Site icon Lendoot.com | Trend Berita Karimun Kepri

Per Mei 2026, Kunjungan Wisman ke Tanjungpinang Tunjukkan Tren Positif di Tengah Penurunan Daerah Lain

Aktivitas Domestk Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang. (foto dok/doyok)

Aktivitas Domestk Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang. (foto dok/doyok)

Tanjungpinang — Sektor pariwisata Kota Tanjungpinang mencatatkan performa menggembirakan pada awal tahun 2026. Berdasarkan data Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau, angka kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Ibu Kota Provinsi Kepri ini menunjukkan tren peningkatan yang konsisten sepanjang triwulan pertama, atai per Mei 2026.

Tercatat pada Januari 2026, kunjungan wisman mencapai 4.030 orang, kemudian naik menjadi 5.047 orang pada Februari, dan terus melonjak hingga 5.622 orang pada Maret. Mayoritas wisman berasal dari Singapura, diikuti oleh Malaysia, Tiongkok, India, dan Korea Selatan.

Fenomena menarik terjadi di mana Tanjungpinang justru mengalami kenaikan kunjungan saat destinasi utama lainnya di Kepri, seperti Batam, Bintan, dan Karimun, cenderung mengalami tren penurunan.

Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Tanjungpinang–Bintan, Sapril Sembiring, menilai tren positif ini harus menjadi pemicu (trigger) bagi Pemerintah Kota Tanjungpinang untuk tidak cepat berpuas diri.

“Ada kecenderungan yang baik, namun ini harus jadi pemicu agar OPD terkait lebih kreatif dalam mengembangkan daya tarik wisata. Masih banyak aspek yang perlu ditingkatkan agar wisman tidak hanya datang, tapi juga ingin kembali,” ujar Sapril, Rabu (6/5/2026).

Sapril menyoroti kendala teknis yang cukup krusial, yakni jadwal operasional kapal feri. Ia mencontohkan jadwal kapal dari Malaysia yang tiba sore hari dan berangkat kembali pada pagi hari. Kondisi ini membuat wisman one-day trip memiliki waktu yang sangat terbatas.

“Terlebih kita belum mampu menyuguhkan daya tarik wisata malam hari yang kuat. Pemerintah Kota perlu duduk bersama operator kapal dan otoritas pelabuhan untuk membicarakan sinkronisasi jadwal ini agar lebih menguntungkan sektor pariwisata,” tambahnya.

ASITA juga mendorong pemerintah untuk tidak hanya bertumpu pada objek wisata sejarah seperti Pulau Penyengat. Kawasan Tepi Laut dan Gedung Gonggong dinilai memiliki potensi besar jika dikelola dengan atraksi wisata yang terjadwal secara kontinu.

“Jika ada atraksi yang rutin, kami dari biro perjalanan bisa menjual paket wisata yang lebih menarik. Perlu kolaborasi erat antara pemerintah provinsi, kota, dan para pelaku usaha,” tutur Sapril.

Menanggapi aspirasi tersebut, Sekretaris Daerah Kota Tanjungpinang, Zulhidayat, menyatakan bahwa pihaknya telah mengidentifikasi berbagai potensi serta hambatan yang ada. Sebagai langkah konkret, Pemko Tanjungpinang menggandeng Bappenas RI untuk melakukan forum diskusi internal melalui Bapelitbang bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Diskusi tersebut dilakukan langsung di Pulau Penyengat pada Kamis (7/5/2026) untuk memvalidasi kondisi lapangan.

“Kami ingin memetakan secara detail peluang dan tantangan yang ada sebelum melangkah lebih jauh mengajak para pelaku usaha. Pariwisata adalah sektor penggerak ekonomi, sehingga kolaborasi lintas pihak menjadi kunci utama dalam pengembangannya ke depan,” tegas Zulhidayat. (fji)

Exit mobile version