Tahun Baru Imlek, Sejarah, Mitos, dan Perayaannya di Indonesia

Tahun baru Imlek merupakan tradisi yang dirayakan turun temurun oleh masyarakat Tionghoa di seluruh dunia sebagai momentum untuk berkumpul dan mengucap syukur.

Ketika Imlek, keluarga akan mendoakan para leluhur dan berdoa akan rezeki serta kesehatan lebih baik di tahun yang baru.

Di Indonesia, Imlek telah ditetapkan sebagai Hari Raya melalui Penetapan Pemerintah Tahun 1946 No.2/Um dan kemudian disahkan sebagai Hari Raya Nasional dengan Keppres 19.2002.

Imlek juga sebagian orang ada yang menyebut sebagai hari besar keagamaan, seperti Natal dan Idul Fitri yang dinantikan masyarakat Tionghoa.

Perayaan yang khas dengan warna merah ini dirayakan sebagai bentuk ucapan syukur dan harapan akan rezeki yang lebih baik di tahun baru.

Bagaimana asal-usul Imlek mulai dirayakan di Indonesia sejak kemerdekaan, sampai sekarang,

Dikutip dari yahoo!berita, Imlek atau dikenal sebagai Tahun Baru China dikenal dengan nama lain yakni Lunar New Year atau Spring Festival.

Berdasarkan studi literatur The Chinese University of Hong Kong, sejarah perayaan Imlek bisa ditelusuri 3,500 tahun yang lalu. Meskipun tanggal pastinya tidak tercatat, tapi diyakini jika Tahun Baru Cina dimulai pada Dinasti Shang (1,600-1,046 BC) ketika masyarakat mengadakan upacara persembahan dalam rangka memberikan ungkapan syukur pada dewa dan leluhur setiap awal tahun.

Lebih lanjut dijelaskan jika tanggal perayaan Chinese New Year ditetapkan berdasarkan kalender lunar yang umumnya jatuh pada bulan kedua setelah titik balik matahari musim dingin. Sebenarnya, tiap tahun tanggal jatuhnya perayaan Imlek berbeda-beda dengan kalender Gregorian, namun umumnya diperingati sekitar 21 Januari – 20 Februari.

Sementara itu, meskipun Imlek dirayakan pada musim dingin, masyarakat Tiongkok tetap menyebutnya Spring Festival karena dilaksanakan pada awal musim semi dan sebagai penanda berakhirnya musim dingin. Karena itu, diharapkan perayaan menjadi awal baik yang mewakili harapan akan hidup baru.  Itulah penjelasan mengenai tahun baru imlek. Jika Anda sedang mencari rumah di kawasan Gading Serpong di bawah Rp1 miliar. Cek daftar huniannya di sini!

Perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia

Imlek di Indonesia telah diizinkan untuk dirayakan sejak zaman pemerintahan Presiden Soekarno. Setelah kemerdekaan Indonesia, ada setidaknya 4 perayaan yang ditetapkan sebagai hari raya yakni tahun baru Imlek, hari wafatnya Khonghucu, Ceng Beng, dan hari lahirnya Khonghucu pada tanggal 27 bulan 2 Imlek.

Saat itu orang Tionghoa memiliki kebebasan berekspresi mulai dari memeluk agama Khonghucu, berbahasa Mandarin, menyanyikan lagu Mandarin, sampai memiliki nama Cina.

Sayangnya, tahun baru Imlek sempat dilarang pada masa Presiden Soeharto melalui Instruksi Presiden Nomor 15 Tahun 1967 tentang pembatasan agama, kepercayaan, dan adat istiadat Cina. Dalam aturan tersebut, semua hal yang sebelumnya bebas boleh dilakukan masyarakat Tionghoa kini dibatasi hanya boleh dilakukan di lingkungan keluarga dan dalam ruang tertutup.

Namun setelah milenium pada 17 Januari 2000, Instruksi Presiden tersebut dicabut oleh KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur melalui Keppres Nomor 6 Tahun 2000. Selain bebas menganut agama, masyarakat Tionghoa juga bisa merayakan upacara agama seperti tahun baru Imlek, Cap Go Meh, dan lainnya.

Akhirnya, sejak 19 Januari 2001 Menteri Agama RI mengeluarkan Keputusan No.13 Tahun 2001 tentang penetapan Hari Raya Imlek sebagai Hari Libur Nasional Fakultatif. Maksudnya, tahun baru Imlek dianggap sebagai hari libur yang tidak ditentukan pemerintah pusat secara langsung melainkan oleh pemerintah daerah setempat atau instansi masing-masing.

Hal-Hal Unik yang Ada di Tahun Baru Imlek

Tahun baru Imlek penuh dengan cerita dan mitos. Salah satu cerita masyarakat yang paling terkenal adalah tentang makhluk mitos yang buas berbentuk binatang bernama Nian (year). Diceritakan jika makhluk tersebut memangsa tanaman, ternak, bahkan manusia di lama tahun baru.

Karena menimbulkan rasa takut dan kekacauan, warga meletakkan makanan di depan pintu rumah mereka untuk menghindari serangan dari Nian.

Akhirnya seorang warga pun menemukan jika Nian ternyata takut terhadap suara yang keras dan warna merah. Sejak saat itu, orang-orang akhirnya memasang lampion merah dan gulungan kertas merah di depan jendela sampai pintu untuk mencegah Nian masuk ke rumah. Petasan pun juga dipasang untuk menakuti Nian.

Dari cerita mitos tersebut, sampai saat ini masyarakat yang merayakan tahun baru Imlek dengan memasang kertas doa di pintu dan menyalakan petasan. Tidak hanya itu, ini lah beberapa hal untuk yang dilakukan untuk merayakan Imlek, antara lain:

1. Yu Sheng

Hidangan yang dibawa oleh nelayan China Selatan ke Semenanjung Malaysia ini mulai populer dihadirkan dalam perayaan Imlek keluarga Tionghoa Indonesia. Yu Sheng adalah makanan yang terdiri dari aneka sayuran dan bahan lainnya. Sekilas mirip dengan salad, tiap komponen bahan di dalamnya mengandung arti seperti kacang tanah lambang emas dan minyak sebagai simbol rezeki yang mengalir. Untuk menyantapnya, keluarga akan mengaduk Yu Sheng bersama dan mengangkatnya tinggi-tinggi menggunakan sumpit sambil mengucapkan “Lao Qi” atau “Lao Hei”

2. Pantang Makan Bubur

Saat perayaan tahun baru Imlek, ternyata masyarakat Tionghoa pantang untuk makan bubur karena dianggap sebagai simbol kemiskinan. Sebagai penggantinya, banyak rumah menyediakan kue keranjang sebagai harapan mendatangkan keberuntungan.

3. Penampilan Barongsai dan Liong

Pertunjukan paling ditunggu saat tahun baru Imlek adalah barongsai. Berbentuk naga atau liong, dalam kepercayaan orang Tionghoa barongsai dianggap sebagai lambang kebahagiaan dan kesenangan. Atraksi dan tarian yang ditampilkan dipercaya menjadi pertunjukan untuk mengusir roh jahat dan membawa keberuntungan.

4. Pembagian Angpao

Selain barongsai, tradisi bagi-bagi angpao paling dinantikan oleh masyarakat Tionghoa yang belum menikah. Pembagian angpao dimaknai sebagai berbagi energi positif dan kesejahteraan. Namun tidak boleh sembarangan, nominal yang dibagikan tidak boleh mengandung angka empat karena dianggap membawa sial. Uang yang dibagikan juga tidak boleh ganjil karena berhubungan dengan pemakaman sehingga kurang cocok untuk perayaan yang gembira.

5. Sembahyang Leluhur

Sudah hal yang wajib saat Imlek adalah mengunjungi sanak saudara. Dalam momen tersebut, keluarga memanfaatkan kesempatan untuk sembahyang leluhur yang telah tiada dengan menyalakan dupa dan lilin. Di depan altar biasanya juga disediakan berbagai makanan mulai dari buah-buahan kue, minuman, sampai makanan (teh dan arak) kesukaan mendiang.

6. Bersih-Bersih Rumah

Sama seperti merayakan Natal atau Idul Fitri, keluarga yang akan menyambut Imlek biasanya membersihkan rumah karena bermakna membuang segala keburukan yang menghalangi keberuntungan yang akan datang. Selain itu, dekorasi rumah warna merah juga akan dipasang di seluruh penjuru rumah untuk membawa keberuntungan.

7. Tidak Boleh Menghabiskan Ikan saat Makan

Selain makanan manis, ikan adalah salah satu hidangan yang tersaji di rumah saat Imlek. Uniknya, saat ingin menyantap ikan Anda dilarang untuk mengambil ikan di bagian bawah. Ikan yang disajikan juga tidak boleh langsung dihabiskan dan harus disisakan untuk keesokan harinya karena mereka percaya hal ini lambang nilai surplus dari rezeki di masa mendatang. (**/msarih)