Penulis: Ira Abemesti, Mahasiswa Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Universitas Karimun
Assalammualaikum, izinkan Saya membagikan pandangan saya mengenai sosok pemimpin harapan saya, Tulisan ini Saya buat untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen Saya Bapak M Taufik Razali Sip Msi.
Sebelumnya saya Mohon maaf apabila dalam artikel ini ada kesalahan atau pandangan yang berlebihan, saya sadar tulisan ini masih jauh dari kata sempurna oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun senantiasa saya nantikan agar menambah wawasan kita bersama.
Sosok pemimpin harapan saya adalah seseorang yang memiliki kemampuan yang berkaitan dengan aspek panutan, pengayoman, dan pengambilan keputusan. Pemimpin berdiri di baris terdepan dalam menciptakan terwujudnya kesejahteraan masyarakat.
Meskipun Persepsi awal masyarakat terhadap tokoh yang diyakini sebagai sosok pemimpin ideal kerap terpatahkan dengan pola kebijakan yang diambil setelah terpilihnya figur tersebut sebagai pemimpin.
Hal ini berlaku pula dalam semua level kepemimpinan yang dipimpinnya. Potret sosial ini cukup beresiko sebab menyimpan bahaya laten berupa timbulnya kekecewaan rakyat terhadap pemimpin.
Artikel ini bertujuan mendeskripsikan figur pemimpin ideal yang saya dambakan. Pemimpin sebenarnya juga adalah seorang “pemimpin” yangmampu menjawab tantangan zaman yang dirindukan kehadirannya secara konsisten di lingkungan masyarakat seperti integritas, keadilan, dan tanggung jawab.
Pemimpin yang positif mampu menciptakan optimisme masyarakat dalam menatap masa depan. Kepemimpinan yang dilandasi oleh fondasi karakter berbudi luhur sangat diperlukan dalam menghadapi dinamika zaman yang cepat berubah.
Konsep Pemimpin Ideal yang sesuai dengan Corak kehidupan masyarakat Indonesia yang identik dengan dimensi perjuangan dalam hal ini bermakna luas seperti lingkup ekonomi, sosial, hingga politik.
Kehidupan bangsa di Indonesia selama era kolonialisme Barat dan penjajahan Jepang sesungguhnya telah memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memikirkan fase kehidupan yang lebih menggembirakan.
Kekejaman pihak kolonial yang memeras tenaga masyarakat dengan aneka peraturan kontroversial dan menciptakan potret kehidupan yang jauh dari kata layak telah menimbulkan bibit harapan terhadap datangnya hari di mana kolonialisme tumbang.
Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan kerja keras dan kerja cerdas yang tidak mudah. Selain itu faktor pemimpin yang mampu mengakomodir perjuangan rakyat turut menjadi impian.
Harapan saya terhadap adanya pemimpin semakin mengemuka ketika kesadaran bangsa mulai terbentuk di masa pergerakan nasional. Bermunculannya golongan terpelajar yang disertai organisasi seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, Indische Partij, Perhimpunan Indonesia, PNI, dll, telah mendorong terbukanya optimisme kemerdekaan mengingat terdapat banyak anak muda berbakat dengan potensi cemerlang.
Organisasi-organisasi tersebut memiliki corak pergerakan yang tidak sepenuhnya homogen namun memiliki satu tujuan yakni mencapai Indonesia merdeka. Eksistensi organisasi memperoleh hadangan hebat dari pemerintah kolonial Belanda.
Dipenjarakannya tokoh-tokoh penyeru kemerdekaan menunjukkan bahwa Belanda terganggu dengan aksi organisasi pergerakan nasional. Hal ini menimbulkan citra dalam penglihatan masyarakat bahwa para tokoh yang dikenai sanksi oleh Belanda telah menunjukkan sifat kepemimpinan yang sejati.
Kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan apa yang diucapkan secara verbal, melainkan juga terletak pada apa yang dilakukan secara nyata. Usai kemerdekaan diraih pada tahun 1945 dan dikuatkan kedaulatannya melalui Konferensi Meja Bundar.
konsep ideal seorang pemimpin bergeser dari semula ke aspek kemerdekaan menjadi ranah kompetensi mengelola negara. Poin yang terakhir ini sangat relevan untuk menjadi acuan hingga saat ini mengingat kompleksitas urusan negara memerlukan pemimpin yang handal.
Seorang pemimpin diharapkan sekaligus dituntut untuk mampu menuntaskan permasalahan seluruh bidang kehidupan rakyatnya. Pemimpin tidak hanya jago di satu bidang saja namun keteteran di bidang lainnya.
Kecakapan dari pemimpin idealnya merata di semua lini. Dalam diri Soekarno, kehebatannya dalam memimpin di ranah politik tidak diragukan. Kebijakan politik domestik dan internasional di masa pemerintahannya tidak hanya menciptakan rasa percaya di benak rakyat namun juga membuat Indonesia disegani di mata dunia.
Amerika Serikat yang berambisi menjadi negara nomor satu saat Perang Dingin turut mengakui keampuhan Soekarno dalam mengelola Negara. Sayangnya hal ini kurang terlihat dalam hal lain seperti perekonomian.
Dunia ekonomi era Orde Lama dapat dikatakan kurang mengkilap. Indonesia jauh dari kata sejahtera Negara seharusnya menjamin aspek peribadatan setiap warganya dengan optimal.
Berpijak dari salah satu insiden tersebut, masyarakat menilai bahwa kemampuan untuk berani bersikap berseberangan dengan pihak mayoritas adalah tantangan zaman yang kerap muncul.
Berani karena benar dan takut karena salah pada kenyataannya belum terwujud nyata di kehidupan negeri ini. Karakteristik, mentalitas, dan keteguhan hati dari seorang pemimpin diperlukan dalam menjawab setiap tantangan zaman.
Dari semuanya, Saya berkesimpiulan, setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Berkembangnya zaman menyebabkan semakin meningkatnya kompleksitas permasalahan di kalangan masyarakat yang memerlukan penyelesaian.
Kehadiran sosok pemimpin yang mampu menjadi penyelesai masalah didambakan oleh masyarakat. Konsep pemimpin ideal pada dasarnya menitikberatkan pada kecakapan dan karakteristik yang melekat pada diri pemimpin.
Figur pemimpin yang berintegritas, adil, dan bertanggung jawab menjadi gambaran keidealan diri pemimpin yang dipandang dari perspektif masyarakat. Dalam angmenjalankan roda kepemimpinan sebaiknya pemimpin yang mampu menjaga independensinya dari faktor-faktor yang mampu mempengaruhi kebijakan strategis seperti tekanan partai politik dan golongan mayoritas.
Pemimpin yang senantiasa dicintai masyarakatnya adalah pemimpin yang mampu mengemban amanat rakyat. (****)

