Batam – Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mengambil langkah strategis untuk mendorong pelaku usaha dan UMKM memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi yang sangat positif di daerah ini. Melalui ajang Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2025 yang digelar di One Batam Mall pada 21–24 Agustus 2025, BI membuka peluang besar bagi UMKM untuk menembus pasar ekspor dan meningkatkan daya saingnya.
Gebyar Melayu Pesisir pertama kali diselenggarakan pada 3 Maret 2021, dan tahun 2025 ini merupakan GMP ke-6. Mengusung tema “Akselerasi Ekspor menuju Kemandirian Ekonomi yang Berkelanjutan,” GMP 2025 menjadi wadah penting bagi pelaku usaha lokal. Pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan II 2025 mencapai 7,14%, tertinggi se-Sumatera. Kepala BI Kepri, Rony Widijarto, menegaskan bahwa angka ini adalah peluang emas yang harus dimaksimalkan.
“Pertumbuhan ini bukan hanya angka, tapi sinyal kuat bagi pelaku UMKM agar segera mengakselerasi ekspor dan memperluas jaringan pasar mereka hingga ke tingkat global,” ujar Rony dalam bincang media, Jumat (15/8/2025).
Pameran dan Dukungan Pemerintah untuk UMKM
Rangkaian kegiatan GMP 2025, seperti Fashion Show, Talkshow, Business Matching, dan pameran UMKM yang menampilkan produk fesyen bermotif Melayu, kerajinan tangan, dan kuliner khas, menjadi kesempatan emas untuk memperkuat ekosistem usaha lokal. Pameran yang berlangsung setiap hari dari pukul 10.00–22.00 WIB ini juga menjadi jembatan penting antara UMKM dengan investor dan pembeli potensial, termasuk dari Singapura dan Malaysia.
Bank Indonesia mencatat, UMKM di Kepri adalah tulang punggung ekonomi daerah yang menyerap tenaga kerja besar, tetapi nilai tambahnya masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, GMP 2025 diharapkan melahirkan pelaku usaha yang mandiri, inovatif, dan berdaya saing global.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kepri, Riki Rionaldi, menegaskan Pemerintah Provinsi bersama BI dan seluruh kepala daerah terus berkolaborasi. Pemprov Kepri tahun ini mendapatkan Dana Alokasi Khusus (DAK) nonfisik Rp13,3 miliar dari APBN, yang difokuskan untuk pelatihan, pendampingan, serta peningkatan kapasitas 3.600 pelaku usaha.
Selain itu, Pemprov Kepri juga meluncurkan Koperasi Merah Putih di desa dan kelurahan sebagai motor penggerak ekonomi baru. Dari 419 desa/kelurahan, sudah ada 47 koperasi berbadan hukum yang menjadi percontohan nasional.
Pengembangan UMKM juga diarahkan pada hilirisasi hasil laut bernilai tinggi, seperti pengolahan teripang dan gonggong untuk industri kosmetik dan kesehatan, dengan dukungan riset dari SMK perikanan setempat. Hal ini memastikan usaha berbasis sumber daya lokal berkembang secara berkelanjutan.
“Ini saat yang tepat bagi UMKM Kepri untuk bangkit, berinovasi, dan menjadi kekuatan ekonomi baru yang mampu membawa kemakmuran berkelanjutan,” tutup Rony. (rst)

