Karimun – Menutup rangkaian catatan sejarah kedai kopi legendaris di Pulau Karimun, kita mengunjungi sebuah sudut di simpang empat Jalan Trikora yang mengarah ke Jalan Pegadaian. Di sanalah berdiri Kedai Kopi Botan, sebuah destinasi kuliner lawas yang pesonanya tak pernah pudar oleh waktu.
Kedai ini dikenal sebagai titik kumpul berbagai lapisan masyarakat, mulai dari warga lokal hingga pejabat daerah. Salah satu tokoh yang dikenal paling sering singgah adalah mantan Gubernur Kepri, Nurdin Basirun, terutama saat beliau masih menjabat sebagai Bupati Karimun.
Ingatan kolektif masyarakat membawa kita kembali ke era transaksi Dolar Singapura masih berlaku. Kala itu, bangunan Kedai Kopi Botan masih berbahan papan kayu yang terdiri dari dua pintu. Satu sisi digunakan sebagai kedai kopi, sementara sisi lainnya adalah area permainan biliar.
Seiring berjalannya waktu, bangunan tersebut direnovasi menjadi konstruksi permanen (batu). Area biliar pun dialihfungsikan menjadi ruang tambahan kedai, membuat suasananya menjadi jauh lebih luas dan nyaman bagi para pelanggan setianya.
Meskipun secara resmi awalnya bernama Kedai Kopi Simpang Jaya, masyarakat jauh lebih akrab menyebutnya Kedai Kopi Botan. Nama ini diambil dari sosok pemiliknya, Liu Pok Siang alias Dudy Hartono, yang akrab disapa Botan.
Botan meneruskan warisan usaha orang tuanya sejak tahun 1979. Dalam menjalankan kesehariannya, ia didampingi oleh sang istri yang dikenal sangat aktif membantu melayani para pengunjung.
Setiap kedai kopi memiliki “jiwa” pada kulinernya. Di Kedai Kopi Botan, menu pamungkas yang paling dicari adalah Roti Bakar dan Telur Ayam Kampung, selain sajian wajib lainnya seperti Lontong Sayur. Ada sebuah pameo di kalangan pelancong: “Belum lengkap kunjungan Anda ke Karimun jika belum mencicipi menu spesial di meja Botan.”
Estafet Generasi di Tengah Kabut Duka
Kisah Kedai Kopi Botan sempat diwarnai duka mendalam ketika Botan dan istrinya berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa dalam waktu yang hanya berselisih beberapa hari saja. Kedai sempat ditutup sementara untuk menghormati masa berkabung keluarga.
Kini, pintu Kedai Kopi Botan telah kembali terbuka. Estafet kepengelolaan dilanjutkan oleh putra-putrinya sebagai generasi penerus. Meskipun raga Sang Legenda telah tiada, cita rasa dan kehangatan yang ditinggalkannya diharapkan tetap terjaga di tangan generasi baru, menjaga agar api sejarah kuliner Karimun tetap menyala. (*/msa)

