Surya Makmur Nasution, Mantan Wartawan, ini menjabat Ketua PKB Kota Batam. (dok pribadi)

Penulis: Surya Makmur Nasution, Mantan Wartawan, Politisi, Ketua PKB Kota Batam

Awal bulan ini, Saya bersama kawan-kawan berkesempatan mengunjungi Pulau Bintan. Kami bermaksud healing berwisata ke Pulau Bintan setelah wisata Lagoi lama ditutup karena Covid-19.

Pilihan ke Pulau Bintan sebagai tempat wisata karena berbiaya hemat dengan destinasi nan elok dan berkelas. Misalnya, Lagoi, yang memiliki hamparan pulau di kelilingi laut berkelas dunia, mulai dari keindahan pantai, bentuk alamnya yang khas dengan udaranya yang sejuk dan infrastrukturnya yang apik, seperi lapangan golf Ria Bintan, terbaik di Asia.

Jumlah rombongan kami sebanyak 20 orang, terdiri dari orang dewasa dan anak-anak. Kami berangkat tepat jam 08.00 WIB. Dari pelabuhan ASDP Ferry Terminal, Telaga Punggur, Batam, kami menggunakan jasa roll on roll off atau Ro-Ro.

Disebut Ro-Ro karena kapal tersebut dapat memuat dan menggerakkan kendaraan berjalan masuk dan keluar dari kapal sendiri.

Kapal Ro-Ro di kalangan warga Batam atau umumnya Kepri, sudah dikenal. Kapal angkutan barang berupa kemdaraan truk, mobil penumpang, motor dan pejalan kaki ini menggunakan pintu rampa (depan dan belakang) dan dermaga removeble bridge. Dengan kata lain, Ro-Ro dapat disebut sebagai kapal penyeberangan kendaraan bermotor., seperti Merak (Tanjungpriuk) ke Bakauheni (Lampung Selatan).

Jasa Ro-Ro yang disediakan Angkutan Sungai Danau Penyeberangan (ASDP) Kementerian Perhubungan ini tergolong berbiaya murah dan hemat. Tarif penumpang Rp 23.900 per orang dari Punggur ke Pelabuhan Tanjung Uban, Bintan. Mobil penumpang pribadi Rp 208.200.

Dibandingkan tarif speedboat Tanjung Uban- Punggur per penumpang dikenakan Rp 59.000. Lebih mahal. Hanya saja, jarak waktu tempuh, naik Ro-Ro menghabiskan waktu 60 menit, sedangkan menggunakan speedboat hanya 15 menit.

 Meski naik Ro-Ro waktu tempuh lebih lama, ada juga plus minusnya. Penumpang yang naik Ro-Ro berada di kapal yang luas dengan tempat duduk yang memadai,. Minusnya, penumpang yang telah membeli tiket, tidak ada jaminan mendapatkan tempat duduk, karena ramainya penumpang.

Rombongan kami yang tour ke Bintan harus tegak berdiri dari Punggur ke Tanjung Uban, karena ramainya penumpang di trip pertama. Ramainya penumpang biasanya terjadi pada saat weekend.

Penumpang berupaya naik Ro-Ro trip pertama untuk menghemat waktu lebih cepat sampai ke Tanjung Uban. Sehingga destinasi tujuan wisata ke Pulau Bintan dapat dikunjungi beberapa tempat.

Ketua Himpinan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kepri Abdi Natigor Simatupang mengatakan, saat inji kendaraan Ro-Ro menjadi alternatif wisatawan lokal. Selain dapat menghemat biaya, Tanjung Uban menjadi penghubung ke berbagai destinasi tempat wisata.

“Satu rombonhan minimal 20 orang sudah bisa menikmati sejumlah destinasi wisata Bintan yang berkelas dan tak kalah menariknya dengan tempat lain,” kata Abdi ketika ikut mendampingi rombongan kami.

Muhammad Mukarrom, seorang tour guide di Bintan menjelaskan, bahwa mereka sejak 2015 lalu sudah melakukan berbagai cara untuk meramaikan tour ke Bintan. Pihaknya, bekerja sama dengan berbgaI pihak, termasuk hotel restoran, masyarakat dan pemerintah daerah untuk menciptakan destinasi wisata yang menarik.

Selama ini, kata Mumu, Pulau Bintan hanya dikenal dengan Lagoi-nya. Padahal, ada banyak tempat wisata yang dapat dikunjungi, seperti patung sleeping Budha, padang pasir dan telaga biru, kincir angin ala Bintan, kuliner durian “kampung” di tengaj hutan, makanan seafood, pinggir laut, dan bermalam dengan kemah di kaki Gunung Bintan.

 Khusus kuliner makanan seafood di pinggir pantai atau laut, rasa dan aroma ikan pedasnya sangat menggoda. Selain ikannya segar-segar, udang, ketam atau kepiting, cumi maupun gong-gong (kerang laut khas Kepri), lidah terasa dimanjakan.

“Kami sudah berkoordinasi dengan para stake holder untuk menciptakan Bintan sebagai destinasi yang berkualitas tinggi berbiaya hemat,” ujar Mumu, panggilan akrab Mukarrom yang juga pelaku usaha wisata Bintan itu.

Meski bepergian dengan Ro-Ro sedikit melelahkan, akhirnya terbayar juga dengan asyiknya tempat wisata Bintan.

Apalagi jika pihak Kemenhub berbaik hati memberikan sedikit fasilitas yang lebih nyaman di kapal Ro-Ro, bukan tidak mungkin, ke depan, tour wisata Batam-Bintan dapat menggerakkan perekonomian kedua daerah. (***)