Toko obat di Karimun. (ian)
Foto ilustrasi, toko obat di Karimun. (ian)

Karimun, Lendoot.com – Adanya aturan baru Bea Cukai terkait pengiriman barang, berpengaruh terhadap pengiriman obat-obatan dari Kota Batam ke Kabupaten Karimun yang sering terlambat. Hal ini dibenarkan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karimun, Rachmadi.

Obat-obatan untuk rumah sakit, dinas kesehatan, apotek dan toko obat di Kabupaten Karimun umumnya dikirim dari Kota Batam. Menurutnya, proses pengiriman merupakan wewenang dan sistem yang ada di Bea dan Cukai Batam.

“Aturannya seperti apa kita tidak tahu. Tapi kenyataan barang-barang masuk agak susah. Itu bukan aturan di Karimun, tapi aturan di Batam. Kalau di Karimun mungkin kitalah yang minta bantu bagaimananya,” kata Rachmadi, Kamis (17/1/2019) kemarin.

Untuk mengantisipasinya, Rachmadi mengimbau kepada pihak Pedagang Besar Farmasi (PBF) dapat mencari solusinya di Kota Batam. Seperti misalnya, PBF meminta dispensasi kepada pihak terkait atau BC Batam sebab ini menyangkut barang-barang emergency.

“Secara umum saya menganjurkan kepada teman-teman apotik dan PBF mencari solusinya. Kita mengimbau distributor obat untuk meminta dispensasi (ke BC Batam) karena (obat,red) harus cepat,” ujarnya.

Lanjut Rachamadi, terlebih apabila obat-obatan yang dikirim bersifat emergency, memang harus segera dikirim. “Bahkan pihak rumah sakit di Karimun juga terkadang menjemput ke Batam,” katanya.

Terpisah, Kabid Penunjang dan Logistik RSUD M Sani Kabupaten Karimun, Hermanto mengatakan pihaknya tidak terganggu perihal pengiriman obat-obatan. Pasalnya selama ini obat-obatan masih diterima sebagaimana masa kontrak dengan pihak rekanannya.

“Ini sebenarnya bukan domain kami, karena ini antara rekan-rekan pedagang dengan Bea Cukai. Di kita kan ada kontrak batas waktu pengiriman barang. Dan sampai sekarang tidak ada yang melebihi batas kontrak,” jelasnya.

Namun Hermanto mengakui pernah mendengar keluhan dari pihak yang menyuplai obat ke RSUD Kabupaten Karimun terkait sistem pengiriman di Bea dan Cukai tersebut.

“Dari rekanan, ini karena adanya formulir tambahan di bea cukai yang dulunya tidak ada,” ujarnya. (parulian turnip)