Site icon Lendoot.com | Trend Berita Karimun Kepri

Megawati di HUT PDI-P, Perjuangan Sulit Perempuan dalam Politik

Menotelis Sularno, Pengurus Nahdhlatul Ulama Kota Batam. (dok pribadi)

Penulis: Menotelis Sularno, Pengurus Nahdatul Ulama Kota Batam

Pidato Ketua Umum PDI Perjuangan Ibu Megawati Soekarno Putri pada HUT ke-50 partai yang dipimpinnya , berdurasi kurang lebih 1 jam 54 menit. Pidato yang sangat panjang tapi tidak membosankan. Putri proklamator itu, menyampaikan pidato seperti seorang ibu yang “nuturi” anak-anaknya.

Tidak hanya senyum, beberapa kali Presiden Jokowi tersorot kamera tertawa mendengar candaan Ibu Mega. Seperti saat menceritakan jawaban “Inggih” nya perempuan Jawa, jika disampaikan dengan penekanan penyampaian dan gestur tubuh tertentu, dipastikan itu dusta. Itu jawaban “tidak” tapi disembunyikan.

Pidato Ibu Mega diawali dengan sejarah berdirinya PDI, hingga kemudian berubah menjadi PDIP. Seluruh yang hadir seakan diajak bernostalgia atas perjuangannya membawa partai yang dalam waktu hampir 10 tahun ini menjadi pemenang di hati rakyat Indonesia.

Masa-masa sulit itu, diceritakan Ibu Mega agar seluruh kader partai dapat mencontoh, betapa militan beliau dalam berjuang menjadikan PDIP sebagai partai besar.

Pada kesempatan ini, Ibu Mega menyebut beberapa kader tua seperti Komarudin, Rahmad serta Rudi Ketua DPC PDIP Kota Surakarta yang ikut serta berjuang bersamanya saat itu.

Meski terlihat sederhana, penyebutan nama-nama tersebut menandakan bahwa Ibu Mega tidak pernah melupakan jasa orang yang turut berjuang, meskipun Ia telah berada dipucuk pimpinan.

Tidak hanya pesan, canda dan tawa, pada pidato Ketua Umum PDIP ini juga diwarnai air mata. Ibu Mega terbata saat mengenang partai yang dipimpinnya mampu mengantarkan sopir truk, wong cilik, kaum termarginalkan menjadi seorang kepala daerah.

Ibu Mega mengingatkan, bahwa dalam struktur partai sangat menghargai mereka yang selalu dekat dengan akar rumput. Rakyat kecil harus merasa terayomi. Tidak boleh menjadikan partai hanya alat untuk berkuasa serta mencari kekayaan pribadi. Jika ada yang demikian, siap-siaplah untuk diusir dari Kandang Banteng.

Yang paling menjadi perhatikan saya dalam pidato Ibu Mega pada HUT PDIP ke-50 ini adalah saat menyampaikan poin persamaan gender. Pada bagian ini, pidato Ibu Mega menurut saya sangat berkelas. Ada pesan didalamnya, bukan hanya sekedar pidato biasa.

Seakan tidak ingin kehilangan momentum, beliau menyebut beberapa pahlawan nasional, pahlawan kemerdekaan, tokoh dunia yang semuanya perempuan. Ibu Mega menekankan, bahwa mereka perempuan tapi bisa berbuat dan diakui dunia.

Dalam tatanan demokrasi di Indonesia laki-laki dan perempuan memiliki persamaan hak dan kewajiban. Bahkan didalam PDIP, perempuan ditantang untuk menjadi seorang pemimpin.

Diakhir pidato, Ibu Mega meresmikan rumah sakit apung untuk wilayah terluar yang diberi nama Laksamana Malahayati, nama seorang pahlawan perempauan.

Selamat ulang tahun PDI Perjuangan, Terima kasih atas pengabdian pada bangsa dan negara ini. (****)

Exit mobile version