Regina (22) bersama anak pertamanya dan ayah-ibunya di pengungsian di Kolong Karimun. (iyan)
Regina (22) bersama anak pertamanya dan ayah-ibunya di pengungsian di Kolong Karimun. (iyan)

 

Sebagian orang berkata, usia kehamilan 5 bulan adalah masa rawan. Perlu tempat yang nyaman dan saat menjalani masa-masa istirahatnya. Namun apa daya  bagi Regina. Wanita berusia 22 tahun yang sedang hamil 5 bulan anak keduanya ini harus mengalami masa istirahat yang dapat disebut menyiksanya.

Sejak menjadi korban kebakaran satu unit rumah yang dihuni dua keluarga bersama ayah-ibu, suami dan seorang anaknya itu, terbakar, Minggu (5/11/2017) dinihari kemarin. Hari-harinya terasa menyiksa karena tidur berdesakan dengan warga pengungsi lain di masjid tempat pengungsian tersebut.

“Saya memang tak nyaman harus tidur di tempat penampungan yang harus berdesakan bang,” kata Regina bersama bapak dan ibunya, sembari menggendong putra pertamanya di tempat pengungsian tersebut.

Suaminya yang pengecer BBM di jalan Ahmad Yani depan Morning Bakery itu tidak berada di tempat. Suaminya sedang mencari nafkah dengan berjualan BBM eceran yang margin keuntungannya selisih dari harga resmi SPBU itu.

“Suami saya jualan minya (BBM) di depan Morning Bakery itu bang. Dari usaha itulah nafkah kami bersama ayah dan ibu di rumah,” katanya.

Saat rumahnya terbakar, Regina mengaku sedang tidur berjualan BBM eceran di luar. Mendengar teriakan kebakaran, Regina shock karena kedua orangtuanya sedang di dalam rumah. Syukurnya, katanya, kedua orangtuanya sudah berhasil keluar dari rumah.

“Bapak dan ibu di dalam rumah, tanpa ada barang-barang apapun yang dapat diselamatkan, bang,” ujarnya dengan wajah Sendu.

Saaat dijumpai mereka tinggal di penampungan. Rencananya, hari ini mereka dan pengungsi lainnya akan  dipindahkan ke rumah singgah di Poros. “Sepertinya kami akan tinggal numpang-numpang di rumah saudara dulu bang,” tuturnya.

Harapan ada bantuan dari pemerintah untuk melanjutkan hidup dua keluarga itu terucap. “Kami masih sangat mengharapkan bantuan. Setidaknya bisa membangun lagi rumah di situ. Semoga saja ada bantuan dari pemerintah,” pungkasnya. (ian)