Karimun, Lendoot.com – Sudah jatuh tertimpa tangga pula, itulah yang dialami Lili salah seorang wanita yang tinggal di Jalan Nusantara Kabupaten Karimun.

Nasib naas itu dialami Lili tepatnya pada Jumat (7/12/2018) lalu, seluruh tubuhnya mengalami insiden penyiraman oleh keluarga Tantimin selaku pemohon Eksekusi, hal tersebut terjadi akibat perdebatan panjang antara pihak keluarga Tantimin selaku pemohon sita eksekusi dan Kolianto suami Ibu Lili selaku turut tergugat.

Hal ini diamini oleh Edwar Kelvin dan Ridwan selaku kuasa hukum yang mengatakan penyiraman Oli kepada kliennya, hal ini dikarenakan adanya perdebatan panjang akibat penetapan sita eksekusi yang dikeluarkan oleh Pengadilan terhadap turut tergugat untuk menyerahkan surat tnah kepada pemohon eksekusi.

“Kita baru saja mengajukan upaya hukum peninjauan kembali sesuai dengan Akta Nomor 01/AKTA/Pdt.PK/2018/PN Tbk tanggal 01 November 2018, kita merasa ada keanehan dalam Putusan Pengadilan tersebut,” kata Ridwan.

Keanehan yang dimaksud Edwar Kelvin dan Ridwan adalah secara teoritis turut tergugat itu adalah pihak yang dimasukkan dalam sebuah perkara hanya sebatas pelengkap identitas para pihak tapi ini pengadilan malah menetapkan kliennya sebagai termohon eksekusi V.

“Tergugat satu sampai tergugat lima di kemanakan? padahal ini perkara wanprestasi tentang jual beli rumah yang seharusnya dibebankan antara penggugat dan para tergugat bukan kepada klien saya selaku turut tergugat,” ujar Ridwan

Edwar melanjutkan bahwa penetapan sita eksekusi tersebut adalah produk lanjutan dari Putusan Nomor: 13/Pdt.G/2015/PN Tbk yang dikeluarkan oleh Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun pada tahun 2015, yang menghukum para tergugat untuk melanjutkan Jual Beli kepada Pihak Tantimin (Penggugat).

Lili telah pernah membeli tanah tersebut Nek Kecik dan telah mendirikan bangunan permanen di atas tanah yang di maksud Tantimin, apakah rasional di depan hukum jika kliennya menyerahkan surat tersebut kepada Pengadilan. Apakah boleh dilakukan jual beli sementara di atasnya berdiri bangunan kliennya. “Bagaimana tentang nasib bangunan klien saya,” ucap Edwar.

Dari pantauan media ini, keributan terjadi akibat salah satu oknum pengadilan yang berteriak “Tangkap Saja Orang Ini,” sontak saja Edwar selaku Advokat meluapkan emosinya.

“Bapak-bapak dari pengadilan harusnya melihat, ini klien daya barusan disiram Oli oleh keluarga pemohon Eksekusi, harusnya bapak netral dan menerima keberatan kami, jangan main tangkap-tangkap saja, harusnya bapak yang menangkap pemohon eksekusi,” ucap Edwar.

Sekira pukul 11.00 WIB dihari yang sama, kliennya yang sempat disiram menggunakan Oli akhirnya dilarikan ke UGD RSUD Karimun, dan disaat bersamaan keributan pun bisa di redamkan dikarenakan Pihak Pengadilan gagal mengambil Surat Tanah yang dimaksud.

Salah satu masyarakat yang tidak ingin disebutkan namanya turut memberikan komentar dalam permasalahan tersebut.

“Saya sudah memantau pengadilan selama satu tahun belakangan ini, dalam konteks di atas terlihat jelas keberpihakan pengadilan kepada Tantimin selaku Pemohon eksekusi, harusnya Pengadilan bersikap netral, dan mempelajari kasusnya jangan main sita-sita saja,” ujar warga tersebut. (Parulian Turnip)