Jakarta – Program e-Smart IKM (Industri Kecil dan Menengah) Kemenperin membantu pelaku IKM untuk memperluas akses pasar melalui pemasaran digital.
Langkah itu disebut dengan transformasi digital industri. Ini adalah mantra yang digaungkan dan menjadi fokus isu prioritas di tanah air. Bahkan dalam forum internasional, transformasi digital juga menjadi salah satu agenda penting untuk dibahas. Contohnya, saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 pada 2022 lalu.
Langkah meningkatkan transformasi digital bagi semua sektor mendapatkan perhatian khusus karena berimbas pada peningkatan potensi ekonomi digital.
Selain itu, Indonesia yang tengah menyiapkan diri menjadi anggota Organization of Economic Co-Operation and Development (OECD), punya kepentingan khusus.
Alasannya, salah satu syarat untuk bergabung dalam OECD adalah memiliki arah pengembangan industri berupa transisi Industri Hijau dan adopsi teknologi digital.
Tujuannya adalah untuk mendorong efisiensi energi dan sumber daya lainnya pada sektor industri melalui digitalisasi pada setiap tahapan proses bisnis.
Dalam lingkup industri, mengutip laman resmi Kementerian Perindustrian, belum lama ini, transformasi digital industri termasuk dalam agenda Making Indonesia 4.0 yang dicanangkan sejak 2018. Selain industri skala besar, dalam Gerakan Making Indonesia 4.0 itu, juga menyasar industri kecil dan menengah (IKM).
Dalam peta jalan Making Indonesia 4.0 tersebut, demikian narasi yang disampaikan Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita.
IKM diarahkan untuk dapat memanfaatkan perkembangan teknologi melalui penguasaan literasi digital di sisi pemasaran dan penjualan, serta dukungan teknologi di sisi manufaktur untuk peningkatan nilai tambah dan daya saing produk.
“Kami memiliki program e-Smart IKM yang membantu pelaku IKM untuk memperluas akses pasar melalui pemasaran digital. Kami bekerja sama dengan marketplace ternama seperti Tokopedia, Shopee, BliBli, BukaLapak, dan juga asosiasi e-commerce Indonesia (idEA),” paparnya di Jakarta, belum lama ini seperti dikutip dari Indonesia.go.id
Pada 2022, Program e-Smart IKM masuk dalam salah satu agenda prioritas dengan target 3.000 IKM ikut serta dalam pembinaannya. Kegiatan e-Smart IKM dimulai dengan bimbingan literasi digital IKM, penguatan branding dan manajemen bisnis melalui e-Smart IKM, dan program IKM Go Global.
Mengenal Progres e-Smart IKM
Program e-Smart bertujuan untuk pengembangan pemasaran, peningkatan pertumbuhan produktivitas IKM dengan memanfaatkan internet of things (industry 4.0) melalui platform digital, sekaligus untuk mendukung pencapaian sasaran pembangunan industri prioritas.
Program e-Smart IKM Kemenperin tersebut sejalan dengan semangat Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) yang diluncurkan Presiden Joko Widodo.
Gernas BBI sendiri merupakan gerakan bersama antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk mencintai dan membeli produk lokal.
Dalam paparan Ditjen Reni, pemasaran digital menjadi keahlian yang harus dikuasai oleh pelaku usaha mana pun di era modern.
“Didorong oleh kondisi pandemi Covid-19 yang sempat melanda Indonesia dan peningkatan penetrasi teknologi digital di Indonesia, konsumen mengalami perubahan selera berbelanja, dari yang semula belanja secara konvensional dengan mengunjungi toko menjadi belanja daring (online),” ujarnya.
Hal ini didukung oleh data pengguna internet, pengguna e-commerce, dan nilai transaksi e-commerce Indonesia. Laporan “Digital 2023: Indonesia” mencatat pada Januari 2023 terdapat 212 juta pengguna internet di Indonesia, dengan penetrasi internet mencapai 77%.
Kemudian Statista Market Insights juga melaporkan bahwa ada 179 juta jiwa pengguna e-commerce di Indonesia pada 2022, dan diprediksi mencapai 196 juta pada 2023.
Nilai transaksi e-commerce Indonesia, sebagaimana diprediksi oleh Bank Indonesia, berpotensi mencapai Rp572 triliun pada akhir 2023.
“Kalau dilihat datanya, sebenarnya ini peluang yang harus dimanfaatkan. Sekarang hanya bermodal smartphone saja, pelaku usaha bisa memperluas pasar dan meningkatkan penjualan tanpa perlu keluar biaya dan energi besar dibanding cara pemasaran konvensional. Jadi, sudah murah, mudah, efektif juga, jadi sangat cocok untuk pelaku IKM,” lanjutnya. (*/rsd)
Artikel ini telah tayang di indonesia.go.id dengan judul Pacu Transformasi Digital lewat Program e-Smart

