Bullying atau perundungan adalah perilaku agresif yang berulang-ulang, dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap orang lain.
Bullying dapat terjadi di sekolah, di rumah, atau bahkan secara online. Bullying dapat memiliki dampak yang serius pada kesehatan mental dan fisik anak, jika anak yang menjadi korbannya.
Perilaku ini bisa dilakukan oleh berbagai kalangan usia, namun lebih sering terjadi pada anak remaja karena memiliki emosi yang cenderung belum stabil. Kendati demikian, bullying tak boleh diremehkan dan dianggap normal karena berisiko menimbulkan dampak negatif dalam jangka panjang.
Jika tidak segera dihentikan, perilaku bullying bisa menyebabkan berbagai macam gangguan mental maupun fisik bagi korban yang mengalaminya. Disadur dari beberapa sumber ini dampak bullying;
1. Memicu Masalah Mental
Dampak bullying bagi korban yang paling sering terjadi adalah memicu masalah kesehatan mental, seperti gangguan cemas, depresi, hingga post-traumatic stress disorder (PTSD). Pengaruh bullying terhadap kesehatan mental ini biasanya dialami oleh korban dalam jangka waktu panjang.
2. Gangguan Tidur
Insomnia juga menjadi salah satu dampak bullying bagi korban yang tak boleh diremehkan. Pasalnya, korban bullying sering kali mengalami stres berkepanjangan yang bisa menyebabkan hyperarousal, yaitu kondisi ketika tubuh menjadi sangat waspada sehingga mengganggu keseimbangan siklus tidur dan terjaga.
3. Penurunan Prestasi
Anak yang mengalami bullying biasanya akan kesulitan untuk memusatkan fokus dan konsentrasinya saat sedang belajar. Korban bullying juga kerap merasa enggan untuk pergi ke sekolah karena ingin menghindari tindakan penindasan yang dialaminya. Bila dibiarkan terus-menerus, kondisi tersebut bisa berdampak pada penurunan prestasi akademik anak.
4. Trust Issue
Trust issue merupakan kondisi ketika seseorang sulit memercayai orang-orang yang ada di sekitarnya. Kondisi ini rentan dialami oleh korban bullying karena mereka khawatir akan mendapatkan perlakuan buruk kembali bila menaruh kepercayaan terhadap orang lain.
Bahkan, bila tidak segera diatasi, korban bullying yang mengalami trust issue cenderung akan menutup dirinya dan enggan bersosialisasi dengan orang lain.
5. Memiliki Pikiran untuk Balas Dendam
Dampak bullying terhadap psikologi korban berikutnya adalah memiliki pikiran untuk balas dendam. Hal ini perlu diwaspadai karena bisa menyebabkan seseorang melakukan tindakan kekerasan pada orang lain untuk melimpahkan kekesalannya.
6. Memicu Masalah Kesehatan
Selain psikis, tindakan bullying bisa memengaruhi kondisi tubuh terutama bagi korban yang mendapatkan kekerasan secara fisik, seperti luka dan memar.
Bahkan, bullying juga turut memicu stres berkepanjangan sehingga berisiko menimbulkan berbagai macam masalah kesehatan, di antaranya penurunan daya tahan tubuh, sakit kepala, dan gangguan pencernaan. Perilaku ini pun dapat memperburuk kondisi anak yang telah memiliki riwayat masalah kesehatan sebelumnya, seperti gangguan jantung atau penyakit kulit.
Sementara itu, juga masih disadur dari beberapa sumber, berikut ini adalah beberapa tips untuk membantu anak Anda terhindar dari bullying:
1. Komunikasi Terbuka dengan Anak Anda
Tanyakan tentang hari sekolahnya: Tanyakan bagaimana harinya, apakah ada masalah yang dihadapi, dan apakah ada teman yang mengganggu atau mengejeknya.
Berikan dukungan: Biarkan anak Anda tahu bahwa Anda selalu siap mendengarkan dan mendukungnya.
Ajarkan tentang bullying: Jelaskan kepada anak Anda apa itu bullying dan bagaimana hal itu bisa terjadi.
2. Ajarkan Anak Anda untuk Menghargai Diri Sendiri
Bantu anak Anda mengembangkan kepercayaan diri: Pujilah anak Anda atas pencapaiannya dan dorong dia untuk mencoba hal-hal baru.
Ajarkan anak Anda untuk menghargai perbedaan: Setiap orang unik dan memiliki kelebihan masing-masing.
Bantu anak Anda mengembangkan keterampilan sosial: Ajarkan anak Anda bagaimana berkomunikasi dengan baik dan menyelesaikan konflik secara damai.
3. Libatkan Sekolah dalam Pencegahan Bullying
Komunikasikan kekhawatiran Anda dengan pihak sekolah: Berbicaralah dengan guru, kepala sekolah, atau konselor sekolah tentang masalah bullying yang Anda alami.
Cari tahu kebijakan sekolah tentang bullying: Pastikan sekolah memiliki kebijakan yang jelas untuk mencegah dan menangani bullying.
Dukungan dari teman-teman: Pastikan anak Anda memiliki teman-teman yang mendukung dan dapat dipercaya.
4. Ajarkan Anak Anda untuk Menghadapi Bullying dengan Cara yang Benar
Jangan balas bullying: Membalas bullying hanya akan memperburuk situasi.
Cari bantuan: Jika anak Anda mengalami bullying, ajarkan dia untuk mencari bantuan dari guru, orang tua, atau teman yang dapat dipercaya.
Laporkan bullying: Jika bullying terus berlanjut, ajarkan anak Anda untuk melaporkannya kepada pihak yang berwenang.
5. Perhatikan Perilaku Anak Anda
Perubahan perilaku: Perhatikan perubahan perilaku anak Anda, seperti menjadi pendiam, tidak mau pergi ke sekolah, atau sering merasa sakit.
Tanda-tanda bullying: Perhatikan tanda-tanda fisik seperti memar, luka, atau barang-barang yang hilang. (*/msa)

