Mochammad Nasrudin S.Psi, Konsultan Psikologi dan Agama Islam
Mochammad Nasrudin S.Psi, Konsultan Psikologi dan Agama Islam

Kolom Jumat Berkah

Mochammad Nasrudin S.Psi, Penulis Adalah Konsultan Psikologi dan Agama Islam

Akhir-akhir ini banyak sekali manusia berbuat, melangkah, meniatkan untuk berbuat  sesuatu dan bergerak ukurannya adalah uang atau karena uang.

Jika saya punya modal  maka saya akan membuka usaha. Jika ada uang, maka saya akan kuliah,  jika ada uang maka saya akan umroh atau haji. Jika ada uang, maka saya akan membeli rumah, dan jika ada uang bla bla lainnya.

Maka, seakan uang adalah segala-galanya. Tanpa uang kita tidak bisa berbuat sesuatu. Kalau ini menjadi mindset berpikir orang Indonesia, khususnya  umat Islam, maka sungguh kita berada di atas pondasi yang lemah.

Lalu dimana porsi tuhan atau Allah? Allah tempat bergantung, Allah kuasa atas segala sesuatu, segala kehidupan dan segala isinya milik Allah. Di sinilah letak ujian bagi manusia.

Siapa yang menggerakkan kita? Uang atau Allah. Kalau Allah, maka bergeraklah atas nama Allah, bukan karena uang. Siapakah yang membuat kita punya nyali untuk membuka usaha? Uang atau Allah? Jika Allah jawabannya, maka bukalah usaha, Berbisnislah atas nama Allah, bukan karena uang dan kekuasaan kita berbuat. Siapakah yg membuat kita bisa kuliah atau tidak, uang atau Allah? Dan lain sebagainya.

Krisis mental lebih mengandalkan uang  dan kekuasaan akhir-akhir ini. Sungguh sangat berbahaya bagi iman dan nasib bangsa ke depan. Secara iman jelas ini namanya Syirik khafi.

Tidak akan selamat kita kelak di akhirat jika bergerak dan berbuat sesuatu karena selain Allah. Bagi masa depan negeri ini juga sangat berbahaya, karena negeri ini akan mudah dibeli oleh orang yang punya uang karena mentalitas kita mudah terjual karena uang.  Karena uang sudah menjadi tuhan dan landasan kita bergerak.

Saat ini tanah kita banyak dikuasai asing, banyak tambang dan SDA (sumber daya alam) dikuasai dan dikendalikan asing. Kenapa? Karena mentalitas kita sudah menuhankan uang.

Dari masyarakat hingga  penguasa dan pejabat bahkan sebagian tokoh agama sdh tidak berdaya kalau urusannya uang.   Saudaraku melalui media ‘Jumat Berkah’ ini, saya mengajak, sebagian besar tanah kita boleh dikuasai orang asing dan pemodal, tambang, minyak, dan lain-lain boleh dikuasai pemodal. Tapi ada satu aset yang lebih mahal dari semua itu jangan sampai dijual.

Ia adalah harga diri kita. Kalau harga diri kita sudah bisa dijual dan ditukar dengan uang. Maka sungguh negeri ini akan terjual dengan sendirinya. Tapi kalau harga diri ini mampu kita pertahankan dan kita kuatkan. Maka kita akan menjadi negara besar,  semua aset yg hilang akan kembali. Karena kita bersandar kepada zat yang maha kaya, zat yang menentukan nasib baik dan buruknya seseorang.

Zat yang bisa membolak balikkan keadaan. Dialah Allah yang maha agung. Allahu akbar. Salam NKRI. (*)