Siswa SMP yang terjaring razia BNN di Banjarmasin, belum lama ini. (Ilustrasi/istimewa)
Siswa SMP yang terjaring razia BNN di Banjarmasin, belum lama ini. (Ilustrasi/istimewa)

Karimun, Lendoot.com – Fakta mengejutkan terkait peredaran Narkoba terjadi di Karimun. Pemakainya tidak lagi memandang usia dan status pekerjaannya, tetapi sudah merambah ke usia siswa SMP (sekolah menengah pertama).

“Dari 110 siswa tiga SMP yang dites, sekitar 50 persennya positif menggunakan Narkoba. Dan sekitar 20 persen pengguna Narkoba itu adalah jenis Sabu-sabu. Angkanya mencapai puluhan juga,” kata Linda Theresia, Pembina Yayasan Rehabilitasi Sosial SADO (Sahabat Anak Indonesia) di sela acara penyerahan bantuan bagi eks-pencandu di yayasan tersebut, kemarin.

Tentunya, fakta ini mengejutkan orangtua yang anaknya terdeteksi positif Narkoba. Ada orangtua yang tidak terima lalu malah berbalik memarahi relawan SADO tersebut. “Lalu kalau tidak percaya, silahkan tes sendiri. Alat tes kita dari WHO (World Health Organization) PBB. Jadi akurasinya bisa dipertanggungjawabkan,” jelasnya.

Tes yang dilakukan tersebut, kata Linda, juga atas permintaan pihak sekolah bersangkutan. Alasan pihak sekolah ingin melakukannya, jelas Lindah, karena kebanyakan perilaku siswa di sekolah bersangkutan banyak yang mengindikasikan menyimpang pergaulannya dan banyak yang sulit diatur.

“Awalnya satu sekolah meminta kita melakukan tes ini. Lalu ada perubahan perilaku siswanya. Lalu sekolah lain berinisiatif melakukan pemeriksaan terhadap siswanya. Dan ini gratis,” katanya.

Atas kondisi tersebut, Linda berpesan kepada orangtua agar lebih waspada lagi mengawasi putra-putrinya. Kondisi rumah tangga yang tidak harmonis, ditambah dengan pergaulan yang salah bisa mengakibatkan anak terjerumus barang haram tersebut.

Mendapati fakta ini, Kepala Dinas Sosial Karimun, Panji Sasmita juga mengaku terkejut dengan banyaknya siswa SMP di Karimun yang positif menggunakan Narkoba. Panji berpesan kepada segenap masyarakat, terutama orangtua lebih perhatian lagi terhadap putra-putrinya.

Sementara itu, menurut Rido Palimo Insano dari Direktorat Kementerian Sosial RI membenarkan angka pengguna Narkoba di kalangan siswa saat ini, sudah sangat mengkhawatirkan. Di beberapa daerah di Indonesia, seitar 10-20 persennya adalah anak usia SMP.

“Apalagi Karimun ya, daerah ini terbuka. Sebagai lintasan antarnegara, tentunya kewaspadaan terhadap penggunaan Narkoba harus lebih ditingkatkan,” pungkasnya. (sjs)