Wakil Komisi Pengawasan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kepri, Ery Syahrial (kiri) ketua IWO Karimun, Rusdianto (tengah) saat mengunjungi kantor SADO siang tadi
Wakil Komisi Pengawasan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kepri, Ery Syahrial (kiri) ketua IWO Karimun, Rusdianto (tengah) saat mengunjungi kantor SADO siang tadi (Istimewa)

Karimun, Lendoot.com – Ketika Dinas Pendidikan Karimun malu dengan kondisi banyaknya siswa sekolah yang terindikasi mengkonsumsi Narkoba, Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kepri justru serius menanggapinya.

Bukti keseriusannya, Wakil Komisi Pengawasan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kepri, Ery Syahrial secara langsung turun ke kantor IPWL Kementerian Sosial RI-Yayasan Rehabilitasi Sosial SADO di Ruko Balai Garden, Selasa (19/9/2017).

Ery menegaskan Pemkab Karimun, Pemprov Kepri dan BNN harus cepat tanggap menangani kasus ini dengan serius. Maka dari itu, kata Ery, semua pihak perlu melakukan kerjasama yang baik.

“Untuk menangani hal ini kita butuh kerjasama di semua instansi, agar dapat berupaya memperkecil angka pengguna narkoba di kalangan pelajar. Pemkab Karimun harus cepat, karena ini masalah serius,” pintanya.

Sementara itu, Ketua IWO (Ikatan Wartawan Online) Karimun, Rusdianto yang juga mengaku serius terkait fakta yang terjadi tersebut. Bersama KPPAD, Rusdianto mendatangi Kantor Yayasan SADO. Menjawab tantangan Bupati Karimun, Aunur Rafiq yang meminta IWO Karimun turut gencar memberitakan tentang narkoba, Rusdianto juga mengungkapkan keprihatinannya.

“Berdasarkan data dari Yayasan SADO, kondisinya sangat parah. Peranan Satpol PP merazia pelajar yang keluyuran di jam sekolah. Begitu juga dengan pihak kepolisian, lebih intensif lagi dalam kegiatan intelijennya. Tapi, pengawasan ketat dari orang tua sngat penting,” tegasnya.

Dalam kunjungan tersebut, Pembina IPWL Kementerian Sosial RI-Yayasan SADO, Linda Theresia kembali memaparkan kondisi memperihatinkan tersebut.

Dari tiga SMP sebanyak 110 siswanya dites uji Narkoba. Dan, sekitar 50 persennya adalah pengguna Narkoba. “Parahnya lagi, 20 persennya positif menggunakan sabu-sabu,” jelasnya.

Sehari sebelumnya, Kadisdik Karimun Bakri Hasyim beserta stafnya juga mendatangani kantor Yayasan SADO tersebut. Hanya saja, bukan ingin mencari akar permasalahan, kedatangan Kepala OPD (organisasi perangkat daerah) yang menangani pendidikan itu justeru kecewa karena Yayasan SADO dituding membuka aib pendidikan di daerah ini.

“Kalau Kadisdik kemari kemarin itu terkesan malu atas kondisi yang terjadi,” kata Linda. (sjs/iyan)