Kuasa hukum PT ADS, Oktavianus Setiawan menunjukkan surat laporan baru berupa tindak pemalsuan tanda tangan dan dokumen serta dugaan penipuan yang dilakukan Zu
Kuasa hukum PT ADS, Oktavianus Setiawan menunjukkan surat laporan baru berupa tindak pemalsuan tanda tangan dan dokumen serta dugaan penipuan yang dilakukan Zu (ian)

Karimun, Lendoot.com – Kasus perampasan dan pencurian aset PT ADS oleh Sf dan Bd serta tiga rekannya beberapa waktu lalu berlanjut.

Kali ini pihak PT ADS melalui kuasa hukumnya, Oktavianus Setiawan melayangkan dua laporan baru berupa tindak pemalsuan tanda tangan dan dokumen serta dugaan penipuan yang dilakukan Zu ke Polres Karimun.

Kuasa hukum PT ADS, Oktavianus Setiawan mengatakan laporan itu dibuat setelah pihak PT ADS menemukan adanya surat perjanjian kerjasama antara tersangka Sf dan Budi dengan Zu.

Zu sendiri merupakan orang yang diduga membuat surat perjanjian palsu dengan mengatasnamakan PT ADS dengan dibubuhi tandatangan palsu.

“Kami baru mengetahui ada surat perjanjian yang ada sama Sf, setelah kami dimediasi oleh Polres dengan. Di surat itu mengatasnamakan direktur ADS. Tapi setelah di kroscek ternyata bukanlah tandatangan direktur dan kop surat bukan milik perusahaan. Ditambah dengan keterangan Sf mengenai terjadinya perjanjian alasan kami membuat laporan baru hari ini,” kata Oktavianus, Kamis (2/11/2017) kemarin.

Menurut Oktavianus, Zu bukanlah siapa-siapa di perusahaan ADS. Meskipun sebelumnya pihak perusahaan pernah berjumpa dengan Sf melalui Zu untuk membicarakan kerjasama. Namun karena tidak adanya kesepakatan maka kerjasama tersebut tidak jadi terjalin.

“Zu itu bukan dari pihak perusahaan. Jadi tidak ada hubungan kerjasama apa dengan perusahaan,” ucapnya.

Sebelumnya Sf, beserta empat pria yang masing-masing berinisial Bu, Ja, Ro dan S telah diamankan polisi karena diduga melakukan tindak perampasan ratusan kunci kamar dan dua unit mobil operasional milik PT ADS yang bergerak di bidang penyewaan gedung bagi karyawan di Desa Pangke Barat.

Tindakan ini dilakukan oleh kelima orang tersebut dikarenakan Sf dan Bu merasa PT ADS memiliki hutang loundry dan katering dengan total Rp 550 juta selama delapan bulan. Pada bulan Juni 2017, Sf mendatangi kantor PT ADS dan merampas sebanyak 120 kunci kamar sewaan sebagai jaminan pembayaran uang tersebut.

“Akibat kunci ini diambil, jangankan untuk operasional, untuk membersihkannya saja kami jadi tidak bisa. Jika dihitung berdasarkan sewa termurah saja kami sudah rugi sekitar Rp 6 miliar,” ujar Oktavianus.

Selanjutnya pada Juli 2017 Sf kembali datang bersama empat rekannya dan membawa satu unit mobil Inova milik PT ADS. Karena merasa tak ada itikad baik dari para pelaku, pihak perusahaan membuat laporan polisi ke Polres Karimun pada 16 Agustus 2017.

Meski demikian pada tanggal 15 September 2017, SP, BD beserta tiga rekannya yang lain kembali nekad mendatangi PT ADS dan mengambil lagi satu unit mobil Hilux.

“Para pelaku ini telah melakukan dugaan tindak pidana perampasan dan pencurian dengan kekerasan sebanyak tiga kali, yang keseluruhannya diambil dari kantor PT ADS. Juga terjadi beberapa bahasa ancaman sampai menakuti karyawan. Mereka menagih hutang, tapi kita tidak tau jika ada hutang itu,” ujar Stefanus. (ian)