Heri, saat di kursi pesakitan di PN Karimun, Rabu (7/2/2017) kemarin. (istimewa)
Heri, saat di kursi pesakitan di PN Karimun, Rabu (7/2/2017) kemarin. (istimewa)

Karimun, Lendoot.com – Heryanto bin Haji Syahlan, tidak menduga akan ditangkap Polisi Daerah (Polda) Kepri pada 29 Desember 2016 lalu.

Heri, saapan akrab warga Tanjungsamak Kabupaten Meranti  Provinsi Riau yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan ini mengaku dijebak pamannya sendiri, Tatan yang saat ini masuk dalam DPO (daftar pencarian orang).

Dari kronologis yang dijelaskan Heri sangat berbeda dengan versi kepolisian. Hal ini terungkap saat Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Karimun, Aditya Rachman saat membacakan Dakwaan disidang perdana di Pengadilan Negeri Karimun, Rabu (7/2/2017).

Dalam dakwaan disebutkan Tatan dan Boy masuk dalam pencarian orang (DPO), padahal menurut Heri Boy turut serta dalam penangkapan dan saat Heri dibawa ke Polda Kepri, Tatan sendiri menurut Mamat, abang kandung Heri sekarang berada di Karimun.

Menurut versi Heri menjelaskan awalnya Tatan menghubungi Heri dengan dalih ingin menjemput uang hasil penjualan Timah ke Tanjungbatu Karimun. Tatan saat itu ingin membayar hutangnya kepada Heri sebesar Rp 30 juta.

Heri tidak merasa curiga dan akhirnya Heri dan Tatan bertemu di pelabuhan Tanjungsamak, Riau.

Menggunakan kapal speed milik Tatan, Heri berangkat sekitar pukul 21.00 WIB bersama 3 orang lainnya. Di dalam speedboat, Tatan mengemudikan kapal sementara Heri duduk disebelah Boy dan satu orang lagi ABK kapal Tatan.

“Diperjalanan saat di wilayah perairan pulau Burung, Tatan meminta saya memegang tas yang sebelumnya dipegang Boy dengan alasan karena gelombang tinggi, air masuk kedalam kapal,” ujar Heri.

Sampai saat itu, Heri mengaku tidak curiga bahkan sampai kapalnya merapat di pelabuhan Selat Beliah, Tanjungbatu.

Heri ingin mengembalikan tas yang dipegangnya kepada Boy, namun Boy menolak dan terjadilah penangkapan.

“Sesudah sampai di Selat belia, saya ingin kembalikan tas kepada Boy, tapi dia menolak dengan alasan dia ingin mengambil minyak dulu. Sementara Tatan masih mengikat kapal, saat saya turun duluan dan disusul Boy, saat saya turun langsung ditangkap Polisi,” jelasnya.

Awalnya Heri tidak tahu yang menangkapnya adalah polisi yang berjumlah sekitar 8 orang, Heri mempertahankan tas tersebut dan akhirnya dia melompat ke laut dan ditembak Polisi.

“Kan saya pikir mereka mau rampas tas itu, karna saya tak tahu mereka Polisi dan apa isi tasnya, saya melompat kelaut dan ditembak,” jelasnya.

Heri Ditangkap, Namun Ia melihat Boy tidak ditangkap sama sekali, sementara Tatan berhasil melarikan diri.

 Selama proses pemeriksaan di Polda Kepri, Heri mengaku dipaksa menandatangai Berkas Acara Pemeriksaan (BAP), Heri tiga kali menolak namun Heri mengaku dipukuli hingga BAP tersebut ditandangani.

“Saya dipukuli dan dipaksa mengaku, karena saya tidak kuat lagi, saya tanda-tangani saja. Saat itu keluarga saya datang menjenguk dan melihat kondisi saya yang sakit akibat dipukuli dan saya jelaskan kepada mereka, tapi keluarga saya tidak dapat berbuat banyak,” ucapnya.

Kronologis berbeda dengan Dakawaan Primair Kejaksaan

Kronologis yang dijelaskan Heri sangat berbeda dengan versi Kepolisian. Hal ini terungkap saat Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Karimun, Aditya Rachman saat membacakan Dakwaan disidang perdana di Pengadilan Negeri Karimun, kemarin, Rabu (7/2/2017).

Dalam dakwaan disebutkan Tatan dan Boy masuk dalam pencarian orang (DPO), padahal menurut Heri Boy turut serta dalam penangkapan dan saat Heri dibawa ke Polda Kepri, Tatan sendiri menurut Mamat, abang kandung Heri sekarang berada di Karimun.

Selain itu, Roy Chandra, Polisi pengangkap Heri disebutkan melakukan penyamaran sebagai pembeli narkoba. Dalam dakwaan dijelaskan bahwa Heri, Tatan dan Boy secara sadar dan mengetahui isi tas adalah narkoba.

Edwar Kelvin R SH, Kuasa Hukum Heri menjelaskan banyak kronologis penangkapan yang tidak dimengerti kliennya. Hal ini berbuntut eksepsi atas dakwaan JPU.

“Diterima atau tidak diterima Hakim, kami mengajukan eksepsi, karena klien kami, Saudara Heri dalam dakwaan JPU banyak yang tidak dimengerti, baik kronologis kejadian yang tidak sesuai menurut klien kami,” ujarnya.

Kevin berharap Hakim dapat lebih hati-hati dan memberikan atensi khusus sesuai hati nurani dalam menentukan putusan nantinya, mengingat ancaman hukuman mati bisa saja terjadi pada Heri.  Kevin berjanji akan menghadirkan saksi-saksi yang dapat membebaskan Heri dari seluruh tuduhan.

“Hakim harus hati-hati dalam kasus ini, ini menyangkut hidup dan mati seseorang, apalagi dalam dakwaan disebut Heriyanto diganjar pidana mati sesuai pasal 114 Ayat 2 undang-undang RI nomor 35 Tentang Narkotika, oleh sebab itu semua saksi akan kami hadirkan sesuai objek dan materi perkara,” ujarnya. (ian)