Penulis: Raja Ilyas, Tokoh Masyarakat Melayu Karimun
Pagi itu saya mengantar isteri belanja ke pasar. Aktivitas ini tidak sering saya lakukan karena biasanya isteri pergi sendirian ke pasar, yakni Pasar Puan Maimun.
Pasar ini adalah langganan isteri saya karena dekat dengan tempat tinggal sekarang. Dan di pasar itu serba lengkap untuk kebutuhan dapur keluarga kami.
Saya hanya menunggu di parkiran. Setelah parkir, saya menyandarkan badan sejenak di jok mobil sementara isteri saya berbelanja.
Kala menunggu di parkiran, pikiran saya menerawang jauh ke masa silam. Mobil yang saya parkir pas sekali menghadap bekas kediamannya saya dulu. Tak jauh sebelum Pasar Puan Maimun yang ada saat ini.
Seolah gambar bergerak seperti film, saya masih sangat ingat ketika saya masih anak-anak berkumpul dengan keluarga di rumah itu.
Rumah panggung dengan dinding papan saya tinggal bersama orang tua dan adik-adik. Saya sebagai anak sulung kerap menjadi pelindung adik-adik saya.
Plot cerita kembali ke masa awal tahun 60-an. Karimun, khususnya Kepulauan Riau masih menggunakan mata uang dolar Singapura. Anak anak kala itu cukup dengan jatah ke sekolah cukup 10 cent saja.
Kenderaan saat itu sangat sulit ditemui, hanya beberapa buah bus saja yang lewat. Itupun kadang sudah penuh, maka untuk dapat ke sekolah ketika itu saya dan adik-adik sering bejalan kaki.
Semangat saya tak pernah luntur untuk menuntut ilmu. Bila hari hujan saya harus membuka sepatu karena jalan becek karena tanah merah yang belum diaspal. Pulang sekolah saya dan adik-adik harus menjinjing sepatu agar tidak kotor.
Tak jarang karena kotor karena jalanan becek anak-anak sepulang sekolah langsung menanggalkan pakaian terjun ke sungai untuk membersihkan diri. Air sungai yang segar nan asri yang melintasi kampung saya itu namanya Sungai Lakam .
Sungai yang lebar dapat dimasuki perahu-perahu yang datang membawa dagangan seperti sagu, kelapa, pisang dan lain lain. Perahu-perahu itu langsung masuk ketika air pasang sampai ke jambatan untuk membongkar muatannya.
Sungai merupakan anugerah untuk masyarakat sekitar untuk berbagai kebutuhannya. Dan tidak heran jika anak-anak Sungai Lakam rata rata semua pandai berenang ketika itu.
Yang tidak kurang berkesannya, saat itu ialah ketika saat memasuki perayaan Aidil Fitri atau Idul Fitri. Suasana kampung sangatlah kental, suasana rumah-rumah panggung dipasangi aneka lampu cangkok (pelita).
Sangat berciri khas bagi Kampung Sungai Lakam khususnya. Terutama masih sangat terasa anak-anak yang berlarian dengan bunga apinya di malam Idul Fitri.
Apalagi saat itu masih zaman dolar istilah orang kampung, semua serba murah, kehidupan masyarakat makmur, barang-barang kebutuhan harian dan lainnya semua bebas datang dari Singapura.
Gaji pegawai dan karyawan dibayar dengan dolar dan cukup untuk kebutuhan bulanan. Petani dan nelayan hidup berkecukupan. Sungguh suatu masa yang sepertinya takkan terulang lagi. UNFORGETTABLE!
Masa kegemilangan itu berakhir ketika Indonesia menyatakan konfrontasi dengan Malaysia. Hubungan diplomatik dengan Malaysia terputus.

Upacara Kemerdekaan RI di zaman kewedanan dulu. (ft dok pribadi)
Singapura yang saat itu masih merupakan bagian dari Malaysia, berimbas hubungan perdagangan antara Karimun dengan Singapura. (**/bersambung)