Ilustrasi anti korupsi. (istimewa)
Ilustrasi anti korupsi. (istimewa)

Kepri, Lendoot.com – Tim penyidik Tindak Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kepri saat ini tengah membidik dua mantan Bupati di Kepri terkait dugaan korupsi semasa mereka menjabat.

Kedua mantan orang nomor satu yang pernah berkuasa di masa tugasnya itu adalah mantan Bupati Kabupaten Kepulauan Anambas (KKA) Drs H Tengku Muhtarudin.

Dia periksa terkait dugaan kasus gratifikasi dana deposito berjangka sebagai investasi jangka pendek dari pihak Bank pada tahun 2012 sebesar Rp 130 dan tahun 2013 sebesar Rp 95 miliar dengan kerugian negara ditaksir Rp 1,2 miliar.

Kemudian, mantan Bupati Natuna  Ilyas Sabli, terkait penyidikan kasus dugaan korupsi Tunjangan Rumah Dinas Ketua dan anggota DPRD Natuna tahun Anggaran 2011 senilai Rp 2 milliar.

Dalam penanganan dua perkara tersebut, tim penyidik Kejati telah memanggil dan memeriksa mantan mantan Bupati Ilyas Sabli, bersama mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU), Minwardi, Kamis (19/1) lalu.

Sedangkan mantan Bupati Kabupaten Anambas, Tengku Muhtarudin dalam waktu dekat juga akan dipanggil dan diperiksa tim penyidik Kejati bersama sejumlah pihak terkait lainnya.

“Kita akan selesaikan secepatnya semua penyidikan berbagai dugaan kasus korupsi yang masih tertinggal selama ini,” kata Kepala Kejati Kepri, Yunan Harjaka SH MH melalui Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus), Feri Taslim SH MH seperti dikutip dari Haluan Kepri.com, Jumat (20/1/2017).

Lebih lanjut, Aspidsus Kejati Kepri ini menyampaikan keseriusannya untuk menyelesaikan penanganan sejumlah penyelidikan dan penyidikan dugaan kasus korupsi yang terjadi di Kepri, termasuk dugaan kasus korupsi gratifikasi dana deposito di Anambas tersebut, sekaligus penetapan siapa tersangkannya.

“Ada beberapa perkara dugaan kasus korupsi yang kita tangani saat ini dan sudah masuk tahap penyidikan. Disamping gratifikasi dana deposito di Anambas tersebut, juga ada penyidikan dugaan kasus korupsi Tunjangan Rumah Dinas Ketua dan anggota DPRD Natuna tahun Anggaran 2011 senilai Rp2 milliar yang merupakan salah satu tunggakan kasus yang ditinggalkan tim penyidik pidsus Kejati Kepri sebelumnya,” ungkap Feri.

Feri mengatakan, pihaknya sedang menggesa dan merampungkan penangan penyidikan dugaan kasus korupsi yang terjadi di Kabupaten Natuna tersebut, sekaligus penetapan tersangkanya. “Kita akan panggil semua pihak terkait lainnya,” pungkas Feri.

Sekedar diketahui, dugaan tindakan melawan hukum penggunaan anggaran APBD Kabupaten Natuna tahun 2011 senilai Rp2 miliar terhadap tunjangan rumah DPRD Natuna tersebut terus dikucurkan saat itu. Namun rumah dinas tersebut tidak pernah ditempati, sehingga timbul adanya dugaan korupsi penggunaan keuangan negara.

Pada tahun 2011 dalam satu bulan, Ketua DPRD Natuna diduga menerima tunjangan rumah sebesar Rp14 juta, termasuk wakilnya sebesar Rp13 juta serta masing-masing anggota DPRD Natuna dimasa itu sebesar Rp 1 juta.

Namun selama lima tahun rumah-rumah tersebut tidak pernah ditempati dan dialiri listrik termasuk air. Sementara dana sewa setiap tahunnya tetap dikucurkan hingga nilainya mencapai puluhan miliar.

Sementara dalam dugaan kasus korupsi gratifikasi dana deposito di Anambas, pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas dalam investasi Jangka Pendek, deposito berjangka, pihak Bank Syariah Mandiri diduga telah memberi hadiah langsung 1 unit Mobil Fortuner untuk salah seorang mantan pejabat di Pemkab Anambas, termasuk sejumlah hadiah lainya berupa 1 unit mobil Toyota Avanza serta 20 unit motor kendaraan roda dua.

“Hal ini sangat bertentangan dengan peraturan dan perundangan yang berlaku, dan kita minta Kejati Kepri dapat mengusut tuntas siapa-siapa pihak yang terlibat dan dinilai telah merugikan keugan negara tersebut,” ungkap Ketua LSM ICTI Kepri, Kuncus.

Namun hal itu dibantah Tengku Muhktarudin saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu, membantah pernah menerima gratifikasi mobil Fortuner dari Bank Syariah Mandiri, terkait deposito investasi jangka pendek yang dilakukan Pemkab Anambas di bank tersebut.

Bahkan Tengku menantang orang yang menuduhnya itu membuktikan tuduhannya. Namun ketika diwawancarai lebih lanjut, Tengku enggan menjelaskan panjang lebar.

“Boleh-boleh saja dia mengatakan begitu. Tapi mana buktinya barang (Mobil Fortuner-red) itu. Sudah ya… ” ucapnya beberapa waktu lalu. (*/sjs)