Karimun, Lendoot.com – Lahan bekas Pasar Meral lama yang terletak di Kecamatan Meral, Kabupaten Karimun milik PT Cakrawala Bintan Perkasa (CBP) gagal dieksekusi, Kamis (6/12/2018).

Hal ini dikarenakan salah seorang warga Kecamatan Meral, Ahyan mengaku lahan yang berdiri bangunan dijadikan sebagai tempat tinggal itu miliknya.

Romesko Purba SH selaku supervisor lapangan PT CBP mengatakan, lahan yang sudah dilakukan pengambilan batas (pengukuran) oleh Badan Pertanahan Negara (BPN) Karimun seluas 5,238 meter tersebut adalah milik PT CBP.

Kepemilikannya berdasarkan SK Mendagri Nomor 593.24-278 tahun 1998 tentang “Pengesahan Tukar Menukar Tanah dan Bangunan Milik Perusda Tingkat II Kepri Dengan Tanah dan Bangunan Milik Pihak Ketiaga”¬†yaitu PT CBP.

Setelah dilakukan tukar guling, PT CBP membangun pasar baru di Bukit Tembak termasuk fasilitas serta jalannya. Kemudian sertifikat bukti hak beralih nama dari Perusda tingkat II Kepri menjadi PT CBP.

“Bangunan itu berdiri di atas lahan milik PT CBP, kenapa Ahyan mengaku miliknya. Dalam surat pengambalian batas, tanah Ahyan atau istrinya, tidak kena dengan milik PT CBP. Tetapi mengapa dia ngotot miliknya,” katanya.

Romesko juga mengatakan, bangunan yang diklaim Ahyan tersebut adalah bangunan milik Perusda yang sudah diserahkan ke PT CBP.

“Kenapa kita mau robohkan bangunan sendiri dipasang garis polisi (police line) sama polisi, ada apa ini,” ungkap Romi panggilan akrabnya saat diwawancara wartawan.

Dijelaskannya, pihaknya sudah memiliki SK Mendagri yang menyebutkan tanah dan bangunan milik PT. CBP. Waktu penyerahan aset dari Perusda ke PT CBP, sudah dibentuk panitia pelaksananya termasuk pengambilan batasnya.

“Kita tidak tahu apa motif Ahyan. Dia mengaku tanah dan bangunan miliknya, tapi tidak bisa dia buktikan. Kalau memang benar, tunjukkan IMB nya. Kalau kita sudah ada,” ujarnya.

Munurut Romesko, permasalahan ini sudah 1 tahun dilakukan mediasi, namun dari hasil mediasi tersebut tidak membuahkan hasil. Sebab setiap dilakukan mediasi, diakui Romesko Ahyan selalu pergi meninggalkan ruang mediasi.

Dikatakannya lagi, permasalahan tersebut juga sudah dilaporkan ke polisi, tapi sampai sekarang tidak diproses. Begitu juga dengan untuk melakukan pembongkaran sudah beberapa kali diajukan ke Polrea Karimun, tapi tidak direspon.

Romesko Purba SH supervisor lapangan PT CBP memperlihat sertifikat atas kepemilikan lahan bekas pasar meral lama saat diwawancara wartawan.

“Sudah 2 minggu kami melaporkan masalah pengunaan tanah tanpa hak ke polisi tak direspon. Tapi ketika Ahyan membuat laporan, polisi langsung meresponnya. Nah tentu ini menjadi pertanyaan. Masa kita membongkar barang sendiri dipasang police line,” katanya.

Disampaikan Romi, PT CBP memberi waktu selama 2 minggu kepada Ahyan mengajukan pengembalian batas.

“Jika sampai pada waktu tersebut juga tidak mengajukan pengembalian batas, maka bangunan tersebut kita bongkar,” tuturnya.

Sementara, Saiful, kuasa hukum dari Ahyan menyebutkan tanah yang dimiliki kliennya sekitar 7 x 30 meter. Serifikatnya keluar tahun 1982, sedangkan sertifikat PT CBP terbit di tahun 2001.

“Kita tidak ingin permasalahan ini menjadi konflik yang mengakibatkan tidak kondusifnya daerah. Kita ingin masalah ini selesai baik-baik dengan bermusyawarah. Kita tidak mau berperkara, kita maunya selesai dengan baik-baik,” ucapnya. (Parulian Turnip)