Kampung Tua Penagi, tak banyak anak muda Natuna kekinian yang mengetahui keistimewaan perkampungan yang dihuni 150 keluarga ini.
Sejarah tentang Kampung Penagi yang terletak di Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau ini hanya diketahui mereka, orang tua asli Natuna yang lahir di bawah tahun 90-an.
Seberapa betapa pentingnya perkampungan kecil di ujung landasan Bandara Raden Sadjad ini bagi mereka yang mengetahui sejarahnya?
Mendalami seluk beluk kampung penagi, penulis menemui sosok lelaki bernama Ronny Kambey, di salah satu kedai kopi di ranai. Ia adalah tokoh masyarakat Kampung Penagi, yang akhirnya berbagi cerita dengan kami.
“Diceritakan Ayah Saya. Jauh sebelum Kemerdekaan RI, Pelabuhan Penagi merupakan pintu masuk ke Pulau Bunguran. Kapal-kapal dagang yang melintas Laut China Selatan, akan singgah ke Penagi sebelum melanjutkan perjalanan ke kawasan lain,” kata Ronny membuka cerita.
Seiring waktu, lanjut Ronny, perkampungan nelayan ini makin ramai tidak hanya dihuni orang Melayu sebagai suku asli Pulau Bunguran tetapi juga warga China yang datang dengan kapal “toa ko” (kapal besar) dari China daratan.
Rombongan warga China ini ada yang menetap di Penagi, ada juga melanjutkan perjalanan ke Sedanau dan Pulau Midai.
“Itulah asal mula banyak warga Tionghoa di Penagi, ” ucap Ronny, diiringi dengan beberapa tegukan kopi.
Kini kondisi Penagi jauh berubah. Hal ini terjadi seiring dengan terbentuknya Kabupaten Natuna tahun 1999 dengan ibukota Ranai. Perlahan tapi pasti, terjadi pergeseran pusat ekonomi dari Penagi ke Ranai sebagai ibukota Kabupaten Natuna.
Maka jadilah Penagi yang kini semakin menua dan tak mampu berlari mengikuti perkembangan zaman. Namun menurut Ronny, kampung penagi memiliki kelebihan yang harus dibanggakan dan ditiru setiap orang.
“Warga Melayu, Tionghoa maupun suku lain sudah puluhan tahun hidup di Penagi, tapi tak pernah ada konflik, ” ucapnya bangga.
Kerukunan Penagi bukan sekedar isapan jempol belaka, hal itu bisa dilihat dari rumah ibadah yang turut ‘hidup’ berdampingan, yakni Kelenteng Pu Tek Chi dan Surau Al Mukoramah.
Kendati bersebelahan, tidak pernah terdengar umat Kong Hu Chu yang terganggu dengan suara azan, ataupun muslim di sebelahnya yang terganggu dengan hiruk pikuk klenteng. Sebuah toleransi umat beragama yang patut diapresiasi setinggi-tingginya.
“Kalau ada isu perselisihan kita berembuk tokoh masyarakat dan aparat lingkungan. Bentrok terjadi karena kita tidak antisipasi. Makanya kalau ada isu sedikit kita langsung action, ” ujar Ronny, ‘membocorkan’ tips menjaga kerukunan di Kampung Penagi.
Alasan keamanan warga setempat, juga pernah membuat Kampung Penagi sempat diusulkan untuk di relokasi. Pasalnya, kampung ini persis berada di ujung landasan sebelah selatan Bandara Raden Sadjad, sehingga dikhawatirkan terjadi hal tak diinginkan.
Namun pria kelahiran tahun 1952 ini dengan lantang menolak. Bagi ia dan warga lainnya, Kampung Penagi merupakan harta tak ternilai dan bersejarah bagi kehidupan mereka.
“Dulu banyak bom Jepang tak meledak di Penagi. Saya SMP, main di atas bom itu, karena gak tau bom itu aktif, jadi kami buat ketok umang-umang. Rupanya waktu ada tim Brimob datang, diperiksa bom itu aktif, tapi sekarang sudah diangkat, ” ujar Ronny sambil tertawa lepas, mengingat masa kecilnya.
Ditanya apa harapannya bagi Penagi, Ronny hanya meminta Pemerintah Daerah Natuna, membantu menjaga sejarah Penagi dan menghidupkan perekonomian kampung tua ini. (*/alf)

