Karimun, Lendoot.com- Angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau melonjak tinggi.
Dari data Dinas Kesehatan Karimun, ditemukan sebanyak 318 kasus DBD sepanjang 2022 ini. Tiga antaranya meninggal dunia.
Pemerintah Kabupaten Karimun menanggapi serius peningkatan kasus yang terjadi. Bahkan, orang nomor satu di Karimun Aunur Rafiq sampai memanggil seluruh pimpinan OPD, Camat dan Lurah se Kabupaten Karimun.
Pemanggilan itu untuk melakukan koordinasi tentang penanganan kasus DBD tersebut.
Bupati Karimun mengatakan, pihaknya sudah mengambil sejumlah langkah terkait penanganan kasus DBD dalam rapat tersebut.
Langkah pertama, kata dia, meminta seluruh perangkat Kecamatan, Kelurahan dan Kepala Puskesmaa untuk menggelar bakti sosial (baksos) gerakan 5M (Menguras, Menaburkan, Mengganti, Menutup, dan Menimbun) di tempat yang sudah menjadi atau rawan sarang nyamuk.
“Langkah pertama kita sudah pemetaan kasus DBD dimana saja titik fokusnya, kemudian saya minta camat dan lurah serta kepala puskesmas untuk menggelar baksos 5M dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat,” kata Bupati.
Rafiq mengatakan, pihaknya juga mengambil langkah penyemprotan atau fogging nyamuk di sejumlah titik yang terdapat kasus DBD.
“Fogging nyamuk juga akan dilakukan segera di wilayah yang ada kasus DBD,” katanya.
Bupati Rafiq menjelaskan, bahwa pihaknya juga akan mendistribusikan Abate atau pestisida yang dapat membunuh larva nyamuk ke masyarakat.
Hanya saja, kata Bupati, jenis Abate saat ini yang tersedia hanya dalam bentuk cair dengan stok yang terbatas.
“Saat ini yang ada Abate cair bukan padat, karena ada perubahan dari pusat bahwa Abate diganti produk lain yang masih dalam proses pengadaan. Sehingga, yang akan distribusikan adalah Abate jenis cair yang masih ada stoknya,” jelas Bupati.
Terakhir, Bupati mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk segera membawa anggota keluarganya ke rumah sakit jika memiliki gejala DBD.
Pasalnya, kasus meninggal dunia karena DBD sering kali disebabkan oleh keterlambatan penanganan oleh pihak keluarga.
“Sejumlah kasus meninggal dunia disebabkan oleh keterlambatan penanganan karena keluarga sering mengira pasien demam biasa, untuk itu saya mengimbau masyarakat untuk dapat memahami betul perbedaan gejala DBD dengan demam biasa. Jika ada gejala DBD, segera bawa ke rumah sakit,” ucap Bupati.
(rko)
