ilustrasi imunisasi. {Puskesmas_Jua Gaek Blog)
ilustrasi imunisasi. {Puskesmas_Jua Gaek Blog)

Nasional, Lendoot.com – Dalam pekan ini penyakit mematikan bernama difteri menjadi perbincangan hangat publik. Penyakit yang jarang terdengar itu, telah menjangkiti delapan anak di Kota Tangerang, hingga Kamis (7/12/2017).

Bahkan seorang anak harus meregang nyawa setelah dirawat di ruang khusus RSUD Tangerang. Tujuh anak lainnya masih dapat diselamatkan. Kendati telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, namun mereka masih terus menjadi perhatian khusus dari dokter yang menanganinya.

Munculnya penyakit difteri ini, oleh Pemerintah Kota Tangerang, dikategorikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) dan dilaporkan ke Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Berdasarkan laporan itu, Pihak Menkes melalui Direktorat Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, akhirnya mengeluarkan

Teknis Pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) Difteri, yang ditujukan kepada sejumlah Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Jawa Barat dan Banten, serta semua Dinas Kesehatan Kabupaten-Kota dibawah keiga provinsi tersebut.

Dalam surat tersebut, Dinas Kehatan Provinsi maupun Kabupaten/Kota wajib melakukan ORI dengan vaksin yang mengadung Difteri, kepada anak mulai dari usia 1 sampai dengan 19 tahun.

Difteri, penyakit yang disebabkan oleh kuman. Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, Lisa Puspadewi mengatakan penyakit ini dapat dengan mudah dialami oleh anak-anak yang tidak diimunisasi, sejak bayi.

“Masalahnya orangtua tidak mengizinkan anaknya untuk diimunisasi. Dan orangtua juga banyak yang anti-vaksinasi,” ujar Lisa seperti dilansir dari Tribunnews.com.

Padahal program imunisasi sudah diprioritaskan oleh Pemerintahan Kota Tangerang. Semua anggaran juga dibebankan ke APBD. “Jadi imunisasi ini kami berikan secara gratis,” ucap Lisa.

Menurutnya, program imunisasi itu juga digelar secara rutin. Dilaksanakan di Posyandu maupun kunjungan ke rumah masyarakat.

“Kami juga sudah melakukan langkah-langkah terkait kejadian luar biasa (KLB) difteri,” kata Lisa.

Langkah-langkah tersebut di antaranya komunikasi informasi dan edukasi (KIE), edukasi melalui spanduk atau poster, surat edaran kewaspadaan, serta penguatan jejaring konsolidasi dengan pendidikan dan kesehatan. Jika terjadi kasus, segera rujuk ke rumah sakit.

“Harus diperiksa juga di sekitar lingkungan. Pemeriksaan tenggorokan untuk memastikan kuman penyebab. Minum obat dari tenaga medis,” paparnya.

Ada banyak faktor yang memicu terjadinya penyakit ini. Salah satunya adalah karena lemahnya daya tahan tubuh.

Sementara untuk anak-anak, karena belum mendapat vaksin dasar yakni difteri, pertusis, dan tetanus (DPT) dari tingkat I hingga III.

Bayi yang baru lahir pada umumnya menjalani vaksinasi DPT I hingga III secara bertahap. Tujuannya untuk memberikan daya tahan tubuh terhadap penyakit ini.

Gejala penyakit tersebut adalah demam tinggi, hilangnya nafsu makan dan hidung kerap mengeluarkan lendir. (*/sjs)