Warga Parit sedang melihat kondisi drainase yang sedang dibangun di Parit Dua RW 06
Warga Parit sedang melihat kondisi drainase yang sedang dibangun di Parit Dua RW 06 (Parulian Turnip)

Karimun, Lendoot.com – Warga Desa Parit, Kecamatan Karimun memberhentikan secara paksa pengerjaan drainase di RW 06 Desa Parit dua. Itu dilakukan warga karena dinilai pengerjaan drainase menyalahi aturan.

Seperti pengakuan salah seorang warga Parit inisial BI kepada Lendoot.com yang turun langsung melihat pengerjaan drainase di desa itu mengatakan, bahwa pembangunan drainase banyak penyimpangan dan terkesan dikerjakan asal jadi.

Salah satu penyimpangan yang dimaksud yaitu, campuran pasir laut (pantai) dengan pasir darat dalam adukan semen. Sementara di dalam RAB harus menggunakan pasir darat dan tidak dibenarkan menggunakan pasir laut.

Selain itu, pembangunan drainase tersebut juga menurutnya terkesan asal dikerjakan. Tanpa melihat aspek ketahanan dari bangunan drainase tersebut.

Hal senada juga disampaikan warga Parit lainnya, kepada Lendoot.com menyampaikan setelah ramai warga memprotes aksi pencampuran pasir laut. Baru akhirnya pihak pekerja mencampur dengan pasir darat.

“Setelah ramai diprotes warga, baru mereka sibuk-sibuk ambil pasir darat dan dicampur. Kan ini sudah tidak sesuai dengan dana yang dianggarkan,” ucap warga tersebut.

Terpisah, Kepala Desa Parit, Basri Muhammad saat dikonfirmasi Lendoot.com membantah pengerjaan drainase di Desa Parit RW 06 tidak diberhentikan warga melainkan karena batu untuk pemasangan batu miring drainase tidak ada.

“Itu tidak ada diberhentikan warga, batu yang tidak ada. Jadi para pekerja tidak bekerja,” ucap Basri, Senin (3/9/2018).

Saat ditanya terkait penggunaan pasir pantai, Basri mengatakan pasir darat halus dan harus dicampur dengan pasir pantai. Menurutnya jika pasir pantai dan pasir darat dicampur dalam adukan semen akan lebih bagus.

“Pasir darat itu halus, jadi pas pengerjaan yang dibelakang kita campurkan pakai pasir pantai. Kalau pencampurannya tidak banyak tidak masalah,” kata Basri.

Basri juga menyebut, alasan dirinya menyetujui menggunakan pasir laut untuk campuran pembangunan drainase tersebut karena sulitnya mendapatkan pasir darat di pulau Parit dan disetujui pendamping desa (Adios)

“Karena sekarang mencari pasir darat ini susah. Pendamping desa juga sudah kasih tau boleh, tapi jangan terlalu banyak,” ucapnya.

Pembangunan drainase di desa Parit dua RW 06 merupakan dana desa dari Kementrian Desa, Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) Tahun anggaran 2018 dengan total nilai Rp 192.375.100. (Parulian Turnip)