timah. Di RS ini, Arbaiyah diarahkan untuk melakukan cek darah dan dinyatakan mengalami infeksi dan butuh perawatan intensif dan harus menginap di rumah sakit tersebut. (msa)

Exit mobile version