Anak punk yang tergabung dalam Kipas saat mendatangi kantor Lendoot,com, siang tadi. (sjs)
Anak punk yang tergabung dalam Kipas saat mendatangi kantor Lendoot,com, siang tadi. (sjs)

Karimun, Lendoot.com – Sikap dewasa ditunjukkan perwakilan komunitas anak punk di Karimun ketika menyikapi permasalahan yang menimpa nama baik mereka.

Rabu (8/2/2017) siang ini, perwakilan anak punk Karimun yang tergabung dalam komunitas Karimun Island Punk And Skinhead (Kipas) mendatangi kantor Lendoot.com.

Kehadiran mereka ingin mengklarifikasi pemberitaan Lendoot.com yang berjudul Sesama Anak Punk Berkelahi di Puakang Karimun! Videonya Viral di Facebook.

Perwakilan Kipas yang hadir dalam pertemuan itu di antaranya; Oon Febrianto dan Bina Koma yang langsung disambut sejumlah awak redaksi lendoot.com.

Pertemuan berlangsung santai dan bersahabat. Oon menjelaskan bahwa yang terlibat perkelahian di Puakang Karimun tersebut, bukanlah anak punk. “Yang berantem kemarin itu bukan anak punk, bang. Itu anak jalanan,” kata Oon yang diiyakan Bina Koma.

Oon menyebut, anak-anak yang terlibat perkelahian itu anak jalanan yang mereka sendiri tidak setuju dan menilainya tidak baik dilalukan.

Anak punk Karimun, katanya, tidak suka melakukan hal-hal seperti yang diberitakan tersebut. Meski bergaya ala pemusik beraliran punk, namun mereka merasa bagian dari masyarakat Karimun juga.

“Sekaligus kami ingin memberikan pengertian ke masyarakat. Meski dandanan kami seperti ini (bertato dan berpakaian khas punk-red), tapi kami yang tergabung di Kipas tidak suka berkelahi atau kegiatan negatif lainnya. Seperti narkoba, kami pastikan komunitas punk kita tak ada,” katanya.

Oon dan Bina mengatakan, anggota Punk yang berada di komunitasnya justeru menjadi benteng dan penyaring kegiatan-kegiatan negatif. “Kalau ada tamu anak punk dari luar, justeru kami meminta agar mereka menghormati adat istiadat daerah kita ini. Makanya, kami berharap persepsi masyarakat terhadap anak punk bisa berubah,” ujarnya.

Oon mengatakan, selain bermusik aliran punk, anggota Kipas juga memiliki pekerjaan dan usaha mandiri. “Anak punk di Kipas ada yang kerja di PT-PT (perusahaan-perusahaan), ada yang buka usaha sablon, ukiran, sesuai keahliannya,” pungkasnya. (sjs)