Raja Arab Saudi, Salman Bin Abdulaziz Al Saud. (ist/net)
Raja Arab Saudi, Salman Bin Abdulaziz Al Saud. (ist/net)
Lendoot.com – Berbicara tentang Raja Arab Saudi, Salman Bin Abdulaziz Al Saud yang heboh saat mengunjungi Indonesia, ada yang menarik tentang fesyen yang dikenakannya.
Seluruh Raja Arab hingga kini Raja Salman, terlihat selalu mengenakan fesyen serupa. Jubah panjang, yang dilengkapi dengan penutup kepala. Dan fesyen tersebut diikuti oleh hampir seluruh kaum lelaki Arab Saudi.
Sebetulnya bagaimana sejarah fesyen Raja Arab?
Jubah panjang yang dikenakan Raja Arab bernama bisht. Jubah ini terbuat dari wol, kebanyakan berwarna putih dan krem.
Bisht berasal dari Persia. Awalnya dikenakan sebagai pakaian musim dingin oleh suku pedalaman.
Tapi kini, bisht menjadi tren baru. Sebuah tren untuk menunjukkan tingkat sosial individu di Arab. Orang-orang berpangkat tinggi, seperti raja, pejabat, pengusaha, selalu mengenakan bisht tiap harinya.
Sementara bisht juga kerap digunakan oleh lainnya untuk acara pernikahan, wisuda dan Idul Fitri. Abu Salem, desainer terkenal di Arab Saudi mengatakan kalau bisht muncul saat saudagar Persia melakukan ibadah Haji.
“Kini daerah Al-Ahsa menjadi pusat bagi para penjahit terbaik bisht di Arab. Sudah 200 tahun lamanya, para penjahit secara turun temurun menjahit bisht kualitas terbaik,” ujarnya.
Abu Salem memaparkan, ada tiga jenis bordir yang digunakan untuk membuat bisht. “Ada jahitan emas, perak dan sutra. Benangnya disebut zari, berwarna emas dan perak pada umumnya. Harganya bisa mencapai jutaan, tergantung kain, jahitan, warna dan model,” ujar Abu Salem.
“Ada tiga jenis bisht utama, yaitu Darbeyah, Mekasar dan Tarkeeb,” dia menambahkan.
Darbeyah adalah buatan tangan dengan bordir dan pola tradisional. Gayanya adaah persegi dan longgar. Mekasar juga dikenal sebagai Gasbi, memiliki bordir sutra di sepanjang tepi kain.
Adapun Tarkeeb berarti busana yang pas dengan tubuh, dan dibuat dengan bordir emas. “Membuat bisht diperlukan ketelitian dan keterampilan. Membutuhkan kesabaran juga waktu sangat lama, tergantung pada gaya dan desain. Satu penjahit membutuhkan waktu sekitar 80-120 jam untuk membuat bisht.
Selain bisht, Raja Arab juga mengenakan ghutra sebagai penutup kepala. Guthra merupakan penutup kepala tradisional yang berfungsi sebagai pelindung panas dari gurun dan terik matahari.
Ghutra memiliki igal, yang merupakan tali berwarna hitam. Fungsinya adalah untuk menahan ghutra agar tidak jatuh, saat seseorang berjalan.
Ghutra yang paling populer saat ini adalah berwarna merah dan putih dengan corak kotak-kotak.
Latar belakang Ghutra sejauh ini masih menjadi kontroversi. Sebagian menganggap ghutra telah dikenakan oleh masyarakat Arab kuno, lalu, sementara lainnya menganggap kemunculan ghutra sekitar 50 tahun lalu.
“Saya tidak pernah melihat orangtua pada 50 tahun lalu memakai ghutra. Ayah saya dan generasi sebelumnya pun tidak memakai ghutra,” kata Saleh Al-Otaibi, seorang sejarawan.
“Dalam kata lain, ghutra baru muncul sekitar 50 tahun yang lalu,” ujarnya.
Dia menjelaskan bahwa ghutra bukanlah bukanlah satu-satunya penutup kepala yang digunakan masyarakat Arab. “Ada beberapa tutup kepala berbeda yang dikenakan di sejumlah negara Arab. Ada kalansuwa, sorban, imamah dan keffiyeh,” katanya.
Saat ini, selain ghutra, masyarakat Arab juga kerap mengenakan keffiyeh yang turut disebut shemagh. Warna keffiyeh yang paling umum adalah putih dengan igal hitam.
Hebatnya, ghutra dan keffiyeh tak cuma diminati masyarakat Arab. Masyarakat di berbagai negara juga sudah mengenakan ghutra dan keffiyeh sebagai tren baru. Sejumlah lelaki di Tokyo, Paris dan London banyak mengenakan ghutra dan keffiyeh dalam aktifitasnya sehari-hari. (*)