Kabar duka menyelimuti masyarakat Karimun. Alesha Trisya Naufalyn, gadis kecil yang dikenal dengan semangat juangnya melawan kanker otak, telah berpulang, Jumat (7/2/2025).
Kepergian Alesha meninggalkan duka bagi keluarga, teman-teman, dan seluruh masyarakat yang telah ikut berdonasi untuk kesembuhannya.
Perjuangan Alesha melawan penyakitnya menjadi inspirasi bagi banyak orang. Meskipun harus menghadapi cobaan berat, Alesha selalu menunjukkan semangat yang luar biasa. Sayangnya, penyakit ganas yang dideritanya tak dapat dikalahkan.
Kepergian Alesha juga menjadi pengingat akan pentingnya gotong royong dan kepedulian sesama. Aksi penggalangan dana yang dilakukan oleh masyarakat Karimun menunjukkan bahwa semangat kebersamaan masih sangat kuat di tengah masyarakat.
Kepergian Alesha Trisya Naufalyn juga menyadarkan masyarakat akan pentingnya gotong royong dan kepedulian sesama. Meskipun perjuangannya melawan kanker otak harus berakhir, semangat kemanusiaan yang terlahir dari aksi penggalangan dana untuknya akan terus menginspirasi.
Aksi penggalangan dana yang dilakukan oleh masyarakat Karimun berhasil mengumpulkan dana yang cukup besar untuk membantu pengobatan Alesha. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Karimun sangat peduli terhadap sesama dan siap membantu mereka yang membutuhkan.
Kepergian Alesha Trisya Naufalyn juga menjadi tentang semangat juang dan keikhlasannya dalam menghadapi cobaan hidup yang patut diteladani. Kisah hidupnya menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya menghargai setiap momen kehidupan dan saling membantu sesama.
“Mari kita jadikan kepergian Alesha sebagai motivasi untuk terus berbuat baik dan membantu sesama yang membutuhkan. Semoga amal baik yang telah dilakukan oleh Alesha dan semua pihak yang terlibat dalam perjuangannya mendapatkan balasan yang terbaik dari Allah SWT,” ujar seorang warga ketika mendengar kabar ini, siang tadi.
Sebelumnya, pada awal Januari 2025, ratusan warga Karimun bersatu dalam gerakan kemanusiaan bertajuk Ini Karimun Bisa untuk membantu biaya pengobatan Alesha.
Gerakan ini melibatkan berbagai komunitas, termasuk Ini Karimun, HIPMI Karimun, Sispala SMKN 1 dan SMK 1 Karimun, Yayasan Karuna Bahaya Dana, para kreator konten, serta komunitas Super Moto TBK. Kelompok seni tradisional Reog Gembing Singo Mudo juga turut serta dalam penggalangan dana.
Saat ini, jenazah putri pasangan Tety Afrida dan Muhammad Sapli tengah dalam perjalanan menuju Karimun.
“Jenazah diberangkatkan dari Semarang pukul 13.00 WIB menuju Batam, lalu dilanjutkan ke Karimun dengan boat. Diperkirakan tiba sore ini sekitar pukul 18.00 WIB,” tambah Wahyu.
Alesha pertama kali mengeluhkan sakit pada matanya, yang kemudian diikuti gejala mata juling dan pusing berkepanjangan. Khawatir dengan kondisi putrinya, orang tua Alesha membawanya berobat ke berbagai fasilitas kesehatan hingga akhirnya dokter di sebuah rumah sakit di Semarang mendiagnosisnya mengidap kanker otak.
Dalam perjuangannya, Alesha sempat menjalani berbagai tahap pengobatan di Rumah Sakit dr Kariadi, Semarang. Namun, kondisinya terus menurun.
“Rabu kemarin, Alesha menjalani kemoterapi sinar sebagai upaya terakhir, tetapi kesehatannya semakin memburuk,” ungkap Wahyu. (msa)

