Penulis: Raja Ilyas, Tokoh Masyarakat Melayu Karimun

Hari ini adalah hari minggu, anak-anak semalam sudah sepakat akan pergi ke Tanjung Gelam untuk mengambil tanah liat untuk dijadikan prakarya (pekerjaan tangan) sebagai tugas sekolah yang diberikan guru untuk dikerjakan dan dikumpulkan sesuai waktu yang telah ditentukan.
Tanah liat yang diambil akan dibentuk menjadi asbak rokok, kemudian dijemur hingga keras. Itulah pekerjaan tangan yang dianggap sangat mudah membuatnya daripada yang lainnya.
Tanah liat tersebut diambil dari dinding-dinding tebing di Tanjung Gelam atau lokasi persis tebing tersebut berada di bawah Komplek Perumahan Bea dan Cukai dan Syahbandar Jalan Keramat Teluk Air.
Biasanya, sebelum pergi anak-anak sudah mempersiapkan kelengkapan untuk mandi laut, karena seperti biasa setelah mengambil tanah liat berikutnya dilanjutkan dengan aktivitas bersama, mandi di laut.
Pagi-pagi sekali, anak-anak sudah bergerak bersama menuju tempat pengambilan tanah liat tersebut dengan berjalan kaki. Meskipun relatif jauh, namun karena dibarengi dengan canda ria, perjalanan jauhpun menjadi tak terasa.
Anak-anak sudah sampai di Taman Bunga, kemudian turun ke pantai menyelusuri pantai mulai dari Boom Pendek. Ketika turun, tampak terbentang pantai yang sangat indah dan panjang serta tiada satu bangunanpun yang menghalangi pandangan kami.
Mulai dari Boom Pendek sampai Tanjung Rambut semuanya adalah bibir pantai dengan pasir putih yang indah. Pantainya bersih dengan air laut yang jernih dan tidak kelihatan kotor dari sampah yang terbawa arus laut di sana.
Tiba di dinding tebing Tanjung Gelam, anak-anak mulai mengambil tanah liat sebanyak porsi yang akan dibikin pekerjaan tangannya. Kemudian dibentuk menjadi asbak rokok , setelah selesai anak-anak mulai membesihkan tangan di laut dan dilanjutkan dengan aktivitas mandi di laut bersama.
Pagi menjelang siang itu, air laut pasang dan tenang tanpa gelombang sehingga sangat nyaman buat anak-anak mandi.
Pemandangan yang biasa dan pasti kita lihat di pantai tersebut adalah kegiatan orang memukat ikan bilis. Ppaling tidak ada dua kelompok. Kelompok pertama, persisnya di depan pantai Taman Bunga, dan satu kelompok lainnya berada di depan Tanjung Gelam, yakni di sekitar tempat anak-anak mengambil tanah liat tadi, atau persisnya tidak jauh dari tempat anak-anak mandi.
Dua kelompok pukat bilis tersebut dikelola warga Tionghoa yang bernama Bopeng dan Baklim.
Cara mereka memukat ikan bilis adalah dengan berenang agak ketengah dengan memakai pelampung membawa pukat (jaring halus). kemudian direntang agak memanjang dan seterusnya ditarik pelan-pelan kebibir pantai. Ikan bilis yang memang mainnya di permukaan air digiring hingga ke pantai. Ikan bilis tersebut terjerat dalam pukat tersebut.
Ikan bilis yang masih menggelitik hidup-hidup itu langsung dimasukkan ke dalam wadah yang sudah disiapkan dipantai. Di sekitarnya sudah ada orang yang telah hadir menunggu untuk membeli ikan bilis tersebut.
Memang seperti biasa ikan bilis itu dijual langsung kepada masyarakat yang datang untuk membeli di tepi pantai. Sisa dari penjualan itu nantinya akan direbus dalam kawah yang besar di tempat perebusan. Kemudian dijemur untuk dijadikan ikan bilis kering.
Bagi masyarakat karimun zaman itu, kuliner atau masakan ikan bilis segar itu sangat diminati. Ada bermacam-macam masakan ikan bilis tersebut, di antaranya; dipepes, dibuat pendaram (digoreng pakai tepung), digulai cair dan lain sebagainya.
Sungguh jenis kuliner yang jarang ditemukan lagi saat ini yang memakai ikan bilis segar seperti zaman itu.
Selesai mandi, anak-anak mandi di sumur yang terletak di pangkal pantai , yang dekat dengan pantai namun airnya jernih dan tidak asin layaknya seperti air sumur yang berada di rumah kita. Airnya tidak pernah kering meskipun musim kemarau.
Sumur inilah digunakan siapa saja yang berkegiatan di sekitar pantai di antaranya para nelayan yang menangkap ikan maupun mereka yang menjala udang.
Sumur ini juga digunakan bagi mereka yang datang beramai-ramai dengan perahunya datang dari pulau seberang dan menginap di pantai selama beberapa hari saat musim perayaan Hari Kemerdekaan RI, yang pesta perayaannya diadakan di sekitar Taman Bunga dan Panggung Rakyat.
Sayangnya, sumur tersebut tidak pernah diketemukan lagi. Tidak ada tahu lagi letak kebaradaannya sekarang, seperti hilang ditelan pembangunan.
Saya mengharapkan pihak pemerintah dapat melestarikan sumur tersebut sebagai aset peninggalan sejarah yang harus dipelihara. Sayang sepertinya belum ada perhatian terhadap ini.
Dan sumur yang penuh kenangan yang tidak terlupakan itu, hanya tinggal sejarah, tinggal kenangan. (**/bersambung)