Karimun, Lendoot.com – Revitalilasi Pasar Puakang yang terletak di Kecamatan Karimun, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepri telah diresmikan, pertengahan Mei 2022 lalu.
Hanya saja, proyek yang menelan anggaran hingga Rp 1,166 miliar itu mendapat sorotan banyak pihak, karena diduga kuat ada mark up proses pengerjaannya.
Pasar khusus bagi pedagang barang bekas atau kerap disebut pasar seken inipun rencananya akan dipugar total. Hanya saja pada kenyataannya, proyek revitalisasi itu hanya menambah atap dan pengecatan gedung saja.
Tentu hal ini menjadi pertanyaan banyak pihak mengingat anggaran yang bersumber dari APBN berbentuk Dana Alokasi Khusus (DAK) itu tidak lah kecil.
Suara-suara miring terkait ini pun mengemuka. Pasalnya, banyak warga khususnya pedagang mengatakan mustahil dengan anggaran miliaran rupiah, namun yang diganti hanya atap dan catnya saja.
“Tak masuk akal. Anggaran sebesar itu cuma tambah atap dan cat saja atau tampilan luarnya saja. Mengingat ini dana pusat, kita curiga bisa seenaknya mereka melakukan pekerjaan sehingga seolah mudah saja mempertanggungjawabkannya,” ujar Sahimi seorang warga Karimun yang lama memperhatikan proyek tersebut.

Dari pantauan Lendoot.com, sejumlah kios lapak milik pedagang di pasar seken terlihat tidak ada yang berubah. hanya ada pengecetan. Posisi serta ukuran masih sama.
Hal senada diungkapkan seorang pedagang yang namanya tidak mau disebutkan. Dia mengatakan jika proyek tersebut dibangun asal jadi dan hanya mempercantik dari tampilan luarnya saja.
“Secara kasat mata memang berubah, tapi cuma catnya saja. Itu tu yang bagian depannya saja. Yang lain sama aja. Kalau dulu katanya mau ditingkatkan, diperbaharui, lah ini kan sama aja. Apa yang ditingkatkan?,” ujar pedagang tersebut dengan nada kesal.
Selain pedagang, para pengunjung juga menilai, tidak ada yang berubah dari proyek revitalisasi pasar seken terbesar di Karimun itu. Pengunjung menganggap masih sama saja dengan kondisi bangunan yang lama.
“Tak terasa ada yang baru. Sama saja dengan sebelumnya lah. Memang catnya yang berubah di bagian depan itu saja. Sama sekali tak ada perubahan,” ujar Ruslan, seorang warga sekitar yang kerap belanja pakaian seken di pasar tersebut.
Seorang kontraktor yang kerap mengerjakan proyek pemerintah juga angkat bicara dengan mengungkapkan rasa keheranannya dengan kondisi tersebut.
Kontraktor yang enggan disebut nama mengatakan tak masuk akal ketika melihat kondisi pekerjaan yang dihasilkan dengan anggaran yang dikeluarkan untuk proyek tersebut.
“Dari pengetahuan saya, kalau dibandingkan pekerjaannya dengan anggarannya sangat jauh. Kalau segini aja, anggaran Rp400 juta saja sudah bisa kita selesaikan,” ujar kontraktor yang wanti-wanti namanya tidak disebut, kemarin.
Ketika kontraktor tersebut ditanya, ada mark up kah pada pengerjaan proyek ini? “Saya tak berani bilang, tapi kemungkinan besar ya bagitu lah. Lagi pula ini kah proyek APBN, bisa jadi ya?” jawabnya.
Proyek ini dikerjakan oleh CV Anak Tamiang serta CV Haiyuna Abadi selaku Konsultan Perencana dan Konsultan Pengawasnya. Dikerjakan berdasarkan nomor kontrak kerja 03/SP/APARATUR/CK/DISPU-PR/2021 dengan waktu kerja selama 120 hari kelender kerja.
Hingga saat ini, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (Kadis PUPR), Cahyo Prayitno yang coba dikonfirmasi, sedang tidak dapat dijumpai wartawan. “Bapak sedang sibuk bang,”ujar seorang pegawai di Dinas PUPR, siang tadi.
Sementara ketika didatangi ke kantornya, Selasa (12/7/2022) kemarin, Cahyo tidak dapat dijumpai. Kemudian ketika dikonfirmasi via WhatsApp, Cahyo belum dapat memberikan komentarnya saat ini dan baru bisa hari ini (Rabu, 13/7/2022), dimintai komentarnya.
Sayangnya, sampai berita ini diturunkan, Cahyo juga tidak memberikan response-nya terkait permintaan konfirmasi media ini, Rabu (13/7/2022). (tim)