Site icon Lendoot.com | Trend Berita Karimun Kepri

Harum Parfum Politik di Karimun: Wanginya Membius, Efeknya?

Adiya Bapriyanto, Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan STISIPOL Raja Haji, Tanjungpinang

Adiya Bapriyanto, Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan STISIPOL Raja Haji, Tanjungpinang

Penulis: Adiya Bapriyanto, Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan STISIPOL Raja Haji, Tanjungpinang

Hiruk pikuk jelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Kabupaten Karimun mulai menghangat. Berbagai baliho, poster wajah-wajah yang gagah mulai menghias jalan dengan berbagai gaya dan kata.

Kata-kata manis itu mengalahkan iklan produk dagangan, ibarat parfum yang disemprotkan, harumnya mulai menebar ke segala arah. Debat kusir di lini massa media sosial dan tongkrongan perkopian berhembus menyajikan drama politik yang tak pernah gagal memikat perhatian publik.

Politik tak selalu sewangi parfum, kawan!  

Berbicara mengenai pemilihan, ada satu hal yang cukup menarik untuk dibahas. Walaupun hal ini terkesan sudah usang, sebab telah menjadi persoalan yang menjadi rahasia publik: sama-sama tahu, tapi selalu ditutupi. Sebut saja hal itu sebagai ‘Janji Politik’.

Dalam konteks Pilkada, calon kepala daerah sering kali berperan sebagai aktor  dengan menyuguhkan janji menggiurkan ke semua ladang. Tidak terkecuali ladang tandus sekalipun, mereka berusaha menampilkan citra terbaik di depan publik dan individu, berperilaku berbeda di berbagai ‘panggung’ kehidupannya.

Sederhananya, panggung ini adalah arena politik. Dari sini kita bisa memahami pasangan calon membangun narasi heroik-menjadi penyelamat rakyat Karimun dari kemiskinan, pendidikan yang rendah, dan tata kelola pemerintahan dan infrastruktur yang buruk.

Hanya saja, saat layar diturunkan pasca-Pilkada, kita kembali menghadapi kenyataan pahit janji yang terucap hanyalah hiasan tanpa makna,

‘Janji dan Dusta Tipis Jaraknya’. Uang namanya janji pasti ada yang berhasil ditepati, pasti pula ada sebagian yang dilupakan, atau pura-pura lupa karena tidak mampu dilakukan.

Janji politik merupakan komitmen yang disampaikan kandidat kepada masyarakat, yang seharusnya dipandang sebagai kontrak sosial. Setiap janji yang dibuat tidak boleh hanya menjadi retorika untuk menarik perhatian, tetapi harus didasarkan pada pemahaman mendalam tentang kondisi sosial-ekonomi masyarakat setempat.

Sejatinya pemimpin yang baik adalah mereka yang tidak hanya mampu menebarkan janji, tetapi juga memiliki rencana konkret untuk mewujudkan janji tersebut setelah terpilih.

Ingat ‘Janji bukan hanya strategi, namun harus direalisasi’.

Selamat memilih calon pemimpin rerbaik, khususnya calon pemimpin untuk Kabupaten Karimun. (***)

Exit mobile version