Jakarta, Lendoot.com – Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), mengumumkan sebuah inisiatif baru yang bekerja sama dengan Bloomberg Philanthropies dan ViriyaENB untuk meningkatkan kualitas udara di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).
Sebagai rumah bagi sekitar 30 juta penduduk, wilayah Jabodetabek merupakan salah satu kota metropolitan terbesar dan terluas di dunia, yang dikelilingi oleh pabrik-pabrik industri dan banyak industri rumahan.
Inisiatif baru itu bertujuan untuk meningkatkan keahlian teknis dan penelitian data tentang polusi udara, serta mengembangkan rekomendasi kebijakan yang akan menjadi dasar bagi cetak biru nasional untuk meningkatkan standar kualitas udara di kota-kota di Indonesia.
Kualitas udara di wilayah Jabodetabek telah menurun selama beberapa bulan terakhir karena musim kemarau yang berkepanjangan tahun ini dan emisi dari kendaraan bermotor serta industri di sekitarnya.
Kemitraan baru ini diharapkan dapat melengkapi upaya Indonesia untuk mencapai emisi nol bersih dan meningkatkan ketahanan iklimnya. Kualitas udara telah menjadi prioritas utama menyusul meningkatnya polusi udara di wilayah Jabodetabek dan seruan Presiden Indonesia Joko Widodo kepada pemerintahannya untuk melakukan upaya-upaya berbasis kesehatan guna mengatasi masalah tersebut.
“Polusi udara di wilayah Jabodetabek merupakan tantangan yang kompleks dan berlapis-lapis yang memerlukan kolaborasi dari para pemangku kepentingan nasional dan internasional untuk merumuskan dan mengimplementasikan solusi yang inovatif,” kata Rachmat Kaimuddin, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kemenko Marves dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (22/11/2023).
“Oleh karena itu, kami sangat senang dapat menjalin kemitraan baru dengan Bloomberg Philanthropies dan ViriyaENB, karena mereka akan membawa keahlian dan solusi kelas dunia.”
“Polusi udara merupakan tantangan lingkungan dan kesehatan masyarakat yang hanya dapat diatasi dengan data yang akurat, kemauan politik, dan kemitraan yang kuat,” ujar Antha Williams, yang memimpin Program Lingkungan Bloomberg Philanthropies.
“Melalui kolaborasi baru dengan Pemerintah Indonesia ini, kami berharap dapat bekerjasama dengan para mitra dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi untuk memastikan wilayah Jabodetabek memiliki akses terhadap udara bersih yang akan meningkatkan kesehatan dan memperkuat perekonomian,” ujarnya kagi.
Kemitraan itu akan mendukung upaya Indonesia dalam mengurangi polusi udara dengan berfokus pada data dan penelitian yakni mempromosikan penggunaan sumber data yang transparan dan penelitian berbasis bukti ilmiah untuk memberikan informasi dalam pembuatan kebijakan nasional mengenai kualitas udara;
Pertemuan dan Keterlibatan: Mengadopsi pendekatan multi pihak untuk melibatkan semua lembaga pemerintah pusat, pemerintah daerah terkait, industri, kelompok masyarakat utama, dan para ahli dalam mengembangkan rencana aksi udara bersih yang komprehensif untuk Jabodetabek;
Keahlian Teknis: Menggerakkan keahlian teknis terbaik, nasional dan internasional, untuk mendukungbupaya peningkatan kualitas udara di Jabodetabek;
Komunikasi & Berbagi Pengetahuan: Memfasilitasi pertukaran pembelajaran yang konstruktif diantara pejabat pemerintah terkait, industri, pemangku kepentingan masyarakat, dan para kelompok ahli.
“Hasil dari inisiatif itu, yang akan dibangun di atas fondasi data yang akurat dan transparan, tidak hanya akan mengurangi dampak polusi udara berbahaya di Jabodetabek, tetapi juga menyediakan cetak biru untuk diikuti oleh seluruh Indonesia,” ujar Suzanty Sitorus, Direktur Eksekutif ViriyaENB.
“Kami berharap dapat memperluas kemitraan kami dengan Pemerintah Indonesia dan Bloomberg Philanthropies untuk mengatasi tantangan yang sangat besar dan kompleks ini,” katanya.
Pengumuman hari ini merupakan kelanjutan dari Jakarta Clean Air Partnership yang diluncurkan pada tahun 2020 antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Bloomberg Philanthropies, dan mitra pelaksana Vital Strategies untuk meningkatkan ketersediaan dan penggunaan data kualitas udara, menganalisis solusi kebijakan, serta mempromosikan kesadaran masyarakat tentang dampak kesehatan dari polusi udara.
Kemitraan ini berhasil menerbitkan buku putih “Menuju Udara Bersih Jakarta”, yang menyoroti sumbersumber polusi udara di Jakarta, upaya yang telah dilakukan untuk mengurangi polusi udara, dan serangkaian proposal kebijakan awal untuk Provinsi DKI Jakarta.
Pengumuman hari ini merupakan bagian dari Program Udara Bersih Global dari Bloomberg Philanthropies. Program itu merupakan kelanjutan dari peluncuran Breathe Cities, sebuah inisiatif global untuk mengatasi hambatan untuk melakukan tindakan dalam peningkatan kualitas udara dan memastikan masyarakat di seluruh dunia memiliki akses terhadap udara bersih.
Program ini dibangun berdasarkan upaya yang telah dilakukan oleh Bloomberg Philanthropies di berbagai kota di dunia seperti Brussel, London, Milan, Paris, Warsawa, dan kota-kota lainnya untuk melacak polusi udara dan membentuk advokasi publik serta langkah-langkah kebijakan untuk mengurangi polusi.
Program tersebut juga merupakan kelanjutan dari kemitraan Bloomberg Philanthropies dengan ClimateWorks Foundation untuk memajukan transisi energi ramah lingkungan di kota-kota, negara bagian, dan negaranegara di berbagai belahan dunia.
Polusi udara merupakan salah satu masalah global yang paling mendesak. Hampir tidak ada wilayah perkotaan yang memiliki kualitas udara yang memenuhi pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Sebanyak 41persen kota memiliki polusi udara tujuh kali lebih tinggi dari rekomendasi WHO, yang berarti penduduknya menghirup udara dengan polusi berbahaya yang dapat menyebabkan serangkaian masalah kesehatan seperti asma dan penyakit pernapasan lainnya.
Polusi udara juga dikaitkan dengan 7 juta kematian dini setiap tahunnya. Di seluruh dunia, polusi udara merugikan perekonomian global sebesar $8,1 triliun, atau setara dengan 6,1persen dari PDB global. Penduduk yang tinggal di kota-kota di mana kepadatan, geografi, dan polusi dari transportasi serta industri menimbulkan bahaya sehari-hari, mereka harus berhadapan langsung dengan kenyataan ini. (*/rsd)

